Thursday, July 14, 2011

Anak Saya Sulit Makan dan Suka Pilih-Pilih, Bagaimana Dong?

Pertanyaan mendasar: Masihkah anda menerapkan kebiasaan makan bersama di rumah? Sungguh makan bersama memiliki manfaat besar karena itu adalah kesempatan bagi seluruh anggota keluarga untuk membangun komunikasi sehat.

Tak hanya itu, menurut konsultan sistem motorik oral, Ghada Ibrahim, dari Cairo University Hospital, makan bersama juga cara baik untuk menunjukkan kasih sayang dan perhatian terhadap anak serta mencari tahu apa yang mereka suka dan tidak suka. Namun saya, di era moderen, sebagian orang tua menganggap acara makan bersama di rumah terlalu merepotkan.

Mungkin anda termasuk orang tua yang mengalami keluhan macam ini, "Anak saya mulai menangis setiap kali waktu makan," atau "Anak saya tidak pernah menyentuh daging atau ayam."?

Bila itu terjadi waspadalah. Sering kali, menurut Ghada, orang tua tidak menganggap itu serius atau melihatnya sebagai cara anak mencari perhatian lebih. Padahal, imbuhnya, dalam beberapa kasus, anak bisa benar-benar memiliki pola sindrom makan menyimpang.

Perilaku makan menyimpang saat bayi atau awal kanak-kanak didefinisikan sebagai kegagalan penambahan berat badan saat muda selama beberapa waktu. Kondisi itu bukan karena sakit, melainkan karena si bocah tidak mengasup nutrient dalam jumlah layak.

Perilaku makan menyimpang tadi termasuk masalah dalam hal menyedot, mengunyah, atau menelan makanan. Dalam beberapa kasus termasuk bayi prematur yang dibantu dengan tabung makanan dalam jangka waktu sangat lama, kesulitan menggerakan mulut atau lidah, anak-anak dengan masalah sensor indra (contoh anak yang tidak suka tekstur makanan tertentu), upaya mencari perhatian lebih dan anak-anak dengan perilaku menyimpang pada umumnya.

Apa sajakah gejala-gejala perilaku makan menyimpang, berikut beberapa gejalan menurut Ghada

- Bayi menunjukkan kesulitan menyedot susu dari botol atau tidak efisien menahan puting susu ibu saat menyusu.
- Menunjukkan kesulitan bernafas saat minum atau makan
- Sulit mengunyah makanan keras (untuk anak berusia 3 tahun ke atas)
- Membutuhkan waktu terlalu lama untuk makan dibanding dengan anak-anak pada usia yang sama
- Tubuh jadi kaku saat makan
- Menolak tekstur makanan berbeda (contoh hanya mau makanan halus atau sereal renyah)
- Mengunyah dengan membuka mulut
- Kerap batuk, tercekik atau tersedak saat makan
- Sering meludah atau bahkan muntah
- Menangis saat ibu membawakan makanan
- Hanya mau makan jenis santapan yang mudah dikunyah, atau itu-itu saja.

Diagnosa perilaku makan menyimpang kerap dilakukan setelah anak diperiksa seksama
dan diperiksa termasuk kondisi medis yang menyebabkan penyimpangan tadi.

Hasil pemeriksaan laboratorium juga dapat dipertimbangkan meski pada umumnya hanya bersifat normal.

Perlakuan Perilaku Makan Menyimpang

Lantas, bagaimana mengatasi anak dengan perilaku makan tak normal? Merawat anak dengan perilaku makan menyimpang tak hanya melibatkan satu spesialis namun kerap kali memasukkan satu tim terdiri dari pakar gastroenterologi, pakar nutrisi, pakar psikologi perilaku, terapi bicara dan sikap. Kadang diperlukan pula pekerja sosial untuk mendukung keluarga dan memberi sumber-sumber untuk anak-anak tadi.

Pertama, semua masalah kesehatan si bocah harus ditangani dulu. Dalam kasus anak menggunakan tabun makanan, mereka bisa jadi tak mengenali kapan mereka merasa lapar.

Anak-anak bisa mengalami rasa takut alami bila berhadapan dengan makanan berasa baru atau bertekstur baru, itu disebut neofobia. Jadi, sangat perlu untuk menawarkan makanan dengan cara positif yang memotivasi tanpa ada menimbulkan perasaan terancam. Cara itu juga membantu mereka untuk tak pilih-pilih makanan ke depan nanti.

Sementara, untuk anak-anak dengan kasus kesulitan motoril-oral, perlakuan bisa melibatkan perubahan posisi anak ketika ia makan. Jadi biarkan anak memilih posisi paling nyaman saat makan.

Dengan punggung yang tersangga, suapilah anak anda. Untuk melatih kekuatan otot mulut, ajak anak anda meniup balon atau gelembung udara dengan sabun, atau cara lain.

Demi menguatkan otot lidah, coba olesi bibir anak dengan madu lalu minta ia untuk menjilatnya. Bila ingin meningkatkan kemampuan mengunyah, gunakan jenis-jenis makanan dengan tingkat kelunakan dan kekerasan berbeda. Anda juga bisa meminta bantuan pakar terapi wicara bila anak terlalu sensitif terhadap benda di mulut mereka.

Tak ketinggalan cobalah tips berikut

1. Tenanglah, bisa jadi anak anda mencari perhatian untuk mendapat perhatian ketika ia menolak makan
2. Matikan TV saat makan
3. Jangan tawarkan makanan ketika anak tidak lapar
4. Tetapkan jadwal rutin untuk makan
5. Ajak anak untuk terlibat dalam persiapan atau saat memasak makanannya
6. Biarkan anak berbagi dalam membeli bahan-bahan makanan
7. Tambahkan sesuatu yang menyenangkan saat makan
8. Dekorasi piring si kecil
9. Hormati selera makan anak anda
10. Celup saja! Jika anak anda doyan saus, celukan makanan yang anda inginkan bagi si anak untuk di makan ke dalam saus kesukaannya.
11. Jadilah contoh baik bagi si kecil dalam perilaku makan
12. Nikmati waktu makan sebagai satu keluarga
13. Kenalkan kudapan sehat di antara waktu makan
14. Terimalah penolakan makanan dari si kecil tanpa kecemasan.


Semoga si kecil anda semakin lahap menyantap makanannya.

Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber: Onislam.net

0 comments: