Friday, September 23, 2016

MEMBANGUN KARAKTER ANAK DARI SURI TAULADAN HAKIKAT SHOLAT BERJAMAAH

Pendidikan karakter bertujuan untuk membuat warga indonesia memiliki karakter yang baik, akhlak yang mulia. Dulu Orang indonesia dikenal memiliki karakter, etika yang luhur, dan akhlak yang mulia sehingga di kenal di dunia bahwa indonesia memiliki adat ketimuran yang begitu halus. Tetapi yang terjadi saat ini kita mengalami kemunduran dalam hal karakter, rakyat indonesia yang dulu berakhlak mulia kini menjadi orang yang mudah tersulut amarahnya hanya karena hal hal yang sepele, bahkan tega melukai atau membunuh teman, rekan sahabat, hingga orang tua sendiri. Tindak kekerasan yang dipertontonkan beberapa media akhir akhir ini sungguh jauh dari adat ketimuran yang selama ini telah kita miliki.
Menurut  Thomas Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakanbahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan.
 Untuk menjadikan masyarakat Indonesia kembali memiliki karakter, etika dan moral yang baik maka ketiga hal tersebut di atas harus terpenuhi. Bila kita lihat masing masing unsur di atas, (1) pengetahuan tentang kebaikan, banyak bisa di dapatkan baik dalam bentuk buku maupun pelajaran secara informal di tempat tempat ibadah, (2) keinginan untuk berbuat baik, inilah yang perlu dibangkitkan kembali, dengan berbagai contoh yang dilakukan oleh pesohor, publik figur dan orangtua, sehingga bisa dijadikan suri tauladan bagi diri sendiri maupun orang lain dalam kehidupan sehari hari, (3) melakukan perbuatan kebaikan, dengan adanya suri tauladan yang bisa dijadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat menampakkan hasil yang baik maka, perbuatan kebaikan yang diharapkan tersebut akan dilaksankana karena sudah ada contoh kebaikan yang ternyata menghasilkan kebaikan bagi semua orang, sebaliknya jika tidak ada sontoh yang bisa dijadikan suri tauladan tersebut maka keinginan untuk berbuata baika akan terus menyusut, apalagi perbuatan baik yang diharapkan. Hal  ini menyebabkan kemunduran sikap, etika dan moral masyarakat Indonesia.
Beberapa penyebab dari terjadinya kemunduran tersebut, diantaranya adalah berkurangnya keteladanan yang dapat dijadikan acuan dalam pendididkan dan pengasuhan, bahkan yang banyak dipertontonkan adalah sikap kekerasan baik yang dipertontonkan oleh para pesohor, publik figur, maupun mahasiswa dan siswa sekolah yang seharusnya bisa memperlihatkan karakter yang mulia.
Beberapa hal yang sebenarnya dapat memberikan pendidikan karakter secara informal adalah suri tauladan yang tersirat dalam perintah Allah SWT kepada hambaNya untuk melakukan sholat berjamaah di masjid, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.     Silaturahmi, salah satu suri tauladan yang ada pada pelaksanaan sholat berjamaah di masjid  
Pada hakikatnya manusia ini diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial. Sebagai makhluk pribadi, manusia berdiri sendiri secara individu, dan sebagai makhluk sosial adalah manusia merupakan bagian dari keseluruhan isi alam ini, yang tidak dapat dipisahkan karena masing masing individu saling membutuhkan untuk kelangsungan hidupnya.
Untuk mewujudkan posisinya sebagai makhluk sosial inilah manusia membutuhkan silaturahmi. Silaturahmi adalah ibadah yang sangat mudah dan mulia, serta banyak membawa berkah. Dalam agama islam Allah Ta’ala telah menyerukan hambaNya untuk selalu menyambung silaturahmi pada beberapa ayat dalam Al-Quran diantaranya:
-        (QS. Muhammad : 22-23) yang artinya “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang orang yang dilaknati Allah dan ditulikannya telinga mereka dan dibutakannya penglihatannya
-        (QS. An-Nisaa : 1) yang artinya “Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu
Selain itu menurut Rasulullah SAW bahwa Allah akan melapangkan rezeki orang yang suka menyambung tali  silaturrahmi dan juga Allah akan memanjangkan umur kepadanya seperti disampaikan dalam H.R Bukhari “Barang siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaklah ia menyambung silaturrahim.”
Dalam hadist Abu Hurairah sabda Rasulullah yang lain adalah: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah bersilaturahim”.
2.     Memilih imam/pimpinan jamaah. Selain silaturahmi pada sholat berjamaan di masjid ada pula suri tauladan Dalam memilih imam sholat berjamaah berdasarkan kemufakatan, tanpa melihat status sosial dan tidak perlu dengan voting serta kampanye yang meluncurkan janji janji meski kadang janji tersebut tidak dapat terwujud. Kesepakatan dalam memilih imam ini diikuti dengan kepatuhan semua pengikut (makmum) terhadap pimpinannya dalam menjalankan ibadah sholat berjamaah. Tidak diperbolehkan melakukan gerakan mendahului imam.  Dalam memilih imam dalam islam ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di antaranya adalah : seorang imam harus orang yang baik akhlaknya, baik bacaannya dan baik suaranya.
Bila kita bandingkan dengan pada saat kita akan memilih seorang pimpinan selain dari sholat maka prinsip prinsip tersebut dapat juga diterapkan yaitu seorang figur pimpinan yang akan kita pilih diantaranya adalah:
-        Figur calon pimpinan yang baik adalah seorang yang memiliki akhlak yang baik, tidak suka berbohong, atau terlibat dalam permasalahan hukum
-        Seorang yang baik bacaannya dalam hal ini adalah seseorang yang mengerti hukum dan peraturan sehingga dalam bertindak tidak melanggar aturan norma dan etika, serta mau untuk terus membaca (belajar) dan mendengar kritikan membangun untuk memperluas wawasannya sehingga dalam memimpin ma’mum/rakyatnya dapat lebih baik
-        Seseorang yang baik suaranya dalam hal ini adalah orang yang tidak banyak berbohong, tidak banyak berjanji sehingga menjadi sulit untuk di tepati
-        Seseorang yang merdu suaranya, dalam hal ini adalah orang yang berkata baik, sehingga enak didengar oleh orang lain, tidak menyakiti, maupun menimbulkan rasa marah, benci, yang diakibatkan dari kata katanya
3.     Aturan baris dalam sholat berjamaah juga memiliki nilai teladan tersendiri sipapun yang datang duluan berhak untuk berada di baris depan tanpa memandang status sosial, selain itu  pada tata aturan baris sholat berjamaah diharapkan yang berada dibelakang imam  memiliki kemampuan yang minimal sama dengan imam, karena bila terjadi sesuatu hal sehingga imam tidak bisa melanjutkan tugasnya maka yang bertugas untuk menggantikan posisi imam ini adalah makmum yang berada dibelakang imam. Selain itu tugas baris dibelakang imam ini adalah membenarkan bila imam melakukan kesalahan baik dalam pembacaan surat maupun dalam pelaksanaan ibadah sholat secara keseluruhan. Nilai teladan disina adalah bahwa yang bertugas membantu pimpinan adalah orang yang memiliki kemampuan minimal sama dengan pemimpinnya, karena haru mampu memberikan koreksi/perbaikan bila terjadi kesalahan dan sanggup menggantikan bila sang pimpinan karena suatu hal tidak mampu melanjutkan menjadi imam hingga ibadah sholat tersebut selesai
4.     Tugas imam dalam sholat berjamaah adalah membawa seluruh jamaah untuk melakukan ibadah bersama sama sesuai syariat hingga selesai, dan bila dalam memimpin jamaah bila melakukan kesalahan, maka harus menerima perbaikan yang dilakukan oleh makmum, pengikut sholat berjamaah. Tauladan yang dapat diambil dalam hakikat ini adalah bahwa seorang pimpinan harus mendengar kritikan, harapan, usulan dan perbaikan dari anak buah/yang dipimpin bila memang hal tersebut untuk tujuan membangun, atau untuk memperbaiki agar jalannya organisaasi yang dipimpin sesuai syariat/
5.     Konsistensi menjadi makmum dalam ibadah sholat berjamaah adalah berdasarkan hasil mufakat dalam memilih imam maka konsekwesinya makmum harus sanggup diimpin oleh imam hingga sholat jamaah tersebut selesai, tidak ada makmum yang kemudian ditengah sholat jamaah menggantikan imam karena melakukan kesalahan, padahal imam masih mampu menjalankan tugasnya sebagai imam, tapi justru makmum harus mampu memperbaiki atau memberikan teguran untuk memperbaiki kesalahan sesuai syariat sholat berjamaah. Nilai keteladanan yang nampak disini adalah bahwa meskipun sudah menjadi pimpinan/imam tidak mungkin tidak melakukan kesalahan, oleh karena itu dibutuhkan orang yang mampu memberikan usulan/saran agar sang pemimpin kembali bisa menjalankan tugasnya secara baik dan benar hingga selesai
6.     Keberlangsungan kepemimpinan, dalam sholat berjamaah keberlangsungan kepemimpinan tidak dijamin, tergantung dari kesepakatan pada waktu sholat yang berikutnya, kalau para jemaah sudah tidak sepakat lagi atau ada suatu halangan yang membuat imam tadi tidak mampu melaksanakan tugasnya maka akan di pilih lagi imam yang dapat memimpin shalat berjamaah berikutnya.
7.     salam memiliki teladan, bagi orang yang belum saling mengenal maka dengan sholat berjamaah ini menjadi ajang perkenalan, menambah persaudaraan, persahabatan (betapa banyaknya saudara kita bila setiap sholat berjamaah lima kali sehari kita mendapatkan saudara baru), bila sudah saling mengenal, maka menjadi ajang  , silaturahmi, saling memaafkan bila ada kesalahan, bisa kita bayangkan dalam sehari kita melakukan maaf, memaafkan lima kali sehari, maka dunia ini akan serasa tentram dan damai

Dari uraian di atas maka alangkah mulianya kalau kita mulai mengenalkan pendidikan karakter tersebut dengan mengajari anak anak kita untuk melaksankan sholat berajamaah dan memberi penjelasan yang baik tentang nilai luhur yang terkandung dalam sholat berjamaah tersebut

Oleh Dwi Sarmulyanto (pemerhati pendidikan non formal)

Monday, April 4, 2016

PERANGSANGAN GERAKAN KASAR DAN GERAKAN HALUS BERDASARKAN USIA ANAK (06)


F. Usia 19-24 Bulan

Gerakan Kasar
Anak mampu melakukan bebrapa kegiatan sekaligus, seperti menarik mainan ketiak ia berjalan. Anak juga menunjukkan keinginan untuk menyempurnakan kemampuannya dengan cara berlatih berulang-ulang. Bagi orang dewasa, kegiatan ini tentu membosankan, tetapi anak memerlukannya agar ia dapat memiliki keseimbangan dan kerjasama gerak yang baik.
Perkembangan gerak yang dimiliki anak berkembang seiring kematangan otot-otot geraknya. Ia pun mulai dapat melakukan kegiatan yang lebih kompleks seperti berlari, melompati garis, menendang, melempar, dan menangkap. Kemampuan ini akan terus berkembang seiring pertambahan usia dan kematangannya.
Kegiatan yang dapat dilakukan:
-          Bermain di taman atau tanah lapang. Anak memerlukan tempat yang luas untuk melatih kemampuannya. Tidak perlu taman atau tempat yang memiliki permainan anak-anak, tetapi yang dibutuhkan adalah ruang luas di mana ia dapat berlari, melompat, menendang, atau sekedar berjalan-jalan keliling area.
-          Berlatih berjalan dan berhenti. Kegiatan ini dapat dilakukan bersama ibu dan ayah. Ajari anak untuk berhenti dengan mengatakan “stop”, kemudia berjalan kembli, dan berhenti lagi. Awalnya, anak pasti membuhan beberapa langkah tambahan sebelum benar-benar berhenti. Seiring latihan, ia akan menguasai kemampuan dengan baik
-          Bermain ayunan. Permainan ini sangat penting bagi anak karena akan membantu mengembangkan kemampuan keseimbangannya.
-          Menari. Sambil mndenga music, bergeraklah secara bebas Biarkan anak mencoba berbagai gerakan menari.
Gerakan Halus
Kemampuan gerakan halus anak pada rentang usia ini berkembang dengan baik. Ia juga sedang mengembangkan kemampuannya untuk memusatkan perhatian. Ibu dan ayah dapat berkonsentrasi ketika ia mengambil sesuatu dengan jari-jarinya. Ada masa ini, sama dengan kemampuan gerak, latihan yang berulang-ulang sangat diperlukan oleh anak. Oleh karena itu, dukungan dan semangat dari ibu dan ayah sangat dibutuhkannya.
Kegiatan yang dapat dilakukan :
-          Bermain plastisin. Jika ibu dan ayah masih khawatir anak memasukkan plastisin ke mulutnya, gunakan plastisin buatan sendiri dari bahan yang aman bagi anak. Anak dapat membuat berbagai macam bentuk sambal berlatih menggerak-gerakkan jari-jari dan telapak tangannya. Jangan hawatir bila bentuknya berantakan.

Sumber : Seri Bacaan Orangtua (Dit. PAUD, Kemdikbud)


Thursday, November 26, 2015

PERANGSANGAN GERAKAN KASSAR DAN GERAKAN HALUS BERDASARKAN USIA ANAK (05)

E. USIA 13-18 BULAN

Gerakan Kasar
Mayoritas anak usia ini mulai bisa berjalan. Ibu dan Ayah sangat berperan untuk mengembangkan rasa percaya diri dan keseimbangannya ketika anak berjalan. Terkadang anak merasa ragu ketika ia berdiri sendiri di atas kedua kakinya, karena dunia seakan berbeda. Anak memerlukan pujian dan semangat dari orang di sekitarnya, terutama ibu dan ayah sebagai orangtuanya, agar ia dapat melangkah dengan yakin.
Jika usia 15 bulan anak belum juga berjalan, tenanglah. Pada beberapa anak mereka akan berjalan di usia yang lebih lambat dibandingkan anak seusianya. Semua bergantung pada kematangan dan kesiapan anak, serta rangsangan yang ibu dan ayah berikan. Yang perlu diperhatikan, apakah anak menunjukkan tanda-tanda atau usaha berjalan, seperti berusaha merangkak, menggerakkkan kaki ketika berbaring, berdiri sendiri dengan berpegangan, dan terlihat tertarik dengan mainan. Jika tanda-tanda tersebut ditunjukkan oleh anak, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan . Dengan kesempatan berlatih serta bantuan dari ibu dan ayah untuk meyakinkan dirinya, sebentar lagi anak akan berjalan. Jika Ibu dan Ayah masih khawatir juga, konsultasikan perkembangan anak dengan dokter anak atau psikolog.
Kegiatan yang Dapat Dilakukan
  • Biarkan anak memanjat tanpa bantuan. Tentu saja ibu dan ayah harus tetap mengawasinya. Kegiatan ini merupakan tantangan yang kompleks untuk dirinya, tapi akan menjadi terampil nila diberi waktu yang cukup untuk berlatih menyeimbangkan kemampuan geraknya. Bila perlu, berikan contoh bagaimana cara memanjat dan turun yang benar.
  • Minta anak mengambil mainannya dari lantai. Kegiatan ini akan membantunya untuk berlatih keseimbangan dengan berjongkok dari posisi berdiri dan sebaliknya.
  • Bermain menendang bola. Untuk permulaan, anak tidak akan mampu berdiri dan menendang bola dengan baik, bahkan tidak mungkin ia akan terjatuh, tetapi percayalah anak akan sangat menikmati permainan ini.
  • Beri ruang gerak. Pada saat ini anak adalah balita yang sangat dinamis dan rasa ingin tahu membawanya bergerak ke sana kemari. Beri kesempatan dan ruang gerak yang cukup untuk anak menyempurnakan kemampuan berjalan dan keseimbangannya secara spontan, tanpa banyak diarahkan. Latihlah anak juga mengetahui bahaya di sekitarnya. Katakan, "Hati-hati, Nak ..... ini ada tangga kecil,' sehingga ia akan berhenti terlebih dahulu sebelum menaiki atau menuruni  undakan.
Gerakan Halus
Di usia 13-18 bulan ini, anak mengembangkan kemampuan gerakan halus yang cukup baik. Namun ia masih suka memasukkan benda-benda ke mulut. Oleh karena itu, ibu dan ayah harus waspada emngawasi kegiatannya. Dengan kemandiriannya anak juga mampu menjelajah lingkungannya sendiri dan mengantisipasi kegiatan yang ingin ia lakukan. Perkembangan gerakan halus tidak hanya terbatas pada jari-jari tangannya saja tetapi juga pada kemampuan seperti menyusun tiga balok mainan dan kegiatan lain yang melibatkan kerjasama mata-tangan
Kegiatan yang dapat dilakukan
  • Beri waktu yang cukup banyak untuk menyelesaikan tugas/permainannya, terutama pada kegiatan yang melibatkan pengendalian dari tangan dan jari. Biarkan anak mencoba menyelesaikan pekerjaannya dan merasa bangga. Jika memungkinkan berikan tempat agar hasil karya anak dapat dipajang.
  • Berikan rasa nyaman jika ia merasa frustasi. Anak sedang berusaha melatih dirinya agar menguasai keterampilan-keterampilan yang lebih baik lagi. Anak membutuhkan ibu dan ayah untuk memberikan rasa nyaman dan dukungan ketika ia tidak berhasil melakukan tugasnya. 
  • Dominasi tangan. Pada usia ini kadang anak berubah-rubah pilihan dalam menggunakan tangannya. Jangan memaksakan anak menggunakan salahsatu tangannya. Biarkan pilihan tangan ini berkembang secara alami.
  • Bermain bola gelinding. Berdirilah sekitar 3-4 meter jauhnya dari anak. Gelindingkan bola kecil ke arah anak. ia akan menyenangi permainan ini. ia dapat memukul bola kembali atau mencoba menangkapnya. Minta anak menggelindingkan bola kembali kepada ayah dan ibu
  • B ermain telepon-teleponan. Anak pasti sudah sering melihat ibu dan ayah menelepon. Kini gilirannya untuk menelepon. Biarkan ia melakukan kegiatan pura pura ini. anak akan belajar meletakkan gagang telepon ditempatnya serta memencet mencet nomor telepon.
  • Bermain tepuk tangan juga bisa menjadi kegiatan yang mengasyikkan bagi anak.
sumber: Seri bacaan orangtua, Direktorat PAUD, Kemendikbud

Friday, September 4, 2015

PERANGSANGAN GERAKAN KASAR DAN GERAKAN HALUS BERDASARKAN USIA ANAK (04)

D.    Usia 10-12 Bulan
Gerakan Kasar
Pada usia ini anak sudah mengembangkan kemampuan gerak tubuh dan keseimbangan yang baik, seiring dengan menguatnya otot dada, pinggang, pinggul, dan kaki. Dengan kemajuannya itu, anakpun mampu melangkahkan kaki-kaki mungilnya dan mulai berdiri sendiri serta berjalan sambil berpegangan pada dinding. Anak menjadi lebih mandiri dan lebih aktif, sehingga tak jarang ia mengalami kecelakaan. Ibu dan ayah harus ekstra hati-hati dalam menyiapkan lingkungan yang aman untuk dijelajahi oleh anak. Bila ada tangga dirumah, pastikan akses (kesempatan) untuk menaiki dan menuruni tangga hanya dapat dilakukan anak dengan panduan orang dewasa. Pastikan juga keamanan laci atau lemari yang bisa saja melukai anak atau menjepit jari-jari mungilnya. Ingatlah selalu, anak usia inio penuh raswa ingin tahu yang besar sehingga ia akan menoba berbagai cara untuk dapat mmemenuhi keingintahuannya. Jeruji-jeruji pagar atau teralis tangga bisa juga menjadi sumber bahaya bila kepala mungil anak terjepit diantaranya.
Kegiatan yang dapat dilakukan:
  • Latih anak untuk berdiri dengan berpegangan pada kursi/furnitur yang kuat sebagai alat bantu. Arahkan tangan ibu dan ayah ke kursi/furnitur, lalu mintga anak untuk perpegangan pada kursi/furnitur itu
  • Buatlah permainan yang menyenangkan. Jika Ibu dan ayah menggerutu atau memaksa anak untuk berlatih berjalan, itu tidak membuat anak semangat dan justru berhenti mencoba. Buatlah situasi yang menyenangkan sehingga anak mau berlatih dan terus mencoba.
Gerakan HalusPada usia sekitar 12 bulan, kemampuan kerja sama mata, tangan yang dikuasai oleh anak pun meningkat. Ia mulai dapat melakukan tugas-tugas yang lebih rumit, seperti menyusun balok, atau memasangkan bentuk puzzle (mainan keping gambar) yang tepat. Anak juga mulai suka mencoret-coret apa saja yang ada dihadapannya. Dengan makin berkembangnya kemapuan anak,, ibu dan ayah dapat memberikan perintah sederhana yang melibatkan kerjasama mata-tangan. Contoh, “Nak tolong ambilkan gelas itu,” maka anak akan mencari gelas yang dimaksud, kemudian mengambilnya dan memberikan kepada ibu/ayah
Kegiatan yang dapat dilakukan:
  • Bermain permainan tangan seperti pok ame-ame. Ibu dan ayah dapat mengajarkan permainan sederhana yang menggunakan gerakan tangan, seperti “topi saya bundar”.
  • Makan sendiri. Biarkan anak terlibat dalam kegiatan makannya. Anak dapat mengambil makanan dengan jari mungilnya atau menyuapkan makanan dengan sendok atau minum sendiri dari gelas kecilnya. Beri kesempatan juga baginya untuk merasakan tekstur makanan dengan jari-jari mungilnya, bahkan telapak tangannya.
  • Tawarkan solusi. Jika anak terlihat kesulitan untuk menyelesaikan permainannya. Semisal kesulitan memasukkan balok yang sesuai bentuknya, berikan solusi bagaimana ia dapat menyelesaikannya. Dampingi anak ketia ia mencoba untuk menyelesaikan permainannya.
Bermain bersama. Meskipun terlihat mandiri, anak paling senang bila ibu dan ayahnya mau bermain bersamanya. Berikan kesematan kepada anak mencoba berbagai hal baru dan menjelajah lingkungannya dengan ibu dan ayah teteap berada di dekatnya untuk memberi dukungan.

Sumber : Seri Bacaan Orang Tua Dit. BinPAUD, Kemdikbud

Monday, August 31, 2015

PERANGSANGAN GERAKAN KASAR DAN GERAKAN HALUS BERDASARKAN USIA ANAK (03)

C. Usia 7-9 Bulan
Gerakan Kasar
Di rentang usia ini, biasanya anak mulai merasa frustasi bila ia tidak berhasil mendapatkan keinginannya. Hal ini terjadi karena anak sudah memiliki banyak keinginan, namun kemampuannya masih terbatas. Contoh, anak ingin meraih mainan yang terletak 1 meter di hadapannya. Dengan segala upaya ia mencoba bergerak mendekati mainan itu, tetapi tidak berhasil. Anak kemudian merasa kesal dan menunjukkan emosinya dengan berteriak atau menangis. Hal ini wajar saja. Sebagai orangtua, ibu dan ayah dapat menenangkannya dan memberi semangat dengan mendekatkan mainan itu atau bila perlu memberikan mainan yang di inginkan. Yang penting adalah berikan kesempatan kepada anak untuk berusaha dan mencoba sendiri melakukan keinginannya. Ibu dan ayah harus dapat menyeimbangkan antara kesempatan dan latihan serta meredakan anak dari frustasi.
Kegiatan yang dilakukan:
  • Biarkan anak berdiri untuk beberapa saat dengan cara dipegangiagar ia tidak jatuh, tetapi tidak perlu memintanya melangkahkan kaki.
  • Permainan gelitik telapak kaki. Telapak kaki merupakan area yang sangat sensitif untuk disentuh apalagi digelitik. Ketika menggelitik, posisi tangan ibu dan ayah tidak perlu memegangi kaki anak. Biarkan ia memilih apakah akan menarik kakinya karena tidak tahan geli atau justru sebaliknya, menikmati ketika kakinya digelitik.
  • Berikan pertanyaan atu arahan sederhana. Ketika anak sedang duduk dan bermain bersama mainan-mainannya, tanyakan misalnya, “Mana boneka (sebutkan boneka yang dimiliki anak)?” Biarkan ia mencari boneka yang di maksud di antara mainannya dan mengambilnya.
  • Bermain ambil mainan. Duduklah berhadapan dengan anak, sodorkan mainan kepadanya. Lakukan beberapa kali sampai anak paham bahwa ia harus mengambil mainan yang diarahkan kepadanya. Kemudian, ketika ibu dan ayah menyodorkan mainan selanjutnya, tahan posisi mainan lebih dekat ke arah ibu dan ayah sehingga anak harus mencondongkan badan untuk menggapainya.
  • Pura pura menjatuhkan mainan. Untuk melatih dada dan pinggangnya, ibu dan ayah dapat bermain pura-pura menjatuhkan mainan. Biarkan anak mengambil mainan yang terjatuh didekatnya. 
Gerakan HalusSelain mudah frustasi, anak mungkin juga mudah menyerah ketika ia berhadapan dengan kesulitan yang melibatkan kegiatan geraknya. Ketika ia kesulitan menggenggam mainan balok atau memasang ring donat, mungkin ia menyerah dengan meninggalkan mainannya atau bahkan menangis. Yang perlu ibu dan ayah lakukan adalh memberikan dukungan semangat ketika anak kesulitan melakukan sesuatu. Berikan kata-kata positif tanpa menjatuhkan atu menghibur secara berlebihan. Jika perlu, berikan contoh dengan ibu dan ayah “pura-pura” terlibat kesulitan, tapi kemudian berhasil mengatasi masalah dengan tersenyum.
Kegiatan yang dapat dilakukan:
  • Berlatih menunjuk. Ketika ibu/ayah dan anak duduk bersama, arahkan jari ibu/ayah untuk menunjuk sesuatu dan katakan ,”Lihat bunga itu.” Anak akan mengarahkan pandangannya ke arah yang ibu/ayah tunjuk. Selanjutnya minta ia menunjuk benda yang ada disekitar ibu/ayah.
  • Permainan gelitik telapak tangan. Sambil bernyanyi lagu-lagu sederhana, gelitik telapak tangan anak.
  • Bermain sendiri. Terkadang, anak bangun lebih awal dari ibu dan ayah. Sediakan beberapa mainan yang aman untuk dimainkan tanpa pengawasan ibu dan ayah, sehingga ketika ia terbangun lebih awal, ia bisa mainannya dan bermain sendiri.
Sumber : Seri bacaan Orangtua Dit. PAUD, Kemdikbud