Tuesday, July 26, 2011

Penerapan Soft Skill Bagi Tenaga Pendidik dalam Pembelajaran Anak Usia Dini

Abstract

Teaching early childhood learning requires not only the educator’s academic competency but also his/her capability to deliver soft skill in the learning process. This is because children learn from concrete things to the abstract. In this case, the educator’s ability to deliver soft skill in the form of intra- and interpersonal abilities becomes a critical factor that contributes to the success of early childhood learning process. The intrapersonal ability covers self awareness and self ability, whereas interpersonal ability comprises social awareness and social ability. Soft skill in early childhood learning can be delivered by means of circles structuring before activity begins, during the activity times, or after the activity.

Keyword: soft skill, teachers, early childhood learning

PENDAHULUAN

Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan dan aspek aspek yang harus dilihat sebagai indikator keberhasilan pendidikan nasional, di antaranya aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Namun, selama ini sistem pendidikan nasional masih berorientasi pada pengembangan intelligence quotient (IQ). Dalam implementasinya kurikulum pembelajaran di berbagai lembaga pendidikan masih berorientasi pada perolehan nilai hasil ujian. Tidak mengherankan jika hanya ujian nasional (UN) yang sering dijadikan acuan dalam keberhasilan belajar siswa.

Dalam konsep pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pencapaian aspek-aspek perkembangan yang sesuai dengan tahapan usianya merupakan salah satu indikator keberhasilan dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik. Ada 6 (enam) aspek perkembangan yang harus dipahami oleh pendidik dalam proses pembelajaran anak usia dini, yaitu: aspek bahasa, aspek kognisi, aspek fisik, aspek sosial emosional, aspek seni, serta aspek moral dan nilai-nilai agama (Direktorat PAUD, 2005).

Selain itu, optimalnya stimulasi multiple intelligences (kecerdasan jamak) yang diterima oleh anak usia dini selama mengikuti proses pembelajaran juga merupakan salah satu indikator keberhasilan proses pembelajaran. Sebagaimana yang disampaikan oleh Gardner (1993), ada 8 (delapan) kecerdasan jamak yang dimiliki oleh setiap anak, yaitu kecerdasan: bahasa, logik matematik, visual, musikal, kinestetik, natural, interpersonal, dan intrapersonal. Dalam pencapaian aspek-aspek perkembangan dan optimalnya stimulasi kecerdasan jamak tersebut, tenaga pendidik memegang peranan penting di dalamnya.

Tenaga pendidik sebagai bagian dari komponen pelaksana proses pembelajaran dituntut untuk mempunyai kemampuan/kompetensi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan mensyaratkan adanya kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial, yang harus dimiliki oleh setiap tenaga pendidik di setiap jenjang pendidikan, sehingga dapat menjamin terselenggaranya proses pembelajaran secara optimal (Direktorat PTK-PNF, 2005).

Selain dituntut untuk memiliki kompetensi-kompetensi tersebut, tenaga pendidik PAUD juga harus memiliki kompetensi yang tidak hanya bersifat teknis akademis semata. Sebab proses pembelajaran anak usia dini sangat berbeda suasana dan karakteristiknya dibandingkan dengan proses pembelajaran di jenjang pendidikan selanjutnya (mulai dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi). Penguasaan materi dan metode pembelajaran saja tidak cukup bagi tenaga pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran anak usia dini.

Penguasaan kemampuan yang bersifat teknis akademis (hard skills) akan semakin lengkap apabila tenaga pendidik PAUD juga memiliki kemampuan intrapersonal dan interpersonal (soft skills). Dengan menguasai soft skill dari tenaga pendidik, maka proses pembelajaran akan berlangsung sebab tahapan pembelajaran pada anak usia dini adalah dari sesuatu yang konkrit mengarah kepada yang abstrak. Anak usia dibawah 8 tahun termasuk dalam tahap pra operasional, sehingga anak belum mampu untuk memisahkan antara fantasi dan realitas (William Sears, 2005). Dengan kata lain, tenaga pendidik harus memiliki dan mampu menerapkan soft skill dalam proses pembelajaran pada anak usia dini.

KONSEP SOFT SKILL

Konsep tentang soft skill sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep yang selama ini dikenal dengan istilah kecerdasan emosional (emotional intelligence). Soft skill sendiri diartikan sebagai kemampuan diluar kemampuan teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan pada kemampuan intrapersonal dan interpersonal. Kedua kemampuan tersebut dapat dimiliki oleh seseorang melalui proses pembelajaran maupun proses pembiaasan dalam kehidupan sehari-hari.

Secara garis besar, kemampuan intrapersonal mencakup aspek kesadaran diri (self awareness), yang didalamnya meliputi: kepercayaan diri, kemampuan untuk melakukan penilaian dirinya, pembawaan, serta kemampuan mengendalikan emosional. Selain itu, kemampuan intrapersonal juga mencakup aspek kemampuan diri (self skill), yang didalamnya meliputi: upaya peningkatan diri, kontrol diri, dapat dipercaya, dapat mengelola waktu dan kekuatan, proaktif, dan konsisten.

Sedangkan kemampuan interpersonal mencakup aspek kesadaran sosial (social awareness), yang meliputi kemampuan kesadaran politik, pengembangan aspek-aspek yang lain, berorientasi untuk melayani, dan empati. Selain itu juga aspek kemampuan sosial (social skill), yang meliputi kemampuan memimpin, mempunyai pengaruh, dapat berkomunikasi, mampu mengelola konflik, kooperatif dengan siapapun, dapat bekerja sama dengan tim, dan bersinergi (R. Poppy Yaniawati. 2009).

Disamping itu, soft skill juga bisa diterjemahkan ke dalam kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu untuk dapat mengembangan perasaan positif (positive feeling), selalu dan bisa untuk berfikir positif (positive thinking), dan mempunyai kebiasaan positif (positive habits) yang selalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk kepentingan diri sendiri maupun untuk orang lain (Sultoni, 2008).

Bagi tenaga pendidik PAUD, sejatinya unsur-unsur soft skill sudah dimiliki dan diterapkan dalam proses pembelajaran yang selama ini berlangsung diberbagai jenis PAUD, baik di jalur PAUD non formal (melalui kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan PAUD sejenis) maupun PAUD formal (taman kanak-kanak dan raudhatul atfal). Semboyan aktif, inovatif, dan kreatif merupakan semangat soft skill yang dimiliki tenaga pendidik untuk mencapai anak usia dini yang sehat, cerdas, dan ceria.

PENERAPAN SOFT SKILL PADA PAUD

Tenaga pendidik menjadi faktor terpenting dalam proses pelaksanaan pembelajaran anak usia dini. Tenaga pendidik dapat berperan sebagai orang dewasa yang mengarahkan, membimbing, dan menunjukkan kegiatan yang dilakukan oleh anak. Dengan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki, tenaga pendidik dapat memberikan stimulasi terhadap aspek-aspek perkembangan melalui proses pembelajaran yang dilaksanakan.

Penelitian dan teori yang mendukung pengalaman bermain sebagai sebuah dasar untuk pembelajaran anak usia dini yang bermutu. Tidak semua anak mendapatkan manfaat secara penuh tanpa adanya perencanaan pembelajaran, penataan lingkungan, dan pijakan dari orang dewasa untuk memberikan contoh pada anak. Pengalaman bermain anak seharusnya direncanakan dengan hati-hati dan diberi pijakan untuk memenuhi kebutuhan setiap anak.

Karena itu, tenaga pendidik dapat menerapkan empat langkah pijakan/tahapan berikut ini untuk mencapai kualitas pengalaman bermain bagi anak, yaitu: 1) Pijakan penataan lingkungan bermain; 2) Pijakan pengalaman sebelum bermain; 3) Pijakan pengalaman bermain setiap anak; dan, 4) Pijakan pengalaman setelah bermain. Melalui pembelajaran di setiap pijakan/tahapan tersebut, kemampuan tenaga pendidik untuk menerapkan soft skill dapat diupayakan.

Dunia anak adalah dunia bermain, karena itu dalam setiap aktivitas bermain, anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri. Tenaga pendidik (guru), bisa menuntun dan mengarahkan anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan pembelajaran yang tepat, tetapi yang terpenting agar anak dapat memahami kegiatan yang dilakukan. Anak harus membangun pengertian dan harus menemukannya sendiri (Piaget, 1972).

Anak-anak belajar melalui permainan mereka. Pengalaman bermain yang menyenangkan dengan bahan, benda, anak lain, dan perhatian orang dewasa menolong anak-anak berkembang secara fisik, emosi, kognisi, dan sosial. Perhatian orang dewasa, termasuk di dalamnya adalah tenaga pendidik dengan mengupayakan adanya tiga jenis main bagi anak, yaitu: bermain sensori motor, bermainpengembangan, dan bermain peran.

Ketiga jenis permainan tersebut dapat diupayakan oleh tenaga pendidikan dengan penerapan soft skill dalam setiap proses pembelajaran yang dapat dilakukan melalui 4 (empat) tahapan pembelajaran/bermain, yaitu:

1.Tahapan Penataan Lingkungan

Pada tahapan ini yang berperan sepenuhnya adalah tenaga pendidik. Segala perlengkapan dan fasilitas yang dibutuhkan untuk melaksanakan proses pembelajaran harus disiapkan dan ditata sedemikian rupa. Penerapan soft skill oleh tenaga pendidik pada tahapan penataan lingkungan dapat dilihat pada:

* Kemampuan tenaga pendidik untuk menyusun perencanaan pembelajaran, baik yang dibutuhkan untuk pembelajaran harian, mingguan, maupun perencanaan untuk satu kali perputaran sentra pembelajaran.
* Kemampuan untuk menyiapkan alat permainan edukatif (APE) sebagai sarana dan media pembelajaran.
* Kemampuan untuk menata sarana dan media pembelajaran yang mendukung proses pembelajaran.
* Kemampuan untuk menata ruangan pembelajaran yang dapat menarik perhatian dan semangat pembelajaran.
* Kemampuan untuk menyiapkan dan menata prasarana yang mendukung kebiasaan positif dan tanggung jawab, seperti: rak sepatu/sandal, loker tas dan bekal, toilet training dan lain-lain.

2.Tahapan Pengalaman Sebelum Bermain

Pada tahapan pengalaman sebelum main, penerapan soft skill oleh tenaga pendidik dapat ditunjukkan dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

* Memberikan salam dan berjabat tangan ketika menyambut kedatangan anak di tempat pembelajaran;
* Menanyakan kabar/kondisi anak dan memberikan semangat dengan mengucapkan sebagai anak sehat, anak cerdas/pintar, anak yang sholeh/sholihah, dan lain-lain;
* Membantu meletakkan sepatu/sandal dan bekal yang dibawa oleh anak pada tempat yang telah disediakan;
* Mengajak anak untuk berdoa bersama-sama sebelum memulai proses pembelajaran/ kegiatan bermain;
* Memulai bermain dengan kegiatan bernyanyi, senam, dan gerakan-gerakan sederhana untuk memunculkan semangat anak mengikuti proses pembelajaran;
* Memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk mengikuti dan melakukan gerakan yang dicontohkan oleh pendidik;
* Memberikan pujian dan semangat kepada anak-anak atas partisipasi mengikuti kegiatan sebelum bermain;
* Memberikan penjelasan urutan kegiatan bermain selanjutnya yang akan dilaksanakan oleh masing-masing anak di setiap sentra pembelajaran;
* Bersama-sama dengan anak didik memasuki sentra-sentra pembelajaran dengan suasana ramah dan ceria.


3.Tahapan Pengalaman Saat Bermain

Pengalaman saat bermain menjadi waktu terpenting untuk melaksanakan proses pembelajaran. Tenaga pendidik dapat menerapkan soft skill untuk pembelajaran dengan hal-hal sebagai berikut:

* Mengajar anak untuk berdoa sebelum memulai kegiatan permainan/pembelajaran di setiap sentra;
* Memulai pembelajaran/bermain di masing-masing sentra dengan menggunakan kata-kata positif (menghindari penggunaan kata-kata jangan, dilarang, tidak boleh, dll);
* Memberikan contoh pada anak bagaimana cara menggunakan alat permainan yang ada sesuai dengan perencanaan pembelajaran;
* Memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk mengeksplorasi alat permainan yang tersedia di sentra pembelajaran;
* Memberikan waktu yang cukup pada anak untuk mengelola dan memperluas pengalaman bermain di sentra-sentra pembelajaran;
* Mengamati dan mencatat seluruh aktivitas yang dilakukan oleh anak di sentra pembelajaran;
* Memberikan pertanyaan-pertanyaan pada setiap kegiatan yang dilakukan oleh anak yang memungkinkan anak menjawab dengan jawaban terbuka;
* Memberikan bimbingan dan arahan pembelajaran yang sesuai untuk memperkuat dan memperluas kemampuan bahasa anak maupun kemampuan yang lain;
* Meningkatkan kesempatan kepada anak untuk bersosialisasi melalui dukungan pada hubungan teman sebaya;
* Mengajarkan kepada anak untuk saling berbagi alat permainan yang tersedia dengan teman-temannya di sentra pembelajaran;
* Memberikan inspirasi pada anak-anak untuk melakukan kegiatan bermain dengan menggunakan alat permainan yang ada;
* Menggunakan bahasa yang menyenangkan ketika berbicara dan senyum yang mengembang ketika menyapa dengan anak-anak;
* Memberikan penilaian yang tidak menyebabkan berhentinya potensi anak dengan menghindari penggunaan kalimat yang menyalahkan;

4.Tahapan Pengalaman Setelah Bermain

Pada tahapan pengalaman setelah main, penerapan soft skill oleh tenaga pendidik dalam pembelajaran anak usia dini antara lain dengan:

* Memberitahukan sisa waktu yang tersedia, sehingga anak-anak bersiap-siap untuk mengakhiri kegiatan bermain;
* Mendukung anak untuk mengingat kembali pengalaman mainnya dan saling menceritakan pengalaman bermainnya;
* Mengajak anak-anak untuk membereskan alat permainan yang telah digunakan untuk diletakkan kembali pada tempatnya;
* Menggunakan waktu membereskan sebagai pengalaman belajar positif melalui pengelompokan, urutan, dan penataan lingkungan main secara tepat;
* Mengajak anak-anak untuk berdoa mengakhiri kegiatan bermain dan berjabat tangan sebelum anak meninggalkan sentra pembelajaran.

Selama ini, hampir semua tenaga pendidik telah menerapkan soft skill dalam pembelajaran anak usia dini. Hal ini bisa dilihat pada semangat yang menjadi landasan untuk melaksanakan tugas-tugas pembelajaran, yaitu: aktif, inovatif, dan kreatif. Implementasi semangat tenaga pendidik dalam proses pembelajaran dapat dilihat pada: 1) aktif untuk selalu memberikan dan membantu pembelajaran anak usia dini; 2) menyiapkan materi pembelajaran/bermain yang beragam sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan anak; dan, 3) memanfaatkan berbagai sumber daya pendidikan yang dapat memperlancar proses pembelajaran. Dari sisi kepribadian, penerapan soft skill oleh tenaga pendidik dalam proses pembelajaran anak usia dini dapat dilihat pada: 1) selalu datang di sekolah sebelum proses pembelajaran dilaksanakan untuk mempersiapkan sarana dan prasarana pembelajaran yang dibutuhkan; 2) ramah terhadap anak dan orang tua; dan, 3) mengembangkan potensi dan kepercayaan diri.

PENUTUP

Tenaga pendidik PAUD tidak hanya dituntut untuk memiliki kompetensi yang bersifat akademis saja, sebab membelajarkan anak usia dini tidak semata-mata menyampaikan informasi tetapi juga menanamkan dasar-dasar pembiasaan positif dan rasa tanggung jawab. Penguasaan soft skill oleh tenaga pendidik dapat memberikan landasan untuk mencapai indikator perkembangan anak usia dini. Penguasaan soft skill yang ditandai dengan kemampuan intrapersonal dan interpersonal tenaga pendidik, akan sangat mendukung proses pembelajaran anak usia dini yang dilaksanakan melalui tahapan penataan lingkungan, kegiatan sebelum anak bermain, stimulasi pembelajaran pada saat anak bermain, dan penguatan pembelajaran yang telah dilaksanakan dan dicapai oleh anak.

Stimulasi dan penguatan pembelajaran dapat dilaksanakan secara optimal jika memungkinkan anak untuk bisa bermain sensori motorik, bermain pembangunan, dan bermain peran. Ketiga jenis main tersebut dapat terlaksana secara bermakna bagi anak melalui dukungan tenaga pendidik untuk melaksanakan proses pembelajaran. Dukungan tenaga pendidik tersebut didasari semangat aktif, inovatif, dan kreatif yang dimilikinya untuk memberikan asah, asih, dan asuh pada anak usia dini.

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini. (2002). Menu Acuan Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini. Ditjen PLS Depdiknas, Jakarta.

Direktorat PTK-PNF.( 2005). Standar Kompetensi Pendidik Pendidikan Anak Usia Dini. Ditjen PMPTK Depdiknas, Jakarta.

Gardner, H. (1993). Multiple Intelligence: The Theory in Practice. New York: Basic Books

Piaget, J. (1972). The Child and Reality, Problems of Genetic Psychology.

New York: Penguin Books.

Sears, William M.D. (2005). The Successful Child (edisi terjemahan). Jakarta: PT. Kresna Prima Persada.

Sultoni. (2008). Soft Skill Building Training. School of Business (SOB), Malang .

Yaniawati R. Poppy. (2009). “Soft Skill Dalam Dunia Pendidikan.” Pikiran Rakyat. Bandung, 06 Agustus.

oleh : Moh. Zaqi, M.Si
sumber : paudni.kemdiknas.go.id/bppnfi4/

0 comments: