Wednesday, January 5, 2011

Aksara Perdamaian

Aksara merupakan system penulisan suatu bahasa menggunakan tanda-tanda simbol, bukan hanya sebagai huruf atau rangkaian abjad. Aksara merupakan suatu sarana yang menghantar cakrawala pengetahuan dan peradaban suatu bangsa karena aksara membntuk wacana yang dapat dikenali, dipahami, diterapkan dan diwariskan dari suatu generasi kegenerasi berikutnya. Oleh karena itu untuk membangun kepekaan terutama terhadap anti kekerasan, keamanan, krisis ekonomi dan bencana alam di dunia saat ini diperlukan kemampuan multi aksara termasuk aksara perdamaian. Keberaksaraan perdamaian dapat membangun peradaban damai dan sejahtera yang merupakan impian kita bersama.
Aksara perdamaian meliputi wacana, wicara, dan wisesa. Wacana perdamaian meliputi Traditional distinctions in peace education are couched in terms of negative and positive peace. Pemahaman dan strategi untuk membangun perdamaian dengan mencegah kekerasan, rasisme, konflik dan kerusakan lingkungan. Wicara atau tutur kata yang disampaikan memuat Peace education operates differently in various global contexts. Tanggung jawab dan keakraban social (social cohesion) dalam konteks kepentingan local, nasional dan global. Wisesa merupakan kuasa yang melahirkan kebajikan dan kebijakan yang diperlukan untuk Peace education is about empowering people with the skills, attitudes, and knowledge: Untuk mewujudkan perdamaian.
Dalam wacana perdamaian diperlukan pemahaman terhadap antikekerasan termasuk anti terror, kontra terror dan tidak rasis sebagai suatu kemampuan untuk hidup damai dalam keakraban social yang dilandasi sikap kasih sayang, toleran, tanggung jawab, saling percaya dan adil. Selanjutnya diperlukan suatu stategi diantaranya kompetensi wicara atau kemam[uan berkomunikasi yang dilandasi berbagai keterampilan, seperti kecermatan mendengarkan, memahami prespektif yang berbeda, dan kecerdasan menciptakan solusi penyelesaian konflik. Wicara perdamaian bersifat kontekstual, misalnya wiacara perdamaian untuk masyarakat yang tidak berperang berbeda konteks dengan masyarakat yang bertikai. Wicara perdamaian bagi masyarakat yang mengalami kekarasan dalam rumah tangga, terror, kejahatan, dan konflik etnis memerlukan wawasan dan konsep-konsep kontekstual berdasarkan penafsiran yang obyektif dan bijak.
Untuk wisesa perdamaian kebajikan adalah teladan yang terpantul dalam tindakan perilaku, pemahaman moral. Sedangkan kebijakan berupa kerangka pemberdayaan individu dan kelompok untuk bekerjasama membangun, memelihara, menyelesaikan dan memulihkan konflik, kekaraban, sosial, to create save environments, both phsycally and emotionally, that nurture each individual, serta lingkungan yang aman dan bebas dari ekploitasi.
Pendidikan berperan dalam menyampaikan aksara perdamaian ini. Sebagaimana kita ketahui terdapat sebagian generasi muda yang terlihat sebagai dan pelaku terorisme, bahkan siap menjadi pelaku bom bunuh diri. Pendidikan perlu berperan untuk menangkal munculnya generasi baru teroris dimasa mendatang, dengan membuat anak menjadi perancang atau pencipta perdamaian di masa datang.
Semua anak dimanapun mereka berada, berbagi kesenangan, keingintahuan, dan potensi hidup damai dalam keakraban sosial yang ramah, damai dan sejahtera. Pendidikan yang kemudian akan menentukan dan membentuk kematangan mereka sehingga mampu mengomunikasikan dan mewujudkan aksara perdamaian termasuk memahami wacana anti teroris dan kontra teroris.
Sebagai bagian dari mewujudkan aksara perdamaian, saat ini momentum yan tepat untuk mendorong pemberdayaan masyarakat dalam membantu pencegahan diri terorisme melalui penyadaran dan pemahaman anti teroris, dua istilah yang kerap digunakan bergantian untuk didefinisikan secara terpisah namun dengan perbedaan yang kabur.
Gerakan anti teroris didefinisikan sebagai langkah-langkah yang pasif fengan membangun kesadaran masyarakat terdekat yang dimaksudkan untuk mengurangi kerentanan seseorang atau sekelompok masyarakat terhadap tindakan teroris. Intinya melalui gerakan anti teroris, masyarakat secara bersama-sama menciptakan sebuag “lingkungan pengamatan yang waspada” untuk mengirim sinyal bahwa “Tidak ada terorisme dalam masyarakat kami”. Sedangkan gerakan kontra terorisme merujuk kepada upaya upaya untuk mengumpulkan informasi yang mencurigakan di tengah masyarakat, menganalisanya serta sesegera mungkin melaporkannya kepada pihak kepolisian.
Hakikat dari kedua gerakan tersebut adalah memberdayakan masyarakat dalam upaya pencegahan dini terorisme sebagai bagian dari aksara perdamaian. Menyerah kan urusan penanggulangan terorisme sepenuhnya hanya kepada aparat pemerintah seperti yang selama ini terjadi, cenderung menghasilkan ketersediaan tempat bagi teroris, walaupun tanpa kesengajaan atau tanpa terdeteksi oleh masyarakat. Hal ini merupakan bukti bahwa masyarakat kurang berperan dan diberdayakan dalam pencegahan terorisme atau dalam perdamaian.
Gerakan penanggulangan teroris tersebut dapat dilakukan terhadap komunitas rentan teroris melalui pendidikan masyarakat yang bersifat nonformal dan informal. Dalam hal ini, Pusat Kegiatan Masyarakat (PKBM), Sanggar KegiatanBelajar (SKB), kelompok belajar, dan satuan satuan pendidikan nonformal sejenis dapat digunakan untuk menyampaiakan aksara perdamaiandan pendidikan pencegahan terorisme melalui modul anti dan kontra terorisme. Modul-modul tersebut akan membantu masyarakat dalam menciptakan suatu kewaspadaan, melindungi masyarakat dari ancaman terror dan mengidentifikasi adanya kelompok teroris di daerahnya. Bahkan modul-modul inipun dapat disebarluaskan dalam kemasan visual melalui komunitas TV local.
Peace education is based on philosophy that teaches non violence, love , compassion, trust, fairness, cooperation and reverence for the humanfamily and all life on our planet.

Oleh: Ella Yulaelawati. R, Ph.D

Tuesday, January 4, 2011

Relevansi Pendidikan Kewirausahaan

SUNGGUH menarik
melihat kemauan pemerintah yang akan menyediakan dana sebesar Rp 110
miliar pada tahun 2009 untuk mengembangkan pendidikan kewirausahaan di
perguruan tinggi. Dengan pendidikan kewirausahaan tersebut, diharapkan
para lulusan perguruan tinggi tidak hanya mencari kerja, tetapi bisa
sebagai pencipta lapangan kerja.

Memang ironis menyaksikan dunia ketenagakerjaan di Indonesia. Banyak
lulusan pendidikan tinggi menenteng ijazahnya ke sana-ke mari melamar
pekerjaan, tetapi mengalami kesulitan mencari pekerjaan. Sebaliknya
bisa disaksikan seseorang yang dengan pendidikan formal minim, tetapi
bisa sukses luar biasa dalam pekerjaannya.

Ambil contoh Andre Wongso, yang mengaku SDTT (sekolah dasar tidak
tamat), sekarang sukses sebagai pakar motivasi yang andal dan ternama
di Indonesia. Begitu juga Bob Sadino yang pendidikan formalnya
terbatas, tetapi sukses dalam usaha agrobisnisnya.

Lalu, mengapa begitu banyak pengangguran di negara yang kaya sumber
daya alam dan keramahan iklim ini? Adakah yang salah dengan pendidikan
formal kita? Atau bahkan, seperti dinyatakan Ivan Illich dalam bukunya
Deschooling Society (1972), pendidikan formal terlalu banyak menyerap
biaya, hasilnya kurang optimal, dan lebih parah lagi banyak
menghasilkan tenaga pemalas yang tidak terampil dan hanya menjurus
kepada pekerjaan formal, tanpa mau tahu dengan kondisi riil di lapangan.

Mestinya pendidikan seperti dinyatakan Paulo Freire dalam bukunya
Pedagogy of the Oppressed (1972) merupakan ajang pembebasan kesadaran
atau dialogika yang memancing mereka untuk berdialog, membiarkan mereka
mengucapkan sendiri per-kataannya, mendorong mereka untuk menamai dan
dengan demikian untuk merubah dunia.

Konsep pendidikan yang ada pada kita sekarang ini cenderung berbentuk
‘’institusi bank’’ menurut konsep Freire, di mana pihak pendidik secara
searah memberikan pengetahuannya kepada peserta didik sehingga bisa
terkumpul segepok ilmu.

Bercermin dari kenyataan itu, tentu ada yang salah dengan pendidikan
kita sekarang ini. Pendidikan formal yang diberikan di bangku sekolah
maupun perguruan tinggi hanya terpaku pada penguasaan hard skills.
Bahkan sangatlah kurang dengan mengkaitkan kenyataan yang terjadi di
dunia realitas.
Penelitian menunjukkan, keberhasilan seseorang bukan ditentukan oleh
kepandaian yang dipunyai, tetapi oleh faktor lainnya yang sangat
penting.

Tingkat kecerdasan cuma menyumbang sekitar 20-30 persen keberhasilan,
selebihnya ditentukan soft skills. Penelitian National Association of
Colleges and Employers (NACE) pada tahun 2005 menunjukkan hal itu, di
mana pengguna tenaga kerja membutuhkan keahlian kerja berupa 82 persen
soft skills dan 18 persen hard skills.

Soft skills, menurut Berthall (dalam Diknas, 2008), adalah tingkah laku
personal dan interpersonal yang dapat mengembangkan dan memaksimalkan
kinerja seseorang manusia (misal pelatihan, pengembangan kerja sama
tim, inisiatif, pengambilan keputusan, dan lain-lain). Dengan demikian,
kemampuan soft skills tercermin dalam perilaku seseorang yang memiliki
kepribadian, sikap, dan perilaku yang dapat diterima dalam kehidupan
bermasyarakat.

Selaras dengan kemampuan soft skills, maka para peserta didik perlu
dibekali dengan pendidikan kemampuan kewirausahaan (entrepreneurship)
yang andal. Dengan dibekali pengetahuan kewirausahaan yang memadai,
disertai segi-segi praksisnya, para lulusan mempunyai kemauan dan
kemampuan yang memadai, sehingga tidak merasa kebingungan ketika harus
memasuki pasaran kerja.

Joseph Schumpeter sebagai pakar ekonomi kelembagaan berpendapat,
kewirausahaan sangat penting dalam menentukan kemajuan perekonomian
suatu negara. Pemikirannya bertumpu pada ekonomi jangka panjang yang
terlihat dalam analisisnya, baik mengenai terjadinya invensi dan
inovasi penemuan-penemuan baru yang dapat menentukan pertumbuhan
ekonomi yang tinggi.

Dukungan Maksimal
Freire menekankan, dalam pendidikan perlu dipakai prinsip konsientisasi
yang merujuk pada penguasaan problem diri sendiri dan situasi di mana
peserta didik hidup serta tumbuh kesadaran dalam menentukan kedudukan,
nilai-nilai dan harapan hidup peserta didik terhadap relasinya dengan
dan bersama dunia. Tujuan penerapan prinsip konsientisasi adalah agar
peserta didik tidak menjadi manusia yang terasing dan terkucilkan dari
diri sekaligus lingkungan hidupnya.

Berdasarkan pemikiran Freire tersebut, maka agar pendidikan bisa lekat
dengan masyarakat dan lingkungannya, dapat mempersiapkan seseorang
menuju dunia kerja yang makin sulit, keras, serta membutuhkan berbagai
keahlian yang mendukung, perlu diberikan pendidikan kewirausahaan.
Mata pelajaran atau mata kuliah kewirausahaan perlu diberikan kepada
semua peserta didik dari TK sampai perguruan tinggi. Pelajaran
kewirausahaan harus disajikan secara sistematis dan terstruktur, serta
disesuaikan dengan tingkatan pendidikan dan usia peserta didik.

Kemasan pelajaran haruslah dapat menarik minat peserta didik, dan bukan
sekadar hafalan yang diperlukan untuk menentukan kenaikan kelas atau
kelulusan. Undanglah para wirausahawan untuk menerangkan dan
menceritakan kiat-kiat sukses usahanya, yang tentunya memerlukan
perjuangan dan pengorbanan sangat besar. Semangat kerja dan kegigihan
dalam meraih sukses, tentunya merupakan teladan untuk memacu kerja
keras dan mengiliminasi budaya santai yang masih lekat menghinggapi
mayoritas masyarakat.

Kegiatan magang kerja di suatu usaha sangatlah penting untuk mengerti
dunia riil wiraswasta. Para peserta didik bisa melihat langsung
bagaimana praksis dari teori-teori yang telah diperolehnya (mulai aspek
produksi, akuntansi, pemasaran, hingga sumber daya manusia) bisa
diterapkan dalam kegiatan riil.
Deviasi antara teori dan praksis tentunya merupakan kekayaan yang tidak
ternilai, dalam kaitannya untuk pengembangan intelektual dan kematangan
memasuki dunia kerja. Alangkah menariknya jika pendidikan kewirausahaan
ditindaklanjuti dengan praksis di tempat menuntut ilmu.

Berbagai gerai perlu didirikan seperti penjual makanan, simpan pinjam,
jasa tiket transportasi, perbankan, kursus bahasa asing dan sebagainya.
Para peserta didik secara bergantian mendapat tugas berpraksis di situ,
dengan target-target yang telah ditentukan. Belum lagi, dengan adanya
klinik kewirausahaan, para peserta didik bisa melihat permasalahan yang
muncul dan solusi pemecahannya yang tepat.

Pendidikan kewirausahaan dengan model konsientiasi yang bergerak dari
tataran teoritis dan praksis, tentunya membutuhkan dana yang relatif
besar, juga membutuhkan peran serta para stakeholders. Tentunya sudah
waktunya pihak pemerintah, swasta, dan dunia perbankan turut serta
memajukan dunia pendidikan di Indonesia, agar masyarakat makin cerdas.
Yang lebih penting, bisa mempersiapkan peserta didik memasuki dunia
kerja dengan kualitas yang prima. (32)

–– Dr Purbayu Budi Santosa, dosen Fakultas Ekonomi Undip.

Monday, January 3, 2011

Pukulan Fisik Picu Penurunan IQ Anak

Pukul anak sebagai medium penyadaran ternyata tidak hanya berdampak buruk terhadap psikologis tetapi juga tingkat kecerdasan. Penelitian yang dilakukan Universitas New Hampshire, AS melaporkan, sebagian besar dari anak yang kerap dipukul orang tua memiliki tingkat intelegensia (IQ) yang rendah.

Lebih dari itu, penelitian juga mencatat hasil lain mengejutkan dimana anak yang mengalami perlakuan keras akan mengalami kesulitan untuk mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

"Semua orang tua pasti ingin anak mereka pintar. Penelitian ini menunjukan bagaimana efek negatif dari perlakukan keras orang tua dan koreksi kesalahan perlakuan dilain pihak guna mencegah hal itu terjadi," tukas salah satu peneliti. Murrat Strauss dari Universitas New Hampsphire, AS seperti yang dikutip Yahoonews, pekan lalu.

Penelitian menggunakan metodologi yang menghubungkan antara perlakuan keras dan intelegensia. Metodologi ini mengaitkan sejumlah hubungan lain semisal status ekonomi.

"Anda mungkin akan mengatakan buktikan, tapi saya pikir metode ini akan memberikan berapa laternatif. Saya yakin bahwa perlakukan keras dari orang tua akan membuat perkembangan mental dan kemampuannya menurun secara perlahan," tegasnya.

Penelitian mengambil sampel 1510 anak yang terbagi menjadi dua grup rentang usia. Grup pertama berpopulasi 806 anak dengan rentang usia 2-4 tahun dan grup kedua berpopulasi 704 anak dengan rentang usia 5-9 tahun. Peneliti lalu memberikan tes IQ diawal dan 4 tahun kemudian.

Kedua grup masing-masing terdiri dari anak yang mendapatkan perlakukan keras dan tidak dari masing-masing orang tua anak. Hasilnya, kata Strauss, tercatat hal yang siginifikan. Sebagian dari anak-anak yang mengalami perlakuan keras mengalami keterlambatan perkembangan IQ dari tes awal dan tes lanjutan 4 tahun kemudian. Peningkatan IQ justru terjadi pada anak yang tidak mengalami perlakuan keras.

Menurut Pengamat Anak dan Keluarga dari Duke Univesity, Jennifer Lansford menilai hasil penelitian begitu menarik. Dia juga berpendat, penelitian yang dilakukan memiliki dasar fondasi yang kuat. "Mengacu pada perkembangan anak, dimungkinkan bahwa anak dengan IQ rendah berkaitan dengan masalah displin secara fisik yang berlebih," tukasnya.

Faktor Psikologis

Penelitian lantas mencari cara mengapa IQ anak secara siginifikan mengalami penurunan usai mendapatkan perlakukan keras. Kesimpulan mengacu pada faktor psikologis anak selama mendapatkan perlakuan keras.

"Setiap orang pasti percaya, dipukul oleh orang tua tentu memberikan bekas trauma mendalam pada anak," papar Strauss. Lebih jauh dia menjelaskan, trauma itu berefek stress pada anak saat menghadapi situasi sulit dan kondisi tersebut membuat anak kesulitan mengeluarkan kemampuannya.

"Dengan memukul, orang tua hanya bisa mendapatkan perhatian dan sikap patuh si anak saat dipukul saja. Ini menghalangi anak untuk berpikir bebas," komentar Elizabeth Gershoof, Pakar Anak asal Universitas Texas. Sehingga, kata dia, anak hanya berprilaku benar saat dipukul saja atau anak hanya melakukan sesuatu karena teringat akan pukulan, bukan inisiatif.

Sebab itu, Gershoff menyarankan kepada para orang tua untuk segera menghentikan kebiasaan memukul saat anak melakukan kesalahan atau ketika sikap anak tidak pantas.

By Republika Newsroom

Sunday, January 2, 2011

Apa Sih, Dampak Anak di Depan Komputer/TV Tak Lebih dari Dua Jam?

Selama lebih dari dua jam sehari menonton televisi ataupun bermain "video game" di komputer dapat memberikan risiko yang lebih besar bagi anak-anak pada masalah kejiwaan apapun tingkat aktivitas mereka, demikian menurut sebuah penelitian di Inggris pada Selasa.

Para peneliti dari Universitas Bristol meneliti lebih dari 1.000 anak kecil yang berumur sepuluh hingga 11 tahun. Selama lebih dari tujuh hari, mereka mengisi kuesioner yang menanyakan intensitas waktu yang mereka habiskan sehari-hari di depan televisi atau komputer dan menjawab pertanyaan yang menjelaskan keadaan jiwa mereka, termasuk emosi, tingkah laku, dan masalah yang bersangkutan lainnya sementara sebuah pengukur tingkah laku (accelerometer) memantau aktivitas fisik mereka.

Jumlah selisih kerumitan kejiwaan secara signifikan sebanyak sekitar 60 persen lebih tinggi bagi anak kecil yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam selama satu hari di depan salah satu layar tersebut, dibandingkan dengan mereka yang menonton pada waktu yang lebih sedikit, kata laporan para peneliti di dalam jurnal Pediatrics.

Angka selisih tersebut menjadi berlipat bagi anak kecil yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam di depan kedua jenis layar tersebut selama sehari.

Para peneliti menemukan hasil ini tanpa memerhatikan jenis kelamin, umur, tingkat pubertas, atau tingkat pendidikan dan kemampuan ekonomi dan tidak memantau keaktifan anak tersebut selama sisa harinya.

"Kami mengerti aktivitas fisik baik bagi kesehatan jiwa dan tubuh pada sang anak dan terdapat beberapa bukti bahwa menonton layar itu mengakibatkan kelakuan yang negatif," ujar Dr. Angie Page kepada Reuters Health. "Namun hal itu masih belum jelas apakah tingkat aktivitas fisik akan "mengimbangi" tingginya tontonan pada layar itu bagi anak kecil."

Para peneliti menemukan masalah kejiwaan jauh meningkat jika anak kecil mengalami pelatihan sehari-hari mulai dari tingkat yang sedang hingga ketat selama kurang dari satu jam atas meningkatnya tontonan pada layar itu.

Bagaimanapun, aktivitas fisik tidak hadir untuk mengimbangi konsekuensi kejiwaan pada waktu tontonan layar itu.

Para peneliti mengatakan waktu yang tetap juga tidak berhubungan dengan mental kelakuan yang baik. "Tampaknya lebih kepada apa yang kamu lakukan pada waktu tetap itu yang menjadi penting," ujar Page, menjelaskan kurangnya dampak negatif ditemukan pada kegiatan seperti membaca dan melakukan pekerjaan rumah.

Page dan tim penelitinya mengakui beberapa keterbatasan pada penelitiannya, termasuk potensi ketidak-akuratan seorang anak sewaktu mengisi jadwal kegiatan pada kuesioner.
Red: Siwi Tri Puji B
Sumber: Ant

Saturday, January 1, 2011

PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN

Awalnya memang dari gagasan pengusahaan papan atas Ciputra yang serius untuk menyebarluaskan semangat kewirausahaan atau entrepreneurship. Keyakinannya, bangsa ini bakal maju jika banyak orang berjiwa dan bersemangat entrepreneur.

Entrepreneur bukan berarti pedagang. Namun, mereka yang punya semangat untuk kreatif, inovatif, berani mengambil risiko, serta mampu mengubah ”sampah” menjadi ”emas”.

Antonius Tanan, yang bekerja di Grup Ciputra sejak tahun 1987, dipercaya Ciputra untuk menyusun silabus serta mengembangkan entrepreneur atau kewirausahaan dalam pendidikan di Indonesia.

Ia sukses menerjemahkan pendidikan kewirausahaan di sekolah-sekolah di bawah naungan Grup Ciputra, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Antonius yang kemudian diangkat sebagai Presiden Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) mendampingi Ciputra melakukan road show ke sejumlah kota dan kampus di seluruh Indonesia untuk menyebarluaskan semangat kewirausahaan. Ia bertemu juga dengan pejabat tinggi pemerintah dan tokoh masyarakat untuk meyakinkan mereka pentingnya entrepreneurship bagi masa depan bangsa.

Kesibukan Antonius bersama Tim UCEC terus meluaskan kerja sama dengan beragam institusi guna menyebarluaskan pendidikan kewirausahaan. Dimulai dari Campus Entrepreneur Program di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) September 2007, kemudian berlanjut ke Surabaya dan kota-kota lainnya di Tanah Air.

Diselenggarakan pula Training of Trainers untuk dosen-dosen kewirausahaan. Lalu, Training of Trainers Entrepreneurship Educator selama tiga bulan untuk mereka yang akan menjadi entrepreneur sekaligus pelatih atau pendidik entrepreneurship.

Di lingkungan keluarganya, Antonius Tanan juga menumbuhkan semangat kewirausahaan. Misalnya, anaknya yang masih sekolah dasar diminta untuk memberikan hadiah ulang tahun sesuatu yang tak ada di toko. Akhirnya, dengan kreativitasnya sendiri, anaknya menyusun sebuah lagu lengkap dengan aransemen musik ciptaannya sendiri.

Mengapa pendidikan kewirausahaan perlu dilakukan di Indonesia?

Saya sangat gelisah membayangkan anak-anak generasi sekarang kalau nanti 20 tahun lagi tidak mampu menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri. Apakah semua orang akan jadi entrepreneur? Tentu tidak. Kalaupun mereka menjadi pegawai, akan menjadi pegawai yang baik. Karena pendidikan entrepreneurship mengajarkan inisiatif, kreatif, yang sifatnya holistik.

Tidak semua orang mau jadi pengusaha. Apa tetap perlu memperkenalkan pendidikan kewirausahaan lewat sekolah?

Saya melihat di masyarakat punya pandangan yang keliru tentang pendidikan entrepreneurship. Pertama, ada yang berkata kalau memasukkan pendidikan entrepreneurship berarti membuat kurikulum baru. Sebenarnya tidak perlu. Pendidikan entrepreneurship itu memperkaya dan mempertajam kurikulum yang sudah ada.

Kedua, ada juga anggapan mengajarkan entrepreneurship itu mengajarkan dagang. Itu terlalu sempit. Pendidikan entrepreneurship lebih luas dari itu. Ketiga, kita menganggap berpikir belajar entrepreneurship itu kalau sudah besar. Itu keliru. Benih-benih inspirasinya mesti dimulai sejak dari kecil. Ini bisa dimulai dari mengembangkan kreativitas.

Saya membayangkan dan merindukan Indonesia menciptakan produk-produk hebat setaraf Google, Microsoft, dan sebagainya. Tidak sekarang mungkin, tetapi benihnya kenapa enggak kita siapkan sekarang. Pendidikan kewirausahaan menuntut adanya kreativitas. Belajar jangan memori, tapi harus kreatif!

Bagaimana mewujudkan pendidikan entrepreneurship di Indonesia?

Ketika diminta menerapkan pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi dengan mendirikan Universitas Ciputra tahun 2006, buat saya masuk akal. Banyak perguruan tinggi bisnis, tetapi tidak mengajarkan secara spesifik masalah kewirausahaan.

Saat saya diminta mengajarkan kewirausahaan sejak dari taman kanak-kanak, saya gamang dan kaget. Apa mungkin? Saya coba cari informasi di internet.

Tahun 2006 saya ke Amerika Serikat. Saya kaget, ternyata ada konferensi di tentang pendidikan entrepreneurship untuk guru-guru di Arizona. Konferensi itu sudah yang ke-24. Tidak heran jika entrepreneur muda banyak lahir dari Amerika Serikat karena mereka mengembangkan entrepreneurship sudah sangat lama. Mereka kini tinggal memetik hasilnya.

Sebenarnya apa yang bisa didapat dari pendidikan entreprenership?

Di balik pendidikan kewirausahaan adalah kreativitas. Kita tahu, saat anak-anak mereka sangat kreatif. Namun saat mereka sekolah hingga selesai, kreativitas mereka hilang menjadi semangat pekerja. Di mana hilangnya? Tentu ada yang kurang dalam sistem pendidikan, lingkungan, serta kehidupan keluarga.

Bagaimana menjalankan pendidikan entrepreneurship di setiap level pendidikan?

Sebenarnya bisa dibuat strukturnya. Kalau di TK itu harus mulai pikirkan kreativitas. Kreativitas itu anugerah yang luar biasa. Hidup itu jauh lebih mudah kalau kita kreatif. Kreativitas mesti terpelihara. Di SD, anak-anak di-explor dengan beragam keunikan dan keberbakatan.

Di SMP diharapkan mereka sudah tahu keberbakatannya. Pada saat ini, pendidikan entrepreneurship bisa masuk ke life skill. Saat SMA keberbakatan itu sudah pernah dicoba di pasar. Kalau kita bisa gabungkan keberbakatan dan entreprenuership, itu powerful.

Bagaimana pengembangan pendidikan entrepreneurship ke depannya?

Lewat pendidikan kewirausahaan ini Pak Ciputra ingin lahir empat juta entrepreneur baru. Entrepreneur ini tersebar mulai dari pesisir sampai pegunungan, dari desa sampai kota besar, anak-anak semua kalangan. Jika entrepreneur sudah menjadi semangat bersama, yakinlah bangsa ini pasti akan maju.

Oleh Ester Lince Napitupulu


Sumber: http://edukasi.kompas.com