Monday, October 3, 2011

Refleksi Pembelajaran Keaksaraan Fungsional oleh Tutor di Dlingo

Secara substansial materi yang disampaikan belum mengacu pada standar kompetensi keaksaraan tingkat dasar. Pada sebagian besar kelompok, tutor menyampaikan materi yang semestinya diberikan pada tingkat lanjutan. Misalnya kompetensi membaca cukup membaca kalimat sederhana, belum dalam paragraf (beberapa kalimat); kompetensi berhitung cukup sampai bilangan 100 dan belum ada perkalian dan pembagian (cukup pengurangan dan penjumlahan).
Apabila materi tersebut disampaikan, maka warga belajar perlu dievalusi atau dilakukan penilaian hasil belajar agar mendapatkan SUKMA 1 terlebih dahulu. Selanjutnya melaksanakan proses pembelajaran dengan konten tingkat lanjutan.

Dalam melakukan pembelajaran tutor perlu memperhatikan tahapan penguasaan kompetensi berbahasa: mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Maka dalam penerapan pembelajaran jangan seketika diminta untuk menghapalkan huruf abjad dan bentuk tulisan. Melainkan tutor mengawali dengan melafalkan bentuk tulisan dalam satu kata, dipisah menjadi suku kata, dipisah menjadi per huruf, digabung menjadi suku kata, dan digabung menjadi kata. Tutor melafalkan setiap bentuk huruf (kata/suku kata) warga belajar menirukan. Demikian seterusnya. Contoh kata diambil dari benda, aktivitas atau hal-hal yang ditemui sehari-hari (konten lokal dan tematik).

Namun demikian, semangat kerja tutor perlu mendapatkan apresiasi. Kondisi yang sama, semangat pengabdian yang tinggi, saya temukan juga ketika pemantauan di Kedondong Pundongsari, Semin Gunungkidul (menuju lokasi harus jalan kaki mirip naik ke pos Kendit di Merapi). Kompetensi metode pembelajaran tutor masih dapat dikembangkan melalui pendampingan secara berkelanjutan oleh LPTM Kepak Sayap.

oleh : Fauzi EP (Ketua umum IPABI)

0 comments: