Saturday, January 15, 2011

ANAK SEBAGAI MASA DEPAN KEHIDUPAN; SUATU TELAAH DALAM UPAYA MEWUJUDKANNYA



Pendahuluan
Diakui atau tidak, anak adalah sosok harapan orangtua, masyarakat, bahkan seluruh umat manusia. Singkatnya, anak adalah masa depan kehidupan. Syaratnya, secara filosofis anak yang dimaksud harus memiliki kepekaan sosial, kualitas inteligensi yang tinggi, dan menyandang pelbagai sifat luhur. Hal ini, bagi kebanyakan orangtua dalam masyarakat kita telah diketahui namun mereka menutup mata terhadap keharusan dirinya untuk mewujudkan syarat tersebut. Dengan perkataan lain, orangtua hanya tahu bahwa anak adalah masa depan kehidupan, tapi tidak mau tahu terhadap tuntutan yang terkandung dalam pengetahuannya itu atau apa yang menjadi kewajibannya untuk dapat menghantarkan anak menjadi masa depan kehidupan.
Dalam hubungan tersebut, indikatornya dapat diamati dan ditemukan dalam realitas kehidupan sekarang dimana pada umumnya orangtua dalam masyarakat kita dengan sangat ambisius berusaha “menyeret” anak kepada kehendaknya untuk menjadikannya kelak menyandang gelar dan jabatan bergengsi serta berduit tanpa mau mengenal dan memahami perasaan, kebutuhan, serta keunikan anak, padahal mereka pernah jadi anak-anak.
Realita ini pantas disesali dalam-dalam karena pola pendidikan yang diterima anak bukannya “menyeret” anak untuk maju dalam arti untuk mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya, tetapi malah membawa anak kepada makna maju yang jauh berdelokasi pada substansi yang semakin mengaburkan jati diri anak sehingga semakin memprihatinkanlah pola pendidikan yang diterapkan pada anak. Padahal menurut pakar kejiwaan/psikolog, pola pendidikan yang diterapkan pada anak sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan sang anak, bahkan pengaruh pendidikan mampu mengalahkan pengaruh genetika. Misalnya, seorang anak yang terlahir dari rahim ibu dengan mewarisi gen yang “bengkok” masih mungkin tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang bajik-bijak apabila sejak masa kanak-kanak dididik dengan benar dan manusiawi. Demikian pula sebaliknya.
Berdasarkan uraian di atas, secara hipotetik dapat dikatakan bahwa anak sebagai masa depan kehidupan secara sentralistik dapat terwujud apabila pola pendidikan yang diterima anak sesuai dengan eksistensi anak itu sendiri. Karena itu, paradigma orangtua yang selama ini terkesan memaksa anak kepada keinginan orangtua sudah harus ditinggalkan. Dalam kaitan tersebut, setidaknya terdapat tiga aspek yang perlu dipikirkan dan dikaji, yaitu : 1) apa, siapa, dan mengapa anak perlu dididik, 2) bagaimana seharusnya anak dididik, dan 3) siapa yang bertanggungjawab atas pendidikan anak.

Apa, Siapa, dan Mengapa Anak Perlu Dididik
Anak adalah masa depan kehidupan. Artinya sesungguhnya dalam diri anak terdapat potensi tersembunyi yang kelak akan berharga dalam kehidupan ini. Selanjutnya anak adalah makhluk ciptaan Allah yang tersusun dari jasad dan ruh, artinya bukan hanya tubuh yang dimiliki oleh anak tetapi juga perasaan dan potensi spiritual, sehingga bukan hanya kesehatan tubuh anak yang harus diperhatikan tetapi perasaan dan potensi spritualnya juga harus dibimbing dan dikembangkan di jalan kesempurnaan.
Benang merah yang dapat ditarik dari dua hal ini adalah kita perlu menyadari bahwa anak secara fitrah lahir dengan membawa potensi yakni anak sebagai manusia yang harus dimanusiakan. Karena itu, anak perlu dididik dan ini harus dimulai sejak periode kanak-kanak mengingat pada diri anak terdapat kemampuan menangkap dan mengikuti serta kepekaan menerima ilmu yang masih sangat kuat dalam periode kanak-kanak. Pakar kejiwaan/psikolog dalam kaitan ini berpendapat bahwa:
a)Usia kanak-kanak adalah usia yang paling penting dalam tahap perkembangan manusia, sebab usia ini merupakan periode diletakkannya dasar struktur kepribadian yang dibangun untuk sepanjang hidupnya. Maka dari itu perlu pendidikan dan pelayanan yang tepat.
b)Usia kanak-kanak merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang didapat pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan pada periode berikutnya hingga masa dewasanya. Periode ini hanya datang sekali dan tidak dapat ditunda kehadirannya, sehingga apabila terlewat berarti habislah peluangnya.
c)Usia kanak-kanak merupakan kesempatan emas bagi anak untuk belajar dan memperoleh pengalaman, sebab rasa ingin tahu anak pada usia ini berada pada posisi puncak dan tidak ada usia sesudahnya yang menyimpan rasa ingin tahu melebihi usia dini. maka dari itu kesempatan ini hendaknya dimanfaatkan sebaik mungkin dalam proses perkembangan anak.
d)Ditinjau dari aspek perkembangan, maka perkembangan fisik dan mental di usia kanak-kanak mengalami kecepatan yang luar biasa.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa pendidikan anak sejak dini mempunyai kontribusi yang sangat besar bagi pengembangan diri anak serta menentukan sejarah perkembangan anak selanjutnya dan dapat dijadikan sebagai cermin untuk melihat bagaimana keberhasilan anak di masa mendatang sebagai generasi masa depan. Karena itu, masa kanak-kanak tidak boleh dibiarkan tanpa pendidikan.

Bagaimana Seharusnya Anak Dididik
Usia dini merupakan kesempatan emas bagi orangtua untuk membimbing dan mendidik anak, namun yang perlu diperhatikan adalah mendidik yang dimaksudkan bukan untuk mengejar prestasi tetapi mendidik dalam artian memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak agar mampu mengembangkan potensi yang dimiliki secara optimal baik jasmani maupun rohani.
Seperti dipahami bersama, anak memiliki karakter yang khas. Karena itu, pola pendidikan yang diterapkan perlu disesuaikan dengan kekhasan yang dimiliki oleh anak supaya tidak menghilangkan jati diri anak tersebut. Selain itu, pendidikan yang tepat dan sesuai dengan karakter anak akan dapat memfasilitasi perkembangan berbagai potensi dan kemampuan anak secara optimal.
Berdasarkan hal itu, cara mendidik anak hendaknya pertama, berpusat pada anak. Maksudnya, cara mendidik yang diterapkan berpegang pada prinsip kebutuhan dan kondisi anak, bukan berdasarkan keinginan orangtua. Jadi orangtualah yang harus menyesuaikan diri terhadap kebutuhan anak, bukan sebaliknya anak yang menyesuaikan diri terhadap keinginan orangtuanya. Dengan demikian, anak memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif baik fisik maupun mentalnya. Kedua, fleksibel. Maksudnya, cara mendidik diterapkan dengan prinsip dinamis tidak berstruktur dan disesuaikan dengan kondisi dan cara belajar anak yang memang tidak terstruktur karena kondisi anak yang cenderung berubah-ubah sehingga anak akan sering beralih dari satu kegiatan kepada kegiatan lainnya. Karena itu, biarkan anak belajar dengan cara yang ia suka, tugas orangtua mengarahkan dan membimbing anak berdasarkan pilihan yang anak tentukan.
Selain dari konsep yang berorientasi pada penanaman ilmu pengetahuan di atas, terdapat satu konsep sederhana yang mesti ditanamkan dalam mendidik anak sebagai proses memanusiakan manusia sehingga anak tumbuh dan berkembang layaknya “nature” manusia itu sendiri sebagai khalifah Allah adalah dengan menanamkan benih-benih kemuliaan dan keimanan pada masa-masa awal pertumbuhan dan perkembangan anak.
Konsep terakhir ini merupakan sayap kuat yang dapat menerbangkan manusia kepuncak kemanusiaan. Di mana dengan ilmu pengetahuan manusia maju dan melangkah ke arah kesempurnaan, dan dengan iman serta sifat-sifat mulia terciptalah lingkungan yang baik. Dengan perkataan lain, pembentukan iman dan amal tanpa dibarengi ilmu pengetahuan hanya akan menjauhkan anak dari jalan kesempurnaan dan kemajuan, pengetahuan akan kebenaran akan lenyap dalam tubuh anak semacam itu. Dan dalam kondisi demikian, anak tak akan pernah berhasil menapaki kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Begitu pula jika ilmu pengetahuan berkembang, namun tidak disertai dengan peningkatan kualitas iman dan amal maka yang nampak ke permukaan hanyalah egoisme dan kekejian belaka. Anak semacam ini akan dikuasai sifat tamak dan rakus, serta mudah terjatuh dalam perampasan hak-hak orang lain. Ringkasnya, apabila kecerdasan (ilmu) tidak disertai dengan iman dan amal, maka akan sangat berbahaya. Kecerdasan tidak hanya menyeret manusia ke arah materialisme semata, namun juga ke arah sifat-sifat kebinatangan.
Konsep iman dan amal ini dapat ditanamkan pada anak dengan menjadikan dirinya merasakan keberadaan Sang Pencipta dan memiliki keimanan kepada-Nya melalui bahasa yang sederhana dan mudah dicerna. Ini penting karena, dalam batin setiap manusia dalam fitrah alamiahnya terdapat kebutuhan iman kepada Allah. Karena itu, tatkala penalaran indrawi anak mulai aktif bekerja, dan rasa ingin tahunya mulai menggeliat, sang anak akan menanyakan sebab-sebab dan sumber segala sesuatu. Jiwanya yang suci dan belum tercemari itu telah siap menerima keimanan (keyakinan) terhadap pencipta alam semesta.
Orangtua harus memanfaatkan potensi fitrah ini dan memberi pemahaman kepada sang anak bahwa pencipta semua makhluk dan pemberi rezeki adalah Allah. Sesungguhnya Allah mengawasi perbuatan kita setiap saat, serta memberi pahala atas perbuatan baik kita dan mengganjar dengan siksaan atas perbuatan buruk kita. Ucapan ini tentunya sangat mudah dimengerti anak. Ya, sang anak akan mengimani dan meyakini keberadaan Allah selama beberapa waktu. Melalui metode ini, kita juga dapat menumbuhkan perasaan cinta terhadap peraturan dan melaksanakannya dalam diri sang anak.

Siapa yang Bertanggungjawab atas Pendidikan Anak
Pada kenyataannya, sekolah pertama untuk pendidikan anak adalah keluarga sedangkan pendidik pertama bagi anak adalah orangtua, sebab orangtua melalui pendidikan dalam keluarga merupakan lingkungan pertama yang diterima anak, sekaligus sebagai pondasi bagi pengembangan pribadi anak, bahkan orangtua adalah kunci utama keberhasilan anak karena orangtualah yang pertama kali anak pahami sebagai orang yang memiliki kemampuan luar biasa di luar dirinya dan dari orangtuanyalah anak pertama kali mengenal dunia. Melalui mereka anak mengembangkan seluruh aspek pribadinya.
Manusia yang paling bahagia adalah manusia yang tumbuh dan berkembang di bawah pendidikan yang benar dan sifat-sifat mulia sejak kecil. Sewaktu tumbuh besar, sifat-sifat itu akan nampak pada dirinya tanpa paksaan. Dengan demikian, orangtua memainkan peran penting dan tugas ini merupakan tanggungjawab berat yang harus dipikul keduanya.
Memahami betapa pentingnya peran dan beratnya tanggungjawab yang harus dipikul orangtua bagi pendidikan anaknya, maka belajar bagi orangtua mutlak diperlukan. Dengan terus belajar orangtua akan mampu melaksanakan peran dan tanggungjawabnya dengan baik serta mampu memerankan diri sebagai orangtua di mata anak untuk diteladani.

Kesimpulan
Anak adalah masa depan kehidupan. Dalam upaya menyiapkan anak menjadi masa depan kehidupan, orangtua memegang peranan yang sangat menentukan dalam membentuk fondasi kepribadian anak. Pada waktu tersebut, mereka memiliki kesempatan emas untuk memberikan warna dasar bagi anaknya tanpa diganggu dan dipengaruhi faktor lain. Orangtua memiliki kekuasaan penuh untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya.

Kepustakaan
Depdiknas. 2000. Pendidikan Anak, Modul Seri Pendidikan Keluarga. Jakarta:. Ditjen Diklusepora Depdiknas RI.
Elliot, Stephen N. et al. 2000. Educational Psychology: Effective Teaching, Effective Learning. Third Edition. Boston: McGraw-Hill.
Falsafi, Muhammad Taqi. 2002. Anak, antara Kekuatan Gen dan Pendidikan. Bogor: Cahaya.
Harefa, Andrias. 2000. Menjadi Manusia Pembelajar. Jakarta: PT. Media Kompas Nusantara.
Salkind, Neil J. 1987. Child Development. Fith Edition. New York: CBS College Publishing.

Oleh: Suardi, S.Pd, M.Pd.
Pengurus Forum PAUD
Propinsi Sulawesi Selatan

0 comments: