Wednesday, May 11, 2011

Kebanyakan Nonton TV dan Bermain Game, Kemampuan Berbahasa Si Kecil Mandeg

Para orang tua kembali diperingatkan untuk mendamping anak-anak mereka saat menonton televisi atau bermain game. Pasalnya, selain berdampak negatif terhadap psikologis anak, kebanyakan nonton televise dan bermain game juga menghambat kemampuan berbicara anak.

Menurut catatan peneliti Inggris, hampir 100.000 anak berusia 5 tahun di Inggris memiliki kemampuan verbal yang kurang. Bahkan statistik resmi menyebutkan kebanyakan anak-anak di Inggris tidak memiliki kemampuan berpikir dan berbahasa yang cukup baik.

Semula peneliti menyimpulkan bahwa persoalan genetik penyebab kurangnya kemampuan verbal anak-anak di Inggris. Namun, usai diteliti lebih lanjut, peneliti menemukan minimnya peran orang tua saat melihat anak-anak mereka asyik menonton televisi dan bermain game.

Padahal, menurut asumsi peneliti, orang tua bisa mendamping anak-anak mereka dengan berperan sebagai "detektif" atau "penasihat" yang selanjutnya membahas apa yang anak-anak tonton dan mainkan.

Jean Gross, penasihat komunikasi pemerintah Inggris, mengatakan tradisi makan bersama keluarga merupakan satu solusi konkrit untuk mengejar ketertinggalan anak-anak saat mengembangkan kemampuan berbahasa mereka.

“Kami tahu jumlah percakapan sangat menentukan keberhasilan anak mengembangkan kemampuan berbahasa mereka. Hal itu tidak bisa diperoleh ketika TV berada di sekitar anak sepanjang waktu. Kondisi itu tentu mengurangi jumlah percakapan yang pada gilirannya menghambat perkembangan bahasa," papar dia seperti dikutip dailymail.co.uk, Rabu (11/5).

Karena itu, Gross menyatakan dukungannya terhadap kampanye Hallo, sebuah kampanye yang bertujuan untuk mengeliatkan komunikasi pada anak-anak dan remaja di rumah, penitipan anak, dan sekolah.

Menurut Gross, 82 persen orang tua banyak yang menanyakan perihal cara untuk mengembangkan kemampuan anak-anak dalam berpidato, berbahasa dan komunikasi. Padahal, kata dia, caranya cukup sederhana, yaitu ajak anak berbicara, berdiskusi dan membahas banyak hal. Selain itu, Gross dengan merujuk pada hasil riset Universitas Dundee, menyatakan aktivitas seperti bernyanyi bersama lagu anak-ana dan melihat album foto merupakan cara lain dalam meningkatkan kemampuan berbahasa anak-anak.

Selain mengajak berbicara, Gross juga menekankan pentingnya pengulangan kata-kata baru sehingga melatih daya ingat. Kuatnya daya ingat menurut Gross akan mempermudah penggunaan kosa kata pada anak ketika mereka bersosialisasi. Gross juga menyarankan kepada setiap keluarga untuk membiasakan bermain bersama dengan anak-anak. Ditambahkan Gross, orang tua tidak perlu harus terpaku pada game yang ada. Menurut dia, perlu juga berinovasi menciptakan permainan sendiri.

Sumber: dailymail.co.uk

Pada Usia Berapa Sih, Anak-Anak Mulai Diajar Disiplin?

Pada usia berapa anak-anak mulai diajar disiplin? Inilah pertanyaan yang jamak mengemuka di kalangan orang tua baru. Disiplin kerap dikonotasikan dengan bersikap tegas dan sedikit "keras" pada anak.

Jika anak kita berusia 2 tahun dan melemparkan botol minumannya setelah isinya kosong, haruskah kita menghukumnya? Bukankah ini perilaku wajar anak-anak? Demikian pertanyaan umum lainnya.

Memang, mengajarkan disiplin tak bisa dilakukan secara serta-merta, tapi bertahap. "Kesalahan orang tua adalah mengkonotasikan disiplin dengan aktivitas menghukum, padahal disiplin yang sebenarnya adalah mendidik," kata prikolog Deborah Roth Ledley PhD, penulis buku Becoming a Calm Mom: How to Manage Stress and Enjoy the First Year of Motherhood.

Ketika balita Anda mencecerkan makanan di lantai, misalnya, Anda bisa mengingatkan dia bahwa cara itu tidaklah baik. Teguran Anda, tentu disesuaikan dengan usianya, dan dengan bahasa yang mudah dipahaminya. Dan satu lagi, "Jangan dengan berteriak."

Disiplin, katanya, adalah pendidikan sejak lahir. Untuk bayi 1 tahun, misalnya, disiplin adalah dengan menyosialisasikan pada anak tentang kebiasaan-kebiasaan sederhana dan mengajarkan padanya tentang batasan-batasan. "Menginjak usia dua tahun dan seterusnya, Anda bisa mulai melakukannya dengan memberi contoh-contoh perilaku," katanya.

Sumber : republika.co.id

Sekolah Ideal untuk Anakku

Sungguh tidak mudah mencari sekolah di jaman sekarang dimana kondisi ibu yang berpendidikan, ayah yang penuh harapan dan terlalu sayang dengan anak. Demikianlah gambaranku terhadap ayah dan ibu yang mondar-mandir mencari sekolah disana-sini, berkali kali membolak-balik koran, membaca brosur dan bertanya-tanya kepada kawan serta kerabat mengenai sekolah mana yang terbaik untuk anaknya.

Telinga pun dipasang lebar-lebar sampai akhirnya didapatkan juga beberapa buah sekolah yang direferensikan oleh kawan-kawannya. Ada sekolah dekat jalan X, muridnya sedikit lalu gurunya islami namun jangan kaget bila fasiltasnya sangat sederhana, yang punya sih orangnya cerdas dan konsepnya bagus namun biayanya agak mahal sedikit, tapi okelah daripada anak harus sekolah dan les lagi sepulang sekolah, karena sekolahnya full day dari pagi hingga petang hari sehingga cocoklah untuk orang tua yang sibuk bekerja.

Selain itu ada juga tawaran di dekat rumah, muridnya juga sedikit, gurunya sudah tua-tua namun agak konvensional dan kurang ceria mungkin dikarenakan gurunya sudah tua, tapi bila sekolah disana, anak tidak usah jauh-jauh meninggalkan rumah sehingga kalau pergi dan pulang sekolah bisa jalan kaki, menghemat biaya.

Akh, mencari sekolah yang ideal mungkin sudah dilakukan sampai kemana-mana, namun sebetulnya yang kita cari adalah sekolah buatan kita, agar anak kita menjadi pandai atau sekolah yang memuaskan keinginan orang tua. Bagi saya pribadi, sekolah yang ideal tidak ada, karena semua harapan adalah cita-cita kita para orang tua, dan setiap sekolah memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Sekarang tinggal bagaimana kita melihat apakah sekolah itu yang kita inginkan dan yang kita butuhkan sehingga sekolah itu mampu menjadi sekolah yang ideal bagi anak kita.

Cuma, pendapat penting tentang sebuah sekolah yaitu sebuah sekolah harus dapat membantu kita orang tua dalam mendidik anak kita. Sekolah yang utama sebetulnya adalah di rumah dengan ayah sebagai kepala sekolah dan ibu sebagai walikelasnya serta mbok Inem (pembantu rumah tangga/khadimat/assisten rumah tangga) sebagai assistennya.

sumber : http://www.republika.co.id

Tuesday, May 10, 2011

Tanamkan Karakter Anak secara Sederhana

Pendidikan karakter merupakan salah satu hal penting bagi dunia pendidikan nasional saat ini. Namun, bagaimana caranya menanamkan hal tersebut pada anak-anak didik di tengah dunia akademis yang saat ini "belum" dinomorsatukan?


Pemerhati pendidikan dari Education Forum, Elin Driana, mengatakan, salah satu caranya adalah menentukan sekolah yang tepat bagi anak. Tepat di sini, lanjut Elin, sekolah yang memerhatikan nilai-nilai akademis dan character building secara seimbang.

"Jangan hanya nilai-nilai akademis, tetapi harus juga diajarkan dan dicontohkan kepada anak bahwa mencontek itu tidak baik. Ketika anak melakukan kesalahan, semestinya diperbaiki, bukan dengan cara ditegur atau dihukum," ujar Elin

Elin mengatakan, hal tersebut dapat diajarkan secara sederhana, yakni dengan menanamkan nilai-nilai itu dalam kegiatan sehari-hari di lingkungan sekolah. Untuk itu, lanjutnya, pendidikan karakter tidak perlu dijadikan sebagai satu mata pelajaran khusus di sekolah.

"Semua bisa dimasukkan dalam nilai-nilai yang diajarkan di lingkungan sekolah. Contohnya, anak dapat diajarkan berdisiplin untuk tidak terlambat masuk sekolah, lalu berdisiplin dalam upacara bendera. Jadi, itu yang penting menurut saya, tidak harus dibuatkan mata pelajaran khusus," tuturnya.

Bermula di rumah

Selain menentukan sekolah yang tepat bagi anak, Elin menambahkan, penanaman pendidikan karakter sebaiknya dimulai dari rumah. Dalam hal ini, orangtua kembali mempunyai peran penting untuk membentuk karakter putra-putrinya.

"Kalau dari volumenya, anak itu paling banyak berada di rumah, karena dia (anak) juga, kan, darah daging orangtuanya," kata Elin.

Elin menuturkan, banyak hal dapat dilakukan orangtua untuk membangun karakter anaknya di rumah. Salah satunya membuat pola komunikasi yang baik dengan anak. Hal itu dimaksudkan agar hubungan anak dan orangtua dapat berjalan secara maksimal sehingga karakter anak dapat terlihat.

"Selain itu, bisa juga dengan cara memberikan kebebasan anak melakukan kegiatannya. Namun, kebebasan di sini dalam arti bahwa orangtua juga harus tetap memantau kegiatan-kegiatan mereka itu," pungkas Elin.

sumber: edukasi.kompas.com

Sunday, May 8, 2011

Pendidikan Alternatif Makin Diminati

Pendidikan alternatif, seperti homeschooling atau sekolah rumah dan sekolah alam, kini semakin berkembang dan diminati di Tanah Air. Pendidikan alternatif ini pola pendidikannya membawa anak tidak berjarak dengan realitas kehidupan.


Pendidikan alternatif ini lahir karena sekelompok pemerhati pendidikan tidak puas terhadap layanan pendidikan yang ada. Pembelajaran di sekolah umum sebagian besar masih bersifat konvensional dan kaku yang membatasi kreativitas serta kekhasan alamiah anak-anak yang ingin bermain sambil belajar.

”Pendidikan kita itu menawarkan belajar hanya untuk belajar. Padahal, seharusnya belajar itu untuk bekal kehidupan,” kata Moh Sulthon Amien, Ketua Pembina Yayasan Insan Mulia yang menaungi Sekolah Alam Insan Mulia di Surabaya, Selasa (10/2).

Alamiah

Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya (SAIMS) yang memiliki layanan pendidikan dari kelompok bermain, taman kanak-kanak, SD, dan SMP sekitar sembilan tahun ini memberikan layanan pendidikan alternatif dengan konsep belajar yang menyenangkan dan belajar sambil bermain.

Kondisi sekolah dibuat alamiah yang memungkinkan anak belajar di sudut mana pun saat berada di lahan seluas sekitar satu hektar ini. Selain itu, mata pelajaran yang diberikan mampu diaplikasikan lewat pembelajaran tematik dengan membawa anak-anak pada realitas kehidupan yang sesungguhnya.

Aziz Badiansyah, Kepala SD SAIMS, mengatakan, dalam pembelajaran guru mesti mampu membawa anak mencapai kompetensi yang harus dipenuhi. Di sekolah ini, siswa SD tidak belajar sesuai mata pelajaran, tetapi mata pelajaran yang diwajibkan dalam kurikulum nasional itu diramu sedemikian rupa ke dalam suatu topik.

”Dengan membawa anak mengaplikasikan langsung setiap topik belajar di alam sekitarnya, mereka jadi senang belajar. Mereka tidak sadar sedang belajar karena dibuat dengan cara bermain dan merasakan langsung. Pembelajaran dengan cara itu membuat mereka mudah ingat apa yang dipelajari,” ujar Aziz.

Loula Maretta dari Green Education mengatakan, alam semesta ini bisa menjadi sumber belajar yang kaya bagi anak-anak. Belajar pun tidak terbatas dalam sekat-sekat dinding yang dirasakan tidak nyaman bagi sebagian anak. Belajar secara formal bisa dilaksanakan di luar ruangan yang memberi kebebasan bagi tumbuhnya kreativitas dan kemampuan mengeksplorasi ilmu dari alam sekitar.

Wardiman Djojonegoro, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mengatakan perlu terus dicari upaya supaya belajar di sekolah jangan membebani anak dan guru. Para pendidik mesti mampu mengubah pembelajaran yang menyenangkan sehingga anak menikmati saat-saat belajar dan mampu memahami pelajaran.

Sumber :edukasi.kompas.com