Monday, November 3, 2014

BELAJAR SIAP MENANG DAN SIAP KALAH SEJAK USIA DINI

lomba anak
Dalam setiap event apapapun, selalu saja orang berkata siap untuk menang dan siap untuk kalah, sebelum event itu terjadi, apakah itu event antar RT, antar kampung atau bahkan event nasional.
hal tersebut bukan saja terjadi pada pertandingan pertandingan baik pertandingan olah raga, maupun pertandingan lain dimana terjadi persaingan untuk menjadi juara atau pemenang event.
Akan sangat membanggakan bila filosofi siap menang dan siap kalah  itu dapat pula di wujudkan sebagaimana mestinya.
Tetapi apa yang nampak di mass media baik elektronik maupun cetak, semuanya cuman sekedar filosofi semata tanpa ada bukti nyata.
Pertandingan sepak bola antar kampung berubah menjadi tawuran bila salah satu tim ada yang kalah, dengan alasan di curangi dan sebagainya.padahal semua orang tahu bahwa setiap event pasti akan ada yang menang dan ada yang kalah.
Untuk mencegah hal tersebut mungkin diperlukan pendidikan karakter sehingga Warga Indonesia dapat mewujudkan filosofi siap menang dan siap kalah  sedini mungkin. Hal itu menjadi tugas dari orang tua maupun pendidik untuk memberikan penjelasan makna filosofi siap menang dan siap kalah dalam berbagai masalah
Beberapa hal yang perlu disampaikan kepada anak agar dapat menerima kekalahan/kegagalan diantaranya :

1. Memaknai arti kekalahan/kegagalan:
Memberikan pengertian kepada anak bahwa dalam hidup ini ada kalanya kita menang atau sukses dan ada kalanya kita kalah atau gagal, sebagaimana Allah menciptakan alam ini ada siang ada malam, ada sehat ada sakit dan sebagainya sehingga anak mendapat keyakinan bahwa tidak selamanya seseorang akan sukses dan tidak selamanya sesorang akan gagal tergantung dari usaha dari masing masing orang tersebut untuk meraih kemenangan/kesuksesan ataupun bangkit dari kekalahan/kegagalan.

2. Tidak berlebihan dalam menanggapi peristiwa kemenangan/kesuksesan maupun kekalahan/kegagalan
Untuk memberikan edukasi agar anak tidak terlalu bangga karena kemenangan/kesuksesan dan tidak begitu malu atau menjadi minder karena sedang mengalami kekalahan/kegagalan, orang tua maupun pendidik tidak boleh memberikan penghargaan yang terlalu berlebih-lebihan, sehingga menimbulkan menjadikan anak tersebut menjadi sombong atau besar kepala, begitu juga sebaliknya jangan memberikan teguran yang berlebihan atau bahkan kadang memberikan hukuman atas kegagalan/kekalahan sehingga membuat anak menjadi malu untuk mengakui kekalahan/kegagalan tersebut, bahkan kadang menimbukan rasa minder dan frustasi terhadap anak tersebut. Tetapi sebaiknya sama sama mengevaluasi penyebab kemenangan maupun kekalahan tersebut sehingga kemenangan/kesuksesan dapat dipertahankan dan kegagalan bisa dihindari atau bangkit darui kegagalan/kekalahan tersebut

3. Membelajarkan bahwa tidak semua keinginannya selalu dapat dituruti
Salah satu cara memberikan edukasi agar anak dapat menerima kekalahan sejak dini adalah dengan tidak menuruti segala kemauan anak, dalam artian bahwa harus bisa memberikan pengertian terhadap prioritas setiap keinginan dari anak tersebut, sehingga anak bisa memahami mana yang harus didahulukan sehingga anak tidak memaksakan kehendak untuk selalu dapat memperoleh segala keinginannya.

4. Memberikan pengertian berdasarkan agama yang dianut tentang kegagalan tersebut. (dalam hal ini penulis menyampaikan beberapa pendapat tentang kegagalan sesuai ajaran Islam)
a. Seorang muslim harus bersabar dalam menerima kegagalan sebagaimana tercantum dalam QS. An Nisa ayat 19 yang artinya : "Maka bersabarlah kamu, sebab jika kamu mendapat apa yang tidak kamu sukai, maka sesungguhnya di dalamnya terdapat suatu kebaikan yang banyak", dan (Q.S. An-Nahl : 96) yang artinya "Dan kami pasti akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik  dari apa yang telah mereka kerjakan.”
b. Memahami bahwa selama manusia hidup itu akan selalu di uji baik ujian dalam hal kesuksesan maupun kegagalan sebagaimana tercantum dalam  Q.S Al-Ankabut ayat 2-3 “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”
c. Mengingat bahwa setelah kegagalan pasti ada kesuksesan tercantum dalam  Q.S Asy Syarh ayat 5 yang artinya “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” dan diulang lagi pada QS. Asy Syarh ayat 6 yang artinya: “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

oleh : Dwi Sarmulyanto  (pemerhati pendidikan anak usia dini, pendidikan nonformal dan informal)

0 comments: