Sunday, April 26, 2015

PERANGSANGAN BAHASA ANAK USIA 7-9 BULAN

Jika ibu-bapak memperhatikan suara bayi, maka akan mengenali suatu pola. Bayi akan mengeluarkan suara dengan kombinasi tertentu pada siruasi yang tertentu pula. Ini merupakan tanda bahwa bayi mulai mengoceh, tidak lagi acak. Artinya ia menggunakan bahasa dengan kualitas yang lebih baik dari sebelumnya.
Cermati kemampuan mendengar anak. Kemampuan mendengar yang lemah dapat menghambat perkembangan antara lain tidak memberikan tanggapan pada suara yang ada, reksi terhadap suaratidak sejalan dengan pandangan matanya. Ini ditunjukkan dengan tidak memberikan tanggapan dengan segera ketika ibu – bapak datang  karena ia tidak mendengar suata itu.
Kegiatan yang dilakukan
-        Biarkan anak bermain liur. Perhatikan ketika bayi bermain dengan air liurnya, ia akan mengeluarkan suara-suara. Kegiatan ini membantu bayi untuk memperkuat otot-otot disekitar mulut dn bibirnya.

-        Bermin ciluk bad an bernyanyi. Kegiatan ini akan menarik bagi bayi. Ia akan mendengarsuara berulang-ulang seperti, “tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk ketika bernyanyi naik delman. Sedangkan permainan ciluk ba akan membantu anak untuk berlatih memusatkan perhatian.

      sumber : serial bacaan orang tua direktorat PAUD Kemdikbud 

Tuesday, April 21, 2015

PERANGSANGAN BAHASA ANAK USIA 4 – 6 BULAN

Pada usia 4 – 6 bulan bayi sudah masuk pada tahap mengoceh. Sepanjang hari bayi akan mengoceh dan mengeluarkan suara suara dari mulut mungilnya, terutama ketika sedang bermain dengan orangtuanya atau sedang sendirian

Kegiatan yang dapat dilakukan
  •         Putar music dengan berbagai tempo dan irama. Bayi akan menunjukkan reaksi terhadap berbagai jenis music yang didengarnya. Musik dengan irama yang cepat mungkin akan membuatnya bersemangat dan tertawa, sedangkan music yang lembut akan membuatnya tenang dan nyaman.
  •       Wajah saling berhadapan ketika berbicara. Ketika sedang menggendong, hadapkan bayi pada wqajah ibu dan bapak, kemudian ajaklah berbicara dan ceritakan tentang apa yang di lihat. Demikian pula ketika sedang berbaring di tempat tidur atau kereta dorong. Berikan tanggapan bila bayi mengeluarkan suara-suara ketika sedang berbicara.
  •       Bunyikan suara-suara baru, untuk memperkaya suara yang didengar, perkenalkan suar-suara baru ketika menggendongnya. Biarkan anak mendengar suara dan mencoba menirukannya


Sumber : Seri Bacaan Orangtua Direktorat PAUD, Kemdikbud 

Monday, April 20, 2015

PERANGSANGAN BAHASA ANAK USIA 0 – 3 BULAN

Ketika baru lahir, bayi belum bias berbicara. Bentuk komunikasi yang digunakan adalah menangis, mimic wajah, dan gerak tubuh. Dengan cara itu bayi berusaha menyampaikan kebutuhannya kepada orang tua. Perangsangan bahsa yang dilakukan pada periode ini adalah sat permulaan dari proses pengembangan kemampuan berbahasanya.

Kegiatan yang dapat dilakukan
  •  Bicara,bicara,bicara. Orangtua harus terus berbicara kepada bayinya, meski ia hanya membalas dengan menangis atau tatapan mata. Ketika menggendong, Ibu dan bapak dapat mengobrol atau menceritakan apa saja yang dilihat. Gunakan kalimat pendek dengan tekanan dan pengucapan yang jelas. Bukan bahasa yang dicadelcadelkan. Ketika bayi menagis pun, usahakan untuk mengartikan tangisannya, misalnya, “ananda menangis karena lapar ya?
  • Memberikan tanggapan ketika bayi mengeluarkan suara. Ketika bayi bersuara, meski tidak jelas, Ibu dan Bapak dapat memberikan balasan dengan tersenyum dan berbicara seperti sedang mengobrol.
  • Bermain agar bicara. Bayi yang senang mengeluarkan suara-suara untuk menyampaikan perasaannya, demikian pula ketiak bermain dengan orangtuanya. Berikan tanggapan yang sekaligus mengajak untuk berlatih mendengarkan. Ibu dan Bapak dapat berbisik atau memanggil namanya. Kemampuan mendengarkan adalah bagian yang penting dalam komunikasi

S   Sumber : Seri Bacaan Orang Tua Direktorat PAUD


Wednesday, April 15, 2015

TAHAPAN PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA 0-2 TAHUN



Kemampuan berbahasa ketika bayi adalah luar biasa. Bayangkan, ketika lahir, ia hanya menangis, selanjutnya ia mampu mengucapkan kata pertama yang segera diikuti dengan rentetan kata-kata selanjutnya.
Perkembangan bahasa bayi berlangsung dalam tahapan yang tersusun dan teratur. Bayi menghadapi tantangan yang lebih sulit dari pada ketika kita belajar bahasa asing. Ia harus menyesuaikan diri dengan segala bunyi-bunyian bahasa dari lingkungan di sekitarnya dan kemudian memahaminya. Pada sebagian besar bayi, kemampuan dan keterampilan berbahasa didapatkan secara alami.
Banyak penelitian menyimpulkan bahwa bayi memiliki kemampuan alami untuk belajar berbahasa. Jadi ketika lahir, bayi sudah mempunyai kemampuan awal untuk memahami bunyi-bunyian yang nantinya berkembang menjadi kemampuan berbahasa. Selain itu, ada factor lain yang juga berperan penting, yaitu perangsangan bahasa oleh lingkungan.

TAHAPAN BERBAHASA
Apapun bahasa ibu si bayi, semua bayi di dunia memiliki tahapan berbahasa yang sama dan terjadi pada kisaran usia yang sama pula. Tahapan tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
  •      -    Tangisan dan bahasa tubuh (nnon verbal). Sampai sekitar usia 6 minggu, bayi tidak dapat mengeluarkan suara tertentu, kecuali menangis. Bentuk komunikasi lain adalah dengan bahasa tubuh, seperti gerakan lengan dan kaki, ekspresi wajah, dan kontak mata.
  •       Suara-suara adalah bunyi-bunyian vocal yang berulang, seperti ‘u…..u..’  atau ‘a…..a…’ yang disuarakan ketika ia merasa nyaman. Ini muncul ketika bayi berusia 2 bulan dan beberapa bulan kemudian, digantikan dengan kemampuan selanjutnya.
  •          Mengoceh (acak). Bunyi mengoceh (acak) adalah sekumpulan suara yang dikeluarkan bayi ketika mendapatkan perhatian orang lain. Sekitar usia 5 bulan, bayi mulai dapat mengeluarkan bunyi yang lebih bervariasi. Hal ini dimungkinkan karena pita suara dan kemampuan bernafas bayi sudah lebih matang dan lebih baik.
  •         cMengoceh. Untuk beberapa bulan ke depn bayi mengeluarkan ocehan dengan bunyi yang lebih terkendali, bahkan, mulai mampu mengobrol . Terkadang, mulai menggaunakan suara yang berualang dan lebih jelas seperti ‘papapapa’, ‘babababa’, ‘mamamama’.
  •          Bicara awal. Mendekati tahun pertama, anak sudah mampu mengeluarkan suara seaka-akan berbicara dengan ibu dan bapak. Ekspresi wajah dan intonasi suaranya sudah tampak seperti benar-benar berbicara, tetapi belum ada kata yang jelas di ucapkannya.
  •          Kata pertama. Jantung ibu dan bapak seakan berhenti berdetak ketika bayi mengucapkan kata pertamanya. Kosa katanya akan bertambah dengan pesat, sekitar 50 kata di usia 18 bulan.


MENDENGAR DAN BERBICARA
Manusia berkomunikasi dengan dua cara, berbicara dan mendengar. Demikian pula dengan bayi. Pertema, bahasa reseptif, yaitu mendengar suara dan bunyi-bunyian, kemudian mengartikan apa yang ia dengar. Keterampilan ini membuat bayi mampu mamahami suara atau bunyi yang didengarnya. Misalnya, bayi akan paham bila ibu-bapak menyuruhnya untuk meletakkan gelas di atas meja meskipun ia belum mampu berbicara.
Kedua, bayi juga memiliki kemampuan bahasa ekspresif. Bayi mampu membuat suara atau bunyi sendiri sehingga dapat berkomunikasi dengan ibu-bapak, ketika melakukan perangsangan berkomunikasi, pusatkan perhatian pada keduanya, bahasa reseptif dn ekspresif.
Biasanya kemampuan bahas reseptif berkembang terlebih dahulu, dibandingkan bahasa ekspresif. Bayi memahami banyak kata yang didengar dan menunjukkkan pemahamannya, missal, bayi akan tersenyum atau menengok ketika ibu dn bapak memanggil namanya, mampu melekukan yang diminta, atau memerhatikan ibu-bapak ketika berbicara dengan orang lain. Itu pertanda, bayi memiliki semangat untuk memberikan tanggapan, meskipun belum mampu untuk berbicara.


Sumber: Seri bacaan orang tua direktorat PAUD Kemdikbud.

Tuesday, April 14, 2015

Ini Cara Seru Agar Si Kecil Suka Matematika



Anda bisa membantu si kecil menguasai matematika dasar cukup dengan mengajaknya bermain dengan hal-hal yang ada di sekitar mereka.
Jika Anda ingin membuat mereka jatuh cinta dengan angka, maka tunjukan bahwa matematika dan angka merupakan bagian dari kehidupan mereka sehari-hari.Yuk coba tip seru ini yang buat anak suka matematika:
1. Berburu angka.
Ketika sedang jalan-jalan bersama si kecil, dorong anak untuk melihat angka-angka yang ada di jalan atau toko, dan plat mobil. Tunjuk angka dan sebutkan angka yang dimaksud. Ini akan bantu anak meningkatkan kemampuan mereka dalam mengenal angka berikut namanya.
2. Menyambungkan titik-titik.
Metode lama ini tetap mampu membantu anak Anda untuk mengerti urutan angka. Bahwa setelah 1, ada 2, 3, dan seterusnya. Pilihlah buku berlatih dengan sampul karakter yang si kecil sukai.
3. Permainan berhitung.
Manfaatkan kesempatan bersama si kecil dengan menghitung apapun yang ada di sekitar Anda dan anak. Seperti, orang yang sedang antre, atau jumlah anak tangan di perpustakan.
4. Berburu bentuk di rumah.
Ajak si kecil untuk mencari benda-benda di rumah yang memiliki bentuk kotak, segitiga, bulat, bintang, dan bentuk-bentuk lain.
5. Membuat buku katalog berhitung.
Aktivitas ini akan melatih si kecil dalam membaca dan berhitung. Caranya: Ambil majalah atau buku katalog bekas, ajak si kecil untuk mencari segala benda yang diawali dengan huruf tertentu, misal ‘A’.
Kemudian, tempel semua benda yang sudah dipotong ke dalam buku kosong. Ketika semua sudah selesai, minta anak untuk menghitung berapa banyak gambar benda berawalan huruf ‘A’ yang mereka berhasil temukan.
6. Belajar sambil snack time.
Berikan si kecil satu genggam biskut berbentuk ikan. Lalu, Anda gambar akuarium di secarik kertas kosong. Kemudian minta si kecil meletakan biskuit ikan mereka ke dalam akuarium sambil menghitungnya. Ambil satu ikan, dan minta mereka menghitungnya kembali.
7. Senandungkan nyanyian berhitung.
Lagu anak-anak seperti ‘Balonku Ada 5’ atau ‘Satu-satu Aku Sayang Ibu’ juga bisa menjadi salah satu media mengajarkan angka pada anak. Variasi berhitung dalam nada akan mengenalkan anak pada ilmu dasar pertambahan dengan cara yang menyenangkan. (tabloidnakita)

sumber :http://pekanbaru.tribunnews.com/