Sunday, November 2, 2014

MENUMBUHKEMBANGKAN TAMAN BACAAN MASYARAKAT MELALUI PENDEKATAN NILAI-NILAI SOSIAL BUDAYA

taman bacaan masyarakat


PENGANTAR


Membangun manusia menjadi masyarakat utuh mulai dari membangun pendidikan. Pendidikan berperan utama membangun masyarakat karena pendidikan dapat membawa manusia menjadi masyarakat yang cerdas, mandiri, dan berkarakter mulia. Dengan pendidikan, masyarakat dapat mengubah pola pikirnya; dari pola pikir  masyarakat mekanik menjadi masyarakat organik; atau dari pola pikir tradisional menjadi moderen.  
Amanat undang-undang dalam memenuhi hak warga negara untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan dapat terwujud melalui peningkatan minat baca masyarakat. Salah satu metode untuk menyadarkan dan meningkatkan minat baca masyarakat adalah mendirikan taman bacaan masyarakat, yang disingkat dengan nama TBM.
Kemampuan minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah, sementara disisi lain jumlah TBM yang ada secara kuantitatif sebanyak 4.729 dengan jumlah desa kurang lebih 72.000. Di Sulawesi Selatan TBM yang sudah berdiri sebanyak 373 dengan jumlah desa 2.893 (Dinas Pendidikan Prov. Sulsel, 2008).  Kondisi ini cukup memprihatinkan baik dari segi kuantitatif maupun kualitatif. Dari segi kualitatif berdasarkan hasil evaluasi penyelenggaraan TBM yang selama ini
dilaksanakan masih jauh dari standar minimal sehingga TBM masih terkesan sebagai tempat buku menumpuk.
Atas keprihatinan tersebut, penulis memberikan solusi terhadap masalah TBM melalui penyelenggaraan TBM yang berbasis nilai-nilai sosial budaya masyarakat dimana TBM itu tumbuh dan berkembang.

PEMBAHASAN

Penumbuhan dan Pengembangan 
Istilah menumbuhkembangkan TBM terisnpirasi dari konsep tumbuh kembang anak dalam disiplin ilmu psikologi. Konsep penumbuhan dan pengembangan yang  dimaksudkan dalam pengembangan model TBM ini adalah agar TBM dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Istilah penumbuhan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berkaitan dengan masalah perubahan dalam ukuran baik besar, jumlah, atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu. Namun dalam menumbuhkembangkan TBM, istilah penumbuhan terkait dengan pengorganisasian, karakteristik, keanggotaan, penyelenggaraan, dan struktur organisasi TBM.
Sedangkan, istilah pengembangan terkait dengan pengembangan yang menitikberatkan pada aspek perubahan bentuk atau fungsi TBM, termasuk pula perubahan pada aspek nilai sosial budaya masyarakat di wilayah TBM. Faktor-faktor tersebut merupakan modal dasar TBM dalam mencapai proses pengembangan TBM yang baik. Bentuk fisik TBM yang menarik dapat memotivasi masyarakat untuk mengunjungi TBM. Faktor Lingkungan berpengaruh terhadap pengembangan TBM.
Faktor perilaku sangat terkait dengan prilaku pengelola TBM, masyarakat, dan pemerintah.  Prilaku pengelola TBM yang ramah dapat mendorong menarik masyarakat untuk mengunjungi TBM. Perilaku masyarakat yang sadar akan pentingnya membaca mendorong dirinya untuk mengunjungi TBM. Begitu pula dengan perilaku pemerintah yang menyadari peranan TBM dalam membelajarkan masyarakat akan mendorong dan memotivasi masyarakatnya untuk belajar di TBM.

Taman Bacaan Masyarakat
Pada awal tahun lima puluhan telah berdiri dan berkembang Taman Pustaka Rakyat (TPR) yang didirikan oleh Pendidikan Masyarakat. TPR bertujuan untuk meningkatkan minat dan kegemaran membaca masyarakat dengan memberikan pelayanan bahan bacaan. Pada tahun 1992/1993, TPR ini kemudian berkembang menjadi Taman Bacaan Masyarakat yang disingkat menjadi TBM. Tugas pokoknya adalah menyediakan berbagai jenis bahan bacaan dalam membangun masyarakat
gemar membaca dan gemar belajar (Direktorat Pendidikan Masyarakat, 2006:1). TBM merupakan lembaga pembudayaan kegemaran membaca masyarakat yang menyediakan ruangan untuk membaca, diskusi, bedah buku, menulis, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang sejenis. TBM dilengkapi dengan bahan bacaan berupa buku,
majalah, tabloid, koran, komik, dan bahan multi media lain, serta didukung oleh pengelola yang berperan sebagai motivator (Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat Ditjen PAUDNI, 2011: 6).
TBM dapat didirikan, dikelola, serta dibiayai baik oleh masyarakat, pemerintah daerah, atau masyarakat bekerja sama dengan pemerintah daerah. Seperti namanya, lokasi TBM ini biasanya berada dekat dengan pemukiman atau kegiatan masyarakat. Persyaratan pembentukannya yang tidak ketat, tata cara pengelolaannya yang luwes dan tidak terlalu formal merupakan ciri yang membedakan TBM dengan perpustakaan.
Pembudayaan masyarakat menjadi tidak hanya gemar membaca, bahkan gandrung membaca memerlukan upaya yang sungguh-sungguh, baik dari pihak  pemerintah maupun masyarakat sendiri. Mengingat pengembangan dan peningkatan kegemaran membaca terkait dengan bahan pustaka, maka gerakan nasional gemar membaca menjadi tugas dan tanggung jawab Perpustakaan Nasional (RUU Perpustakaan, Pasal 17).
Data Kemdikbud menunjukkan bahwa di era milenium ini ternyata angka buta huruf masih 8,3 juta orang. Sedangkan angka minat baca di Indonesia berdasarkan data dari Progress in International Reading Literacy Study  (PIRLS) tahun 2006 yang melibatkan siswa SD menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian. Sedangkan data tentang perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara yang dikeluarkan oleh CSM,
seperti Amerika Serikat jumlah buku yang wajib dibaca 32 buku; Belanda 30 buku; Prancis 30 buku; Jepang 22 buku; Swiss 15 buku; Kanada 13 buku; Rusia 12 buku; Brunei 7 buku; Singapura 6 buku; Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku (Direktorat Penmas, 2010).
Mewujudkan masyarakat berbudaya baca berarti turut mendorong tumbuhnya minat baca masyarakat. TBM merupakan salah satu program yang dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan membaca masyarakat. Masyarakat yang sudah mampu dan terampil membaca akan melahirkan minat dan kebiasaan membaca, yang pada akhirnya menjadikan masyarakat sebagai masyarakat berbudaya baca.
Apabila membaca sudah menjadi budaya masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi masyarakat melek informasi. Tercapainya masyarakat melek informasi akan mampu mencari dan mengumpulkan informasi; memilih dan mengolah informasi; dan memanfaatkan informasi untuk meningkatkan kemandirian dan produktivitas kehidupannya.

Pendekatan Nilai Sosial Budaya
TBM yang menggunakan pendekatan nilai sosial budaya dalam penyelenggaraan program-programnya dapat didukung oleh masyarakat pengunjungnya. Hal ini terjadi karena masyarakat merasa memiliki TBM itu. Identitas nilai sosial budaya yang ada dalam program TBM sudah menjadi identitas budaya pada masyarakat pengunjung TBM.  Konsep  keanekaragaman  nilai  budaya tersebut menurut Koentjaraningrat(1981: 63) adalah pertama, manusia itu tidak hidup sendiri di dunia ini tetapi dikelilingi oleh komunitasnya, masyarakatnya, dan alam semesta sekitarnya. Di dalam sistem makrokosmos itu ia merasakan dirinya hanya sebagai unsur kecil saja yang ikut terbawa oleh proses peredaran alam semesta yang mahabesar; kedua, segala aspek kehidupan manusia pada hakikatnya tergantung kepada sesamanya; ketiga, manusia harus selalu berusaha untuk sedapat mungkin memelihara hubungan baik dengan sesamanya yang terdorong oleh jiwa sama rata sama rasa; dan keempat, manusia sedapat mungkin untuk bersifat menyesuaikan diri, berbuat sama dan bersama dalam komunitasnya, yang terdorong oleh rasa sama tinggi sama rendah.
Dengan memperhatikan keempat konsep tersebut, maka keretakan bangsa yang diakibatkan konflik antaretnis dapat diminimalisir.
Pengintegrasian nilai sosial budaya dalam program TBM berperan amat penting bagi sebuah TBM untuk menuju kepada TBM yang menyenangkan. Diakui bahwa masyarakat Indonesia telah menjadikan nilai-nilai sosial budaya sebagai salah satu unsur tujuan dari bangsa ini, sebagaimana telah termaktub dalam dasar negara, yakni sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia mengandung makna bahwa keadilan sosial dapat tercapai apabila tercipta keseimbangan antara kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakat. Apabila nilai sosial itu terwujud dalam diri pribadi masyarakat, maka keseimbangan kehidupan masyarakat dapat tercapai.
Kniker mengemukakan bahwa nilai sosial sebagai suatu standar atau aturan dalam suatu masyarakat yang bersifat abstrak. Nilai tersebut berfungsi sebagai alat mencapai kehidupan masyarakat yang harmonis, sebagaimana dikemukakannya “Social values as the standards or rule of society. This definition is abroad enough to encompass both the abstract (justice, honesty) and the specific (laws and virtues, such as punctuality). Advocates of this definition would see human beings as rule-following animals who basically wish to life in harmony with fellow human beings” (Kniker, 1977: 30).
Pendekatan nilai sosial budaya dalam aktivitas TBM dapat menjadikan TBM tumbuh dan berkembang. Hal ini didukung oleh konsep nilai sosial selalu berorientasi terhadap peningkatan kualitas hidup manusia. Nilai sosial memiliki hubungan sangat erat dengan jati diri manusia sehingga nilai sosial sangat dijunjung tinggi oleh orang banyak atau masyarakatnya. Apabila nilai sosial sudah disepakati melalui konsensus orang banyak, maka nilai tersebut dipandang sebagai hal yang menyangkut
kesejahteraan bersama. Nilai itu kemudian melekat pada etika dan moral masyarakat sehingga apa yang menjadi kebutuhan atau cita-cita yang dianggap baik oleh  masyarakat luas menjadi pedoman dalam hidup di masyarakat tersebut. Nilai sosial menurut Woods (2008: 1) adalah sebagai petunjuk umum yang telah berlangsung lama yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Terpelihara dan terimplementasinya nilai sosial pada setiap program TBM
menjadi TBM dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, dan akan dapat merealisasikan tujuan-tujuan program yang mereka inginkan. Untuk mencapai TBM yang dapat tumbuh dan berkembang, maka ada empat nilai sosial di mana penyelenggara harus mewujudkannya: (1) kerjasama, (2) solidaritas, (3) tolong menolong, dan (4) loyalitas (Mahmud, 2004: 96).

Metode  Menumbuhkembangkan TBM
Metode menumbuhkembangkan TBM melalui pendekatan nilai sosial budaya dapat dilihat sebagaimana gambar berikut:



Gambar di atas menunjukkan bahwa nilai sosial budaya yang diintegrasikan dalam menumbuhkembangkan TBM adalah nilai sosial budaya Bugis. Nilai-nilai sosial budaya tersebut adalah nilai sipakainge, sipakalebbi, dan sipakatau. Tiga konsep nilai-nilai tersebut menjadi pilar bagi TBM untuk mewujudkan masyarakat menjadi masyarakat yang sadar baca, cerdas, dan religius. Konsep sipakainge bermakna adanya saling ingat mengingatkan dalam kebaikan antara pengelola TBM dengan masyarakat di wilayah TBM. Kata sipakainge adalah kata yang berasal dari bahasa Bugis yang berarti saling mengingatkan. Nilai sipakainge ini masih terpelihara dalam kehidupan masyarakat Bugis.
Selain nilai sipakainge, nilai sipakalebbi dan sipakatau juga menjadi pegangan pengelola dalam menjalin hubungan harmonis dengan masyarakat di wilayah TBM. Secara etimologi, sipakalebbi berarti saling memuliakan, dan sipakatau berarti saling menghargai. Konsep sipakalebbi menjadi konsep yang harus dimplementasikan oleh pengelola TBM terhadap pengunjungnya. Semua orang senang akan dimuliakan oleh orang lain. Dengan sifat memuliakan ini, pengunjung TBM akan merasa tenang dan senang duduk berlama-lama di TBM. Disamping dimuliakan, pengunjung TBM perlu dihargai atas waktunya berkunjung ke TBM. Sifat menghargai pengunjung yang ditampakkan oleh pengelola merupakan implementasi dari konsep sipakatau. Peranan nilai-nilai budaya dalam membudayakan budaya baca masyarakat merupakan faktor pendukung yang tidak boleh diabaikan. Untuk menumbuhkembangkan TBM yang berbasis nilai sosial budaya Bugis, Pengelola hendaknya menerapkan tiga konsep nilai dalam pelayanan: (1) mabbere warekkada madeceng, (2) manyameng kininnawa, dan (3) fada siobbi-obbi lao ri gau madecengnge. Tiga nilai itu harus ada dalam jiwa setiap pengelola TBM. Pengelola TBM hendaknya memiliki sifat senang menyapa pengunjung dengan sapaan yang menyejukkan, menanyakan bagaimana kabar pengunjung, ramah, dan sopan. Secara etimologi, mabbere warekkada madeceng, manyameng ininnawa, dan fada siobbi-obbi lao rianu madecengnge adalah bahasa Bugis dengan arti bertutur sapa yang baik, menyenangkan, dan saling mengajak dalam kebaikan. Pengunjung yang disapa dengan penuh kesopanan, disambut dengan raut wajah gembira dan disertai dengan senyum lalu diundang ke TBM akan tergerak hatinya untuk mendatangi TBM.
Konsep menumbuhkembangkan TBM yang menekankan pada peranan nilai-nilai sosial budaya yang ada pada masyarakat Bugis dapat tetap lestari. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi pendorong dan perekat masyarakat untuk mendatangi TBM. Kegiatan melalui pendekatan nilai sosial budaya masyarakat yang dilakukan di TBM mendapat dukungan dari masyarakat.  Selain strategi tersebut, pengelola TBM harus menjalin sinergitas antara pemerintah, masyarakat, dan pengelola TBM dalam menumbuhkembangkan TBM.
Pelibatan orang-orang tersebut terhadap kegiatan program TBM ternyata cukup baik dan efektif. Orang-orang tersebut adalah ketua RT/RW, Kades/Lurah, dan tokoh masyarakat setempat.  Karena mereka memiliki pengaruh yang kuat di mata masyarakat sehingga mudah mengajak masyarakat untuk mengunjungi TBM.
Kesuksesan TBM dalam mengajak masyarakat untuk datang membaca tidak terlepas dari strategi pengembangan yang dilakukan oleh pengelola TBM. Tiga strategi yang digunakan pengelola TBM untuk menjadikan TBM tetap tumbuh dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat: (1) strategi kekuasaan, yang meliputi ketua RT/RW, kepala dusun, kepala Kelurahan, camat, dan tokoh-tokoh masyarakat; (2) strategi persuasif, yakni melalui media massa, keterampilan produktif,
dan kegiatan nilai-nilai sosial budaya masyarakat; dan (3) strategi reedukatif normatif, yakni pendidikan formal, nonformal dan informal. Strategi persuasif dilakukan oleh TBM Ujung Tape dalam rangka menghidupkan TBM. Masyarakat harus diyakinkan bahwa TBM bukan hanya sebagai
tempat membaca, tetapi juga tempat mendapatkan keterampilan, termasuk kegiatan adat dan budaya masyarakat setempat. Wujud dari strategi persuasif tersebut adalah pengelola TBM Ujung Tape mengharapkan media lokal untuk mempublikasikan kegiatannya. Hal ini dimaksudkan untuk memperkenalkan TBM dikalangan masyarakat luas. Kegiatan produktif dilakukan untuk memberikan bekal keterampilan seperti resep masakan bagi ibu-ibu rumah tangga. Sedangkan kegiatan nilai sosial budaya tampak pada peranan masyarakat dalam menyukseskan program lomba yang diadakan di wilayah TBM.
Strategi reedukatif normatif merupakan strategi yang melibatkan masyarakat pendidikan, baik jalur pendidikan formal maupun nonformal dan informal. Pelibatan semua jalur pendidikan tersebut dimaksudkan agar setiap warga negara dapat mengakses pendidikan, dalam hal ini TBM sebagai sarana bagi masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan. Sedangkan kegiatan bagi pendidikan formal diperuntukkan kepada anak SD hingga SMA atau yang sederajat dan pendidikan nonformal diperuntukkan kepada warga belajar pendidikan anak usia dini non formal dan informal.

KESIMPULAN
TBM dengan pendekatan nilai sosial budaya dalam implementasi programnya mendapat dukungan yang kuat dari masyarakat. Hal ini terjadi karena nilai sosial budaya sudah menyatu dengan diri masyarakatnya. Dengan demikian, TBM dengan basis nilai sosial budaya menjadikan TBM itu dekat dengan masyarakat. Disamping itu, masyarakat merasa memiliki TBM.
TBM yang berbasis pada kegiatan nilai sosial budaya masyarakat dalam pelaksanaan progran dan pelayanan kepada masyarakat telah terbukti efektif dan efisien memberikan motivasi membaca dan layanan pendidikan kepada masyarakat.

REFERENSI

Direktorat Pendidikan Masyarakat. (2006). Pedoman Pengelolaan TBM. Jakarta: Direktorat Pendidikan Masyarakat.
--------- (2010). Taman Bacaan Masyarakat Kreatif. Jakarta: Direktorat Pendidikan Masyarakat.
---------- (2009). Media Informasi Pendidikan Nonformal & Informal: “Menumbuhkan Minat Baca Sejak Usia Dini.” Vol. 78. Edisi XI.
Kniker, C.R. (1977). You and Values Education. Columbus. Ohio: Charles E. Merril Publishing Company.
Mahmud, A.A.H. (2004). Akhlak Mulia. (Terjemahan). Jakarta: Gema Insani.
Raven, J. (1977). Education, Values, and Society: The Objectives of Education and the Nature and Development of Competence. London:HK Lewis & Co. Ltd.
Sumadi. (1987). Hubungan Minat Baca dan Bakat Bahasa dengan Prestasi Membaca Pemahaman Siswa SMA Kodya Malang. Thesis. Malang: PPs IKIP Malang.
Yasil, S. (2002). Ensiklopedi: Sejarah dan Kebudayaan Mandar. Makassar: Forum Studi dan Dokumentasi Sejarah dan Kebudayaan Mandar.

Oleh     : Dr. Muhammad Fardus
sumber : bpplsp-reg5.go.id

>>> Ini file file nya broo <<<

0 comments: