Sunday, November 2, 2014

MENUMBUHKEMBANGKAN TAMAN BACAAN MASYARAKAT MELALUI PENDEKATAN NILAI-NILAI SOSIAL BUDAYA

taman bacaan masyarakat


PENGANTAR


Membangun manusia menjadi masyarakat utuh mulai dari membangun pendidikan. Pendidikan berperan utama membangun masyarakat karena pendidikan dapat membawa manusia menjadi masyarakat yang cerdas, mandiri, dan berkarakter mulia. Dengan pendidikan, masyarakat dapat mengubah pola pikirnya; dari pola pikir  masyarakat mekanik menjadi masyarakat organik; atau dari pola pikir tradisional menjadi moderen.  
Amanat undang-undang dalam memenuhi hak warga negara untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan dapat terwujud melalui peningkatan minat baca masyarakat. Salah satu metode untuk menyadarkan dan meningkatkan minat baca masyarakat adalah mendirikan taman bacaan masyarakat, yang disingkat dengan nama TBM.
Kemampuan minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah, sementara disisi lain jumlah TBM yang ada secara kuantitatif sebanyak 4.729 dengan jumlah desa kurang lebih 72.000. Di Sulawesi Selatan TBM yang sudah berdiri sebanyak 373 dengan jumlah desa 2.893 (Dinas Pendidikan Prov. Sulsel, 2008).  Kondisi ini cukup memprihatinkan baik dari segi kuantitatif maupun kualitatif. Dari segi kualitatif berdasarkan hasil evaluasi penyelenggaraan TBM yang selama ini
dilaksanakan masih jauh dari standar minimal sehingga TBM masih terkesan sebagai tempat buku menumpuk.
Atas keprihatinan tersebut, penulis memberikan solusi terhadap masalah TBM melalui penyelenggaraan TBM yang berbasis nilai-nilai sosial budaya masyarakat dimana TBM itu tumbuh dan berkembang.

PEMBAHASAN

Penumbuhan dan Pengembangan 
Istilah menumbuhkembangkan TBM terisnpirasi dari konsep tumbuh kembang anak dalam disiplin ilmu psikologi. Konsep penumbuhan dan pengembangan yang  dimaksudkan dalam pengembangan model TBM ini adalah agar TBM dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Istilah penumbuhan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berkaitan dengan masalah perubahan dalam ukuran baik besar, jumlah, atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu. Namun dalam menumbuhkembangkan TBM, istilah penumbuhan terkait dengan pengorganisasian, karakteristik, keanggotaan, penyelenggaraan, dan struktur organisasi TBM.
Sedangkan, istilah pengembangan terkait dengan pengembangan yang menitikberatkan pada aspek perubahan bentuk atau fungsi TBM, termasuk pula perubahan pada aspek nilai sosial budaya masyarakat di wilayah TBM. Faktor-faktor tersebut merupakan modal dasar TBM dalam mencapai proses pengembangan TBM yang baik. Bentuk fisik TBM yang menarik dapat memotivasi masyarakat untuk mengunjungi TBM. Faktor Lingkungan berpengaruh terhadap pengembangan TBM.
Faktor perilaku sangat terkait dengan prilaku pengelola TBM, masyarakat, dan pemerintah.  Prilaku pengelola TBM yang ramah dapat mendorong menarik masyarakat untuk mengunjungi TBM. Perilaku masyarakat yang sadar akan pentingnya membaca mendorong dirinya untuk mengunjungi TBM. Begitu pula dengan perilaku pemerintah yang menyadari peranan TBM dalam membelajarkan masyarakat akan mendorong dan memotivasi masyarakatnya untuk belajar di TBM.

Taman Bacaan Masyarakat
Pada awal tahun lima puluhan telah berdiri dan berkembang Taman Pustaka Rakyat (TPR) yang didirikan oleh Pendidikan Masyarakat. TPR bertujuan untuk meningkatkan minat dan kegemaran membaca masyarakat dengan memberikan pelayanan bahan bacaan. Pada tahun 1992/1993, TPR ini kemudian berkembang menjadi Taman Bacaan Masyarakat yang disingkat menjadi TBM. Tugas pokoknya adalah menyediakan berbagai jenis bahan bacaan dalam membangun masyarakat
gemar membaca dan gemar belajar (Direktorat Pendidikan Masyarakat, 2006:1). TBM merupakan lembaga pembudayaan kegemaran membaca masyarakat yang menyediakan ruangan untuk membaca, diskusi, bedah buku, menulis, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang sejenis. TBM dilengkapi dengan bahan bacaan berupa buku,
majalah, tabloid, koran, komik, dan bahan multi media lain, serta didukung oleh pengelola yang berperan sebagai motivator (Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat Ditjen PAUDNI, 2011: 6).
TBM dapat didirikan, dikelola, serta dibiayai baik oleh masyarakat, pemerintah daerah, atau masyarakat bekerja sama dengan pemerintah daerah. Seperti namanya, lokasi TBM ini biasanya berada dekat dengan pemukiman atau kegiatan masyarakat. Persyaratan pembentukannya yang tidak ketat, tata cara pengelolaannya yang luwes dan tidak terlalu formal merupakan ciri yang membedakan TBM dengan perpustakaan.
Pembudayaan masyarakat menjadi tidak hanya gemar membaca, bahkan gandrung membaca memerlukan upaya yang sungguh-sungguh, baik dari pihak  pemerintah maupun masyarakat sendiri. Mengingat pengembangan dan peningkatan kegemaran membaca terkait dengan bahan pustaka, maka gerakan nasional gemar membaca menjadi tugas dan tanggung jawab Perpustakaan Nasional (RUU Perpustakaan, Pasal 17).
Data Kemdikbud menunjukkan bahwa di era milenium ini ternyata angka buta huruf masih 8,3 juta orang. Sedangkan angka minat baca di Indonesia berdasarkan data dari Progress in International Reading Literacy Study  (PIRLS) tahun 2006 yang melibatkan siswa SD menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian. Sedangkan data tentang perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara yang dikeluarkan oleh CSM,
seperti Amerika Serikat jumlah buku yang wajib dibaca 32 buku; Belanda 30 buku; Prancis 30 buku; Jepang 22 buku; Swiss 15 buku; Kanada 13 buku; Rusia 12 buku; Brunei 7 buku; Singapura 6 buku; Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku (Direktorat Penmas, 2010).
Mewujudkan masyarakat berbudaya baca berarti turut mendorong tumbuhnya minat baca masyarakat. TBM merupakan salah satu program yang dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan membaca masyarakat. Masyarakat yang sudah mampu dan terampil membaca akan melahirkan minat dan kebiasaan membaca, yang pada akhirnya menjadikan masyarakat sebagai masyarakat berbudaya baca.
Apabila membaca sudah menjadi budaya masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi masyarakat melek informasi. Tercapainya masyarakat melek informasi akan mampu mencari dan mengumpulkan informasi; memilih dan mengolah informasi; dan memanfaatkan informasi untuk meningkatkan kemandirian dan produktivitas kehidupannya.

Pendekatan Nilai Sosial Budaya
TBM yang menggunakan pendekatan nilai sosial budaya dalam penyelenggaraan program-programnya dapat didukung oleh masyarakat pengunjungnya. Hal ini terjadi karena masyarakat merasa memiliki TBM itu. Identitas nilai sosial budaya yang ada dalam program TBM sudah menjadi identitas budaya pada masyarakat pengunjung TBM.  Konsep  keanekaragaman  nilai  budaya tersebut menurut Koentjaraningrat(1981: 63) adalah pertama, manusia itu tidak hidup sendiri di dunia ini tetapi dikelilingi oleh komunitasnya, masyarakatnya, dan alam semesta sekitarnya. Di dalam sistem makrokosmos itu ia merasakan dirinya hanya sebagai unsur kecil saja yang ikut terbawa oleh proses peredaran alam semesta yang mahabesar; kedua, segala aspek kehidupan manusia pada hakikatnya tergantung kepada sesamanya; ketiga, manusia harus selalu berusaha untuk sedapat mungkin memelihara hubungan baik dengan sesamanya yang terdorong oleh jiwa sama rata sama rasa; dan keempat, manusia sedapat mungkin untuk bersifat menyesuaikan diri, berbuat sama dan bersama dalam komunitasnya, yang terdorong oleh rasa sama tinggi sama rendah.
Dengan memperhatikan keempat konsep tersebut, maka keretakan bangsa yang diakibatkan konflik antaretnis dapat diminimalisir.
Pengintegrasian nilai sosial budaya dalam program TBM berperan amat penting bagi sebuah TBM untuk menuju kepada TBM yang menyenangkan. Diakui bahwa masyarakat Indonesia telah menjadikan nilai-nilai sosial budaya sebagai salah satu unsur tujuan dari bangsa ini, sebagaimana telah termaktub dalam dasar negara, yakni sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia mengandung makna bahwa keadilan sosial dapat tercapai apabila tercipta keseimbangan antara kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakat. Apabila nilai sosial itu terwujud dalam diri pribadi masyarakat, maka keseimbangan kehidupan masyarakat dapat tercapai.
Kniker mengemukakan bahwa nilai sosial sebagai suatu standar atau aturan dalam suatu masyarakat yang bersifat abstrak. Nilai tersebut berfungsi sebagai alat mencapai kehidupan masyarakat yang harmonis, sebagaimana dikemukakannya “Social values as the standards or rule of society. This definition is abroad enough to encompass both the abstract (justice, honesty) and the specific (laws and virtues, such as punctuality). Advocates of this definition would see human beings as rule-following animals who basically wish to life in harmony with fellow human beings” (Kniker, 1977: 30).
Pendekatan nilai sosial budaya dalam aktivitas TBM dapat menjadikan TBM tumbuh dan berkembang. Hal ini didukung oleh konsep nilai sosial selalu berorientasi terhadap peningkatan kualitas hidup manusia. Nilai sosial memiliki hubungan sangat erat dengan jati diri manusia sehingga nilai sosial sangat dijunjung tinggi oleh orang banyak atau masyarakatnya. Apabila nilai sosial sudah disepakati melalui konsensus orang banyak, maka nilai tersebut dipandang sebagai hal yang menyangkut
kesejahteraan bersama. Nilai itu kemudian melekat pada etika dan moral masyarakat sehingga apa yang menjadi kebutuhan atau cita-cita yang dianggap baik oleh  masyarakat luas menjadi pedoman dalam hidup di masyarakat tersebut. Nilai sosial menurut Woods (2008: 1) adalah sebagai petunjuk umum yang telah berlangsung lama yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Terpelihara dan terimplementasinya nilai sosial pada setiap program TBM
menjadi TBM dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, dan akan dapat merealisasikan tujuan-tujuan program yang mereka inginkan. Untuk mencapai TBM yang dapat tumbuh dan berkembang, maka ada empat nilai sosial di mana penyelenggara harus mewujudkannya: (1) kerjasama, (2) solidaritas, (3) tolong menolong, dan (4) loyalitas (Mahmud, 2004: 96).

Metode  Menumbuhkembangkan TBM
Metode menumbuhkembangkan TBM melalui pendekatan nilai sosial budaya dapat dilihat sebagaimana gambar berikut:



Gambar di atas menunjukkan bahwa nilai sosial budaya yang diintegrasikan dalam menumbuhkembangkan TBM adalah nilai sosial budaya Bugis. Nilai-nilai sosial budaya tersebut adalah nilai sipakainge, sipakalebbi, dan sipakatau. Tiga konsep nilai-nilai tersebut menjadi pilar bagi TBM untuk mewujudkan masyarakat menjadi masyarakat yang sadar baca, cerdas, dan religius. Konsep sipakainge bermakna adanya saling ingat mengingatkan dalam kebaikan antara pengelola TBM dengan masyarakat di wilayah TBM. Kata sipakainge adalah kata yang berasal dari bahasa Bugis yang berarti saling mengingatkan. Nilai sipakainge ini masih terpelihara dalam kehidupan masyarakat Bugis.
Selain nilai sipakainge, nilai sipakalebbi dan sipakatau juga menjadi pegangan pengelola dalam menjalin hubungan harmonis dengan masyarakat di wilayah TBM. Secara etimologi, sipakalebbi berarti saling memuliakan, dan sipakatau berarti saling menghargai. Konsep sipakalebbi menjadi konsep yang harus dimplementasikan oleh pengelola TBM terhadap pengunjungnya. Semua orang senang akan dimuliakan oleh orang lain. Dengan sifat memuliakan ini, pengunjung TBM akan merasa tenang dan senang duduk berlama-lama di TBM. Disamping dimuliakan, pengunjung TBM perlu dihargai atas waktunya berkunjung ke TBM. Sifat menghargai pengunjung yang ditampakkan oleh pengelola merupakan implementasi dari konsep sipakatau. Peranan nilai-nilai budaya dalam membudayakan budaya baca masyarakat merupakan faktor pendukung yang tidak boleh diabaikan. Untuk menumbuhkembangkan TBM yang berbasis nilai sosial budaya Bugis, Pengelola hendaknya menerapkan tiga konsep nilai dalam pelayanan: (1) mabbere warekkada madeceng, (2) manyameng kininnawa, dan (3) fada siobbi-obbi lao ri gau madecengnge. Tiga nilai itu harus ada dalam jiwa setiap pengelola TBM. Pengelola TBM hendaknya memiliki sifat senang menyapa pengunjung dengan sapaan yang menyejukkan, menanyakan bagaimana kabar pengunjung, ramah, dan sopan. Secara etimologi, mabbere warekkada madeceng, manyameng ininnawa, dan fada siobbi-obbi lao rianu madecengnge adalah bahasa Bugis dengan arti bertutur sapa yang baik, menyenangkan, dan saling mengajak dalam kebaikan. Pengunjung yang disapa dengan penuh kesopanan, disambut dengan raut wajah gembira dan disertai dengan senyum lalu diundang ke TBM akan tergerak hatinya untuk mendatangi TBM.
Konsep menumbuhkembangkan TBM yang menekankan pada peranan nilai-nilai sosial budaya yang ada pada masyarakat Bugis dapat tetap lestari. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi pendorong dan perekat masyarakat untuk mendatangi TBM. Kegiatan melalui pendekatan nilai sosial budaya masyarakat yang dilakukan di TBM mendapat dukungan dari masyarakat.  Selain strategi tersebut, pengelola TBM harus menjalin sinergitas antara pemerintah, masyarakat, dan pengelola TBM dalam menumbuhkembangkan TBM.
Pelibatan orang-orang tersebut terhadap kegiatan program TBM ternyata cukup baik dan efektif. Orang-orang tersebut adalah ketua RT/RW, Kades/Lurah, dan tokoh masyarakat setempat.  Karena mereka memiliki pengaruh yang kuat di mata masyarakat sehingga mudah mengajak masyarakat untuk mengunjungi TBM.
Kesuksesan TBM dalam mengajak masyarakat untuk datang membaca tidak terlepas dari strategi pengembangan yang dilakukan oleh pengelola TBM. Tiga strategi yang digunakan pengelola TBM untuk menjadikan TBM tetap tumbuh dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat: (1) strategi kekuasaan, yang meliputi ketua RT/RW, kepala dusun, kepala Kelurahan, camat, dan tokoh-tokoh masyarakat; (2) strategi persuasif, yakni melalui media massa, keterampilan produktif,
dan kegiatan nilai-nilai sosial budaya masyarakat; dan (3) strategi reedukatif normatif, yakni pendidikan formal, nonformal dan informal. Strategi persuasif dilakukan oleh TBM Ujung Tape dalam rangka menghidupkan TBM. Masyarakat harus diyakinkan bahwa TBM bukan hanya sebagai
tempat membaca, tetapi juga tempat mendapatkan keterampilan, termasuk kegiatan adat dan budaya masyarakat setempat. Wujud dari strategi persuasif tersebut adalah pengelola TBM Ujung Tape mengharapkan media lokal untuk mempublikasikan kegiatannya. Hal ini dimaksudkan untuk memperkenalkan TBM dikalangan masyarakat luas. Kegiatan produktif dilakukan untuk memberikan bekal keterampilan seperti resep masakan bagi ibu-ibu rumah tangga. Sedangkan kegiatan nilai sosial budaya tampak pada peranan masyarakat dalam menyukseskan program lomba yang diadakan di wilayah TBM.
Strategi reedukatif normatif merupakan strategi yang melibatkan masyarakat pendidikan, baik jalur pendidikan formal maupun nonformal dan informal. Pelibatan semua jalur pendidikan tersebut dimaksudkan agar setiap warga negara dapat mengakses pendidikan, dalam hal ini TBM sebagai sarana bagi masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan. Sedangkan kegiatan bagi pendidikan formal diperuntukkan kepada anak SD hingga SMA atau yang sederajat dan pendidikan nonformal diperuntukkan kepada warga belajar pendidikan anak usia dini non formal dan informal.

KESIMPULAN
TBM dengan pendekatan nilai sosial budaya dalam implementasi programnya mendapat dukungan yang kuat dari masyarakat. Hal ini terjadi karena nilai sosial budaya sudah menyatu dengan diri masyarakatnya. Dengan demikian, TBM dengan basis nilai sosial budaya menjadikan TBM itu dekat dengan masyarakat. Disamping itu, masyarakat merasa memiliki TBM.
TBM yang berbasis pada kegiatan nilai sosial budaya masyarakat dalam pelaksanaan progran dan pelayanan kepada masyarakat telah terbukti efektif dan efisien memberikan motivasi membaca dan layanan pendidikan kepada masyarakat.

REFERENSI

Direktorat Pendidikan Masyarakat. (2006). Pedoman Pengelolaan TBM. Jakarta: Direktorat Pendidikan Masyarakat.
--------- (2010). Taman Bacaan Masyarakat Kreatif. Jakarta: Direktorat Pendidikan Masyarakat.
---------- (2009). Media Informasi Pendidikan Nonformal & Informal: “Menumbuhkan Minat Baca Sejak Usia Dini.” Vol. 78. Edisi XI.
Kniker, C.R. (1977). You and Values Education. Columbus. Ohio: Charles E. Merril Publishing Company.
Mahmud, A.A.H. (2004). Akhlak Mulia. (Terjemahan). Jakarta: Gema Insani.
Raven, J. (1977). Education, Values, and Society: The Objectives of Education and the Nature and Development of Competence. London:HK Lewis & Co. Ltd.
Sumadi. (1987). Hubungan Minat Baca dan Bakat Bahasa dengan Prestasi Membaca Pemahaman Siswa SMA Kodya Malang. Thesis. Malang: PPs IKIP Malang.
Yasil, S. (2002). Ensiklopedi: Sejarah dan Kebudayaan Mandar. Makassar: Forum Studi dan Dokumentasi Sejarah dan Kebudayaan Mandar.

Oleh     : Dr. Muhammad Fardus
sumber : bpplsp-reg5.go.id

>>> Ini file file nya broo <<<

Saturday, November 1, 2014

BUAH MANIS DARI KETELADANAN


guru di gugu ditiru

Guru, di gugu lan ditiru.

Guru adalah panutan. Ucapan dan tindakannya menjadi acuan murid.
Ketua Yayasan Pesantren Al Azhar Jakarta, Ustadz Muhammad Suhadi, mengatakan murida akan menjadikan guru sebagai teladan, figur dalam hidup. Sampai akhir hayat, keteladanan guru akan selalu diingat. " Guru harus memberikan keteladanan," tuturnya.
Tidak hanya itu, kata dia harus didukung dengan ikhlas. akan beda hasilnya antara proses pendidikan yang dijalankan dengan ikhlas dan mana yang tidak.
Pendidikan dengan ikhlas akan terasa manfaatnya bagi banyak orang, sedangkan yang setengah hati, bahkan tidak ikhlas, hanya akan menimbulkan kerugian. "Ini selalu saya tekankan kepada guru-guru di sini," kata Suhadi.
Ia selalu mengingatkan guru-guru dilembaganya untuk selalu ikhlas dalam menjalankan amanah yang di emban. Jadi Guru berarti harus mendidik anak sepenuh hati, "Jangan setengah-setengah," ujarnya 
Ketika guru ikhlas mendidik, maka anak-anak akan diperhatikan seperti memperhatikan diri sendiri. Mereka bukan dianggap orang lain. Anak akan mendapatkan kasih sayang yang cukup. Sehingga mereka tumbuh menjadi dewasa dengan baik.
Mengajar siswa mesti pula dengan kasih sayang., " Kasih sayang ada di hati," kata dosesn Universitas Al-Azhar Jakarta selatan Ustadz Ahmad ahidin..
Dosen agama Islam Universitas Yarsi Andian Parlindungan menyatakan bahwa para guru hendaknya menyadari mereka memiliki peran yang sangat penting dan strategis. Mereka bukan hanya sebagai pengajar, melainkan juga pendidik. Pengajar hanya memikirkan bagaimana mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didik.
Adapun pendidik bukan hanya berkewajiban mengajar melainkan mendidik anak didik dari tiga spek penting manusia yaitu, akal, hati, dan jiwa. Kesemuanya merupakan organ spiritual yang berfungsi menyimpan dan menghayati ilmu dari Allah, sekalipun sumber dan dasar manusia berperilaku. Jika tetanam disana adalah keburukan maka niscaya perilakua anak didik akan buruk juga, "dan begitu pula sebaliknya," ujar Andian.
Jika para guru memahami tugas pendidikan bukan hanya pengajaran, guru juga memahami pentingnya sifat sifat mulia yang harus mereka miliki. Pertama adalah dedikasi yang tinggi terhadap anak didik. Kedua, memiliki rasa tanggung jawab, bukan hanya menjadikan anak didik cerdas melainkan juga berakhlak.
Kemudian, Andian menjelaskan, guru harus memiliki semangat yang tinggi untuk mewujudkan pendidikan yang komprehensif. Mereka memiliki integritas yang tinggi terhadap dunia pendidikan. Juga memiliki visi dan cita cita mulia dalam menjalankan tugas pendidikan. 
Dia memberikan tips kesuksesan mendidik, pertama adalah keikhlasan, guru yang ikhlas dan punya wawasan pendidikan yang mumpuni akan lebih ikhlas mengajar. Tidak seperti guru yang banyak bekerja sekedar untuk mendaatkan gaji.
selain itu, guru harus menyadari peran aktifnya dan kesadaran akan pendidikan. Mereka harus mengerti dan memahami kurikulum pendidikan yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan jaman, terutama berbasis pendidikan karakter.
Lembaga pendidikan yang baik dan kondusif juga menentukan kesuksesan pendidikan, jangan sampai lembaga pendidikan hanya sibuk mengurus proposal mencari donatur pendanaan, sedangkan anak didik dibiarkan terlantar.
Guru memainkan perannya dengan memaksimalkan diri untuk menjadikan anak lebih baik dari diri sendiri. Jangan sampai dibiarkan begitu saja. sementara guru sibuk dengan kegiatannya sendiri     

oleh : Erdy Nasrul
Sumber: harian Republika 29 november 2013



BERSAMA GURU MENUJU SURGA

guruku ikhlas

"Sebaik-baik kalian adalah yang mengajarkan Alqur'an (HR. Muslim)

Ilmu yang diajarkan guru bernilai sedekah

Islam memuliakan guru. Orang yang berilmu dan mengamalkannya memiliki kedudukan yang utama daripada ibadah.
Ketua Departemen Dakwah Pimpinan Pusat Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Ustadz Ahmad Kusyairi Suhail mengatakan guru yang memiliki keistimewaan merupakan guru yang memiliki semangat mengajarkan ilmunya.
Ilmu yang bermanfaat yang dimiliki seorang guru merupakan bukti bahwa dia temasuk orang yang beriman. "Allah SWT suka yang belajar dan mengamalkannya, " tutur dia.
Kusyairi menegaskan, guru akan mendapatkan manfaat tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Hadis Riwayat Muslim menyebutkan, seluruh amal perbuatan seorang manusia akan terputus jika meninggal dunia, kecuali tiga hal, yaitu ilmu yang bermanfaat, amal sedekah, dan anak yangg shaleh.
Menjadi seorang guru artinya memiliki ilmu yang bermanfaat karena telah diamalkan dan diajarkan kepada muridnya. Sehingga, ilmu yang pernah diajarkan akan terus menerus digunakan dan mendapatkan pahala yang tak pernah trputus, bahkan sampai dia meninggal.
Kusyairi menambahkan, Islam sangat menghormati kedudkan guru karena guru merupakan penerus misi nabi dan rasul. Estafet risalah yang diterima oleh Rasulullah SAW diteruskan oleh para guru itu, pada hakikatnya. Sehingga, Rasul pun menyerukan agar memosisikan guru dalam kedudukan yang terhormat. "Berkat guru, yang semula tidak tahu menjadi tahu," ujar dia.
Di dunia, tutur Kusyairi, gurusejatina juga memberikan kebahagiaan. Ini berkat ilmu pengetahuan yang mereka transfer. Bedakan dengan seorang yang luput dari sentuhan guru, tak memiliki ilmu, dan menjadi manusia "buta"
Namun ungkap dia ada kriteria seorang guru dikategorikan ideal. Di antaranya mengajarkan kebaikan dan mampu mengarahkan perilaku anak didik dari yang semula kurang baik menjadi baik.
Kedua, seorang guru harus memiliki akhlak yang mulia. Untuk menjadi teladan yang baik dan dapat dijadikan contoh, guru harus berakhlak mulia. "Bagaimana murid baik bila si guru tak pernah baik". kata dia.
Guru juga harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap pekerjaannya dan anak didiknya.Karena, guru tidak semata-mata hanya mentrasnfer ilmu, tetapi juga mendidik dan menjaga anak agar tetap berbuat baik.
Sebagai guru, dia harus mampu mngemban amanah dan dapat mengajarka ilmu untuk membedakan mana perkara yang makruf dan apa sajakah urusan yang munkar. Sehingga, si anak dapat membedakan hal baik dan hal yang buruk.
Dosen pasca sarjana Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Ustadz Mulyadi Kosim mengatakan, Islam memandang guru sangat mulia. Ilmu yang disampaikan seorang guru akan mendapatkan nilai nilai kebaikan bahkan hingga akhirat.
Kedudukan guru sampai bermacam-macam sesuai dengan sebutannya. Seorang guru tidak hanya menjadi rang yang bertugas mentransfer ilmu. Guru adalah seorang mualim yang memberikan ilmu dan mencerdaskan anak didiknya. guru bertugas sebagai muaddib yang bertugas untuk menjadikan manusia yang beradab.
Guru juga bertugas untuk menyebarkan ta'dzim uluhiyah. Artinya guru juga dapat menyampaikan akhlak dan pensucian jiwa. Sebagai Mursyid, guru juga menjadi pembimbing dan memberikan petunjuk kebenaran.
Sedangkan keistimewaan seorang guru, menurut Mulyadi yang juga sebagai kepala sekolah International Islamic High school Jakarta adalah sebagai pewaris kenabian.Artinya seorang  guru membawa anak didik dari kegelapan kepada cahaya.
Guru disebut istimewa karena dia telah melanjutkan tongkat estafet perjuangan Rasulullah. Allah SWT juga menjadi 'guru' pertama bagi Adam AS. Mengajarkan perkara yang belum diketahui, lalu menjadi tahu. Guru menjadi sumber perubahan bagi murid yang tidak baik menjadi baik.
Qosim pun menyebutkan sejumlah kriteria guru ideal, antara lain amanah, memiliki hubungan yang dekat dengan muridnya, memiliki akhlak yang mulia dan wawasan yang luas. Guru di tuntut pula memiliki ilmu kejiwaan dan ilmu cara untuk mendidik."Guru mesti bisa berkomunikasi dari hati ke hati," papar dia.
Guru, kata Qosim harus menjadi contoh teladan baik bagi anak-anak dan menjadi teman pada saat anak-anak mengalami masalah. Sehingga anak didik dapat menghormati mereka. Hubungan antar keduanya tidak hanya formalitas, tapi juga saling menghargai dengan mendengarkan segala nasihat dan menerapkan ilmu yang diajarkan.

Oleh : Ratna Ajeng Tejomukti
Sumber: harian Republika 29 november 2013

Tuesday, October 28, 2014

“Pendidikan Nonformal”


belajar sepanjang hayat
Pada dasarnya ada tiga jenis pendidikan yaitu: pendidikan formal, pendidikan nonformal dan pendidikan informal.
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan anak usia dini (TK/RA), pendidikan dasar (SD/MI), pendidikan menengah (SMP/MTs dan SMA/MA), dan pendidikan tinggi (Universitas). Pendidikan formal terdiri dari pendidikan formal berstatus negeri dan pendidikan formal berstatus swasta.
Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.
Pendidikan Informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.
Kita sebagai masyarakat yang peduli akan dunia pendidikan wajib hukumnya tahu apa dan bagaimana peran ketiga jenis pendidikan ini. Dari ketiga jenis pendidikan ini, Saya hanya ingin mengulas sedikit tentang pendidikan nonformal yang turut berperan dalam upaya peningkatan kualitas dunia pendidikan.
Jenis dan Sasaran Pendidikan Nonformal
Pendidikan nonformal adalah salah satu bentuk layanan pendidikan yang bertujuan sebagai pengganti, penambah, dan pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Adapun jenis pendidikan nonformal dapat berupa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. Pendidikan kesetaraan meliputi Paket A, Paket B dan Paket C, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik seperti: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar, dan lain sebagainya, sertapendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
Dengan bermunculannya pendidikan nonformal di sekitar kita maka diharapkan anak akan mendapatkan nilai dan ilmu lebih dari apa yang telah mereka dapatkan di sekolah dan lingkungan keluarganya. Sesungguhnya pendidikan nonformal adalah pendukung dari pendidikan formal yang anak-anak wajib hukumnya dapatkan di sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta. Pendidikan Nonformal juga pendukung dari pendidikan informal yang anak-anak harus terima dari lingkungan keluarga. Dalam hal ini menyangkut pendidikan agama, budi pekerti, etika, sopan santun, moral dan sosialisasi yang seharusnya diperkenalkan perdana sekali oleh kedua orang tua mereka. Terkadang tidak sedikit orang tua yang melupakan peran pentingnya dalam mengutamakan pendidikan informal melalui tangan mereka sendiri. Mereka lebih puas jika pendidikan informal itu menjadi tugas rangkap para pendidik di pendidikan nonformal. Lihat saja sekarang, anak usia dibawah 3 tahun saja sudah banyak yang dididik di PAUD padahal sudah menjadi peran penting orang tua lah pendidikan anak usia dini. Segala sesuatu harus berawal dari keluarga karena hal itulah yang akan menciptakan kepribadian anak nantinya. Intinya, pendidikan nonformal hanyalah pendukung dari segala jenis pendidikan.
Peran Pendidikan Nonformal
Kehadiran berbagai PAUD dan lembaga pendidikan nonformal yang kian beredar di sekitar kita menunjukkan betapa pedulinya oknum pendidik nonformal terhadap dunia pendidikan nonformal. Ini akan sangat membantu para orang tua yang menginginkan nilai lebih yang dihasilkan anak-anak mereka sebagai bentuk pendukung pendidikan formal yang anak terima di sekolah. Dalam hal ini peran penting pendidikan nonformal sebagai salah satu bentuk layanan pendidikan yang bertujuan sebagai pengganti, penambah, dan pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat bergerak sebagaimana mestinya. Masyarakat patut bersyukur dengan keberadaan pendidikan nonformal maka kebutuhan anak-anak dalam mengganti, menambah dan melengkapi pendidikan formal mereka bisa terpenuhi. Sebut saja berbagai contoh yang ada di sekitar kita saat ini; dengan adanya Sanggar Kegiatan Belajar yang menawarkan pembelajaran seperti di sekolah formal tapi dengan keringanan jam belajar membantu anak-anak untuk tetap bersekolah di waktu mereka yang mungkin tidak sefleksibel anak-anak di sekolah formal. Pengadaan Program Paket A, B dan C oleh pendidikan nonformal membantu semangat anak-anak yang tidak lulus sekolah formal kembali berkobar karena peraturan pemerintah yang menyatakan ijazah mereka setara dengan anak-anak yang menimba ilmu di sekolah formal. Kemunculan banyaknya PAUD cukup meringankan beban orangtua yang mungkin sebagian besar waktunya terkurasakan dunia karir mereka. Di PAUD, anak-anak dipastikan mendapatkan dasar pendidikan formal sebagai bekal mereka sekolah nanti dan tambahan pendidikan informal sebagai pelengkap pendidikan informal yang mereka dapatkan di lingkungan keluarga. Banyaknya Lembaga Kursus dan Bimbingan Belajar yang kian marak di sekitar kita dapat menjadi penambah dan pelengkap ilmu yang anak-anak peroleh di sekolah formal. Sungguh besar peran dunia pendidikan nonformal.
Bersikap selektif
Menilik banyaknya PAUD, lembaga kursus dan bimbingan belajar yang berlomba-lomba menawarkan keunggulan dari masing-masing lembaga, banyak orang tua berbondong-bondong mengantarkan anak-anaknya ke lembaga pelayanan pendidikan nonformal tersebut berharap buah hati mereka mendapatkan pendidikan tambahan yang tepat dan baik untuk melengkapi kebutuhan pendidikan formal mereka. Oleh karena itu sudah selayaknya orang tua bersikap selektif dalam memilih PAUD, lembaga kursus dan bimbingan belajar yang tepat untuk anak-anak mereka mengingat kian maraknya keberadaan layanan pendidikan nonformal yang hanya berasas manfaat. Jadi, meninjau betapa banyak kelebihan yang ditawarkan pendidikan nonformal dalam rangka melengkapi pendidikan formal dan informal sudah sepantasnya lah kita sebagai masyarakat yang peduli akan pendidikan generasi penerus bangsa memilih yang terbaik dan sesuai kualitas yang ditawarkan. Jangan lupa untuk menjadi saksi keberhasilan anak-anak akan proses belajar yang dilakukan selama anak-anak dalam masa pembelajaran di PAUD, Lembaga Kursus dan Bimbingan Belajar di sekitar kita. Buat anak, jangan coba-coba. Apalagi menyangkut pendidikan yang bersifat mendidik sepanjang hayat. Jadilah pendidik sejati yang berawal dari pendidikan di lingkungan keluarga, masyarakat dan bangsa.

sumber : http://edukasi.kompasiana.com/


Sunday, October 26, 2014

Jauhkan Anak dari Kekerasan Seksual

Kasus kekerasan seksual pada anak kerap muncul dalam pemberitaan media nasional dalam beberapa bulan belakangan ini. Meski telah menimbulkan trauma psikis dan fisik terhadap korban, ancaman hukuman terhadap pelaku terkadang relatif ringan. Bahkan beberapa perkara menguap begitu saja. Lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan seksual membuat banyak orang tua was-was akan keselamatan anak mereka. 

Istilah kekerasan seksual pada anak muncul sejak 1999 oleh American Academy of Pediatrics. Istilah ini sendiri berarti perlakuan seksual dari orang dewasa kepada anak yang belum cukup umur, dan melanggar hukum serta norma sosial. Seperti kontak fisik yang tidak wajar hingga hubungan seksual atau pemerkosaan.

Kasus kekerasan seksual pada anak kerap muncul dalam pemberitaan media nasional dalam beberapa bulan belakangan ini. Meski telah menimbulkan trauma psikis dan fisik terhadap korban, ancaman hukuman terhadap pelaku terkadang relatif ringan. Bahkan beberapa perkara menguap begitu saja. Lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan seksual membuat banyak orang tua was-was akan keselamatan anak mereka. 

Istilah kekerasan seksual pada anak muncul sejak 1999 oleh American Academy of Pediatrics. Istilah ini sendiri berarti perlakuan seksual dari orang dewasa kepada anak yang belum cukup umur, dan melanggar hukum serta norma sosial. Seperti kontak fisik yang tidak wajar hingga hubungan seksual atau pemerkosaan.

Menurut psikolog anak, Toge Aprilianto kepada Plasadana.com untuk Yahoo Indonesia, kekerasan seksual pada anak dapat teridentifikasi dengan melihat perubahan perilaku maupun kondisi fisiknya. “Anak-anak cenderung akan lebih pendiam dan menutup diri setelah kejadian kekerasan seksual,” kata Aprilianto, Rabu, 16 Oktober 2014. “Terkadang juga ada perubahan fisik.”

Untuk mencegahnya, orang tua harus membiasakan anak untuk mengenal konsep kepemilikan. Seperti menjaga dan melarang orang lain menyentuh alat genital, dada, bokong, paha, serta mulut. Juga membekali anak cara menghadapi pelaku kekerasan seksual.

Orang tua harus ikut pula berperan dalam melindungi anak dari kekerasan seksual dengan membantunya belajar menjadi dewasa. Istilah dewasa dalam konteks perilaku mengacu pada kualitas personal dan berkaitan dengan kondisi mental yang berisi kesanggupan berpikir, belajar, serta peduli. Sedangkan dewasa dalam konteks kualitas personal, orang tua dapat mengajarkan anak untuk menjadi dewasa sebelum mereka berusia 13 tahun. “Sehingga pada masa remaja, anak-anak tidak menjadikannya sebagai ajang pencarian jati diri semata,” kata dia.

Aprilianto menyarankan agar orang tua mulai mengajarkan anak tentang pendidikan seks sejak dini. Terlebih bila anak-ana sudah bisa diajak berinteraksi. Sebab pendidikan seks adalah proses pembentukan atau perubahan sikap untuk menjadi dewasa. Pemahaman seks bisa dilakukan dengan metode belajar dan menjadikannya sesuatu yang bersifat alamiah. Bukan menempatkan pendidikan seks sebagai hal tabu.

Pendidikan seks tidak perlu dikemas dalam bentuk kurikulum khusus atau sebagai program formal seperti belajar di sekolah. Malah sebaiknya dilakukan dalam ruang privat sebagai aktivitas personal. “Supaya isu seks tidak jadi tema murahan,” kata dia. Tujuannya pun bukan mengajarkan anak terhindar dari aktivitas seks di usia dini. “Tapi mengajarkan mereka supaya paham tentang alat kelamin, fungsi, dan pemanfaatannya.”



sumber:
https://id.she.yahoo.com/