Thursday, February 16, 2012

Anak dan Teknologi

“Waduh lucyu ni, kitaa bangett deh,” ucap pak Imran, suami bu Ellen, sambil menunjukkan gambar yang ada di Blackberry-nya yang melukiskan sebuah keluarga di mana ayah, ibu dan anak-anak duduk bersama-sama berdekatan dalam sebuah ruangan, namun masing-masing sibuk menggunakan benda teknologi.

Ayah sibuk dengan ipadnya, ibu asyik dengan Blackberry-nya, sedangkan sang kakak juga asyik dengan ponselnya dengan earphone di telinga dengan kepala sedikit miring mengikuti musik yang didengarkannya. Lalu adik sedang asyik main games sambil menggoyangkan kaki. Semua berkumpul, semua serius, semua berdekatan, namun semua asyik sendiri dengan dunia masing-masing.

Secara tidak disadari, gambaran di atas sering terjadi ada pada diri kita dan keluarga kita. Ungkapan pak Imran, suami bu Ellen, benar adanya. Walaupun bu Ellen menyanggah ucapan suaminya dengan mengatakan ”Akh terlalu berlebihan” kepada suaminya, namun dalam hati dia mengakui juga hal tersebut. Bahkan sekarang sudah dikenal slogan mengenai korban teknologi yang masuk dalam arena keluarga, yaitu “Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.”

Apabila perangkat-perangkat lunak berteknologi tinggi seperti tablet, smart phone dan lain-lain yang mempunyai kecepatan dalam mengakses informasi atau social network seperti facebook dan twitter digunakan oleh sesama anggota keluarga, seharusnya dapat mendekatkan yang sudah dekat. Karena komunikasi yang terjalin seharusnya lebih lancar dan cepat.

Namun kenyataannya tidak demikian. Tidak sedikit anak dengan bandelnya diam-diam mendelete kontak ibu dan ayahnya, bahkan terkadang sang anak dapat memiliki dua acoount yang tidak diketahui oleh ayah atau ibunya.

“Rugi rasanya.” Begitulah ungkapan bu Ellen dalam hati karena anak yang seharusnya mahir menggunakan komputer dan pandai browsing jika mencari informasi yang dibutuhkan --dikarenakan sang anak telah mendapat pelajaran komputer yang lebih dari cukup di sekolahnya-- namun malahan begitu sudah kenal komputer dan dunia internet, yang dibrowsing oleh sang anak adalah games. Bahkan keluhan dari kawan-kawan bu Ellen yang sudah memiliki anak-anak remaja adalah browsing gambar-gambar porno.

Teknologi menyerang keluarga, tak hanya ayah dan ibu yang kena, anak-anak adalah mangsa yang paling empuk. Solusi yang diambil dengan menjauhkan anak dari teknologi juga tidak mungkin dilakukan di zaman informasi sekarang ini. Yang ada si anak akan menjadi benci dan diam-diam malah mengakses yang tidak-tidak, dan sebagai orangtua akan kewalahan untuk mengontrol dan membatasinya.

Maka jalan satu-satunya adalah dengan membuat suatu kesepakatan. Ketika anak dibelikan barang berteknologi tinggi, ada aturan main dan hal-hal apa saja yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh. Lalu dijelaskan mengapa begini mengapa begitu. Kemudian kesepakan itu ditandangani, dan bila ada yang melanggar, maka apa saja sanksinya perlu dipertegas.

Sebagai orang tua kita harus memberi mereka kepercayaan kepada anak-anak. Seringkali anak-anak tidak mampu memegang janji dan tidak mampu bertanggungjawab. Karena itu orangtua wajib untuk mengatur dan bersikap tegas. Sesekali dihukum dengan tidak diberi uang jajan dan tidak diperbolehkan menggunakan handphone atau computer (bahkan zaman sekarang anak-anak juga sudah menggunakan laptop).

Sekarang kembali pada kita sebagai orangtua, apakah kita maunya anak-anak menggunakan apa? Bila mereka diberi Blackberr, maka kita sebagai orang tua harus bekerjasama dengan pihak sekolah untuk melarang membawa Blackberry di sekolah dan harus disita jika kedapatan membawanya.

Sekolah yang disiplin biasanya melarang anak membawa handphone termasuk Blackberry ke sekolah karena menggangu pelajaran. Bila pun sangat terpaksa harus membawa handphone, maka handphone sang anak dapat dititipkan pada walikelas. Akh, zaman dulu juga kita sekolah tidak pakai handphone, nyaman dan aman saja kok.

Kembali pada anak dan teknologi, baik juga bila sekolah membuat acara technology camp, semacam acara menginap di sekolah dan memberikan training-training tentang kesadaran penggunaan teknologi disertai ikrar untuk menjadi pengguna teknologi yang bertanggungjawab. Di dalamnya terdapat janji tidak akan membuka akses pornografi, tidak lalai, lalu menggunakan internet untuk hal yang bermanfaat, serta pembatasan jam penggunaan teknologi secara bertanggungjawab dan lain lain.

Bila anak mampu melaksanakan janjinya dengan baik, maka orang tua maupun pihak sekolah bisa memberikan reward (hadiah) pada si anak. Teknologi bukan untuk dibenci, tapi untuk menjadikan kita lebih memahami.

oleh : Fifi P Jubilea
Founder and Conceptor of JISc, penulis artikel konsultasi pendidikan anak, remaja dan keluarga.
bundafe.jisc@gmail.com
www.jakartaislamicschool.com
www.bundafe.com

0 comments: