Monday, January 30, 2012

Nutrisi yang Diperlukan untuk Tumbuh Kembang Anak 5-12 Tahun

Anak-anak usia 5-12 tahun sudah tahu makanan apa yang diinginkan dan sering makan di luar rumah. Pengaruh dari teman dan iklan juga mulai mempengaruhi anak dalam memilih makanan. Meski begitu orangtua tetap harus memperhatikan kandungan nutrisi agar tumbuh kembang anak menjadi sempurna.

Meskipun pertumbuhan anak usia 5-12 tahun lebih lambat dari pada masa bayi, anak usia sekolah masih memiliki kebutuhan gizi yang tinggi, tetapi selera makannya cukup kecil.

Jadi sangat penting bahwa semua pilihan makanan dan snack sebaiknya kaya akan nutrisi dan energi. Pilihan makanan anak-anak sedini mungkin dapat mempengaruhi pilihan makanan anak-anak tersebut di kemudian hari hingga dewasa.

Anak-anak sekolah masih memiliki kebutuhan energi yang tinggi untuk pertumbuhan dan aktivitas, tetapi semakin banyak yang menjadi kelebihan berat badan. Hal tersebut karena mereka makan terlalu banyak kalori dan tidak cukup aktif untuk memakai energi tambahan yang mereka dapatkan.

Jika memiliki anak dengan kelebihan berat badan, maka dapat mendorong anak untuk melakukan aktivitas fisik dalam bentuk apapun seperti sepak bola, bersepeda, dan berenang. Seorang anak yang kelebihan berat badan masih membutuhkan diet nutrisi yang menyediakan semua blok bangunan penting untuk pertumbuhan dan perkembangan.

Mendorong anak untuk makan sehat harus dengan memastikan anak-anak mempertahankan berat badan yang sehat. Pastikan seluruh keluarga juga mengonsumsi makanan sehat untuk menyediakan model peran yang baik.

Berikut beberapa komponen makanan yang dibutuhkan anak yang dalam proses tumbuh kembang seperti dikutip dari BBCHealth, Jumat (27/1/2012) antara lain:

1. Kalsium

Kalsium merupakan mineral yang penting untuk perkembangan tulang yang sehat.

Sumber yang baik dari kalsium termasuk produk susu seperti susu, keju, yoghurt, jus jeruk yang diperkaya, sayuran berdaun hijau, sereal, biji wijen, dan tahu. Anak idealnya harus mendapatkan 3 porsi makanan kaya kalsium per hari, misalnya segelas susu 150 ml, yoghurt dan sepotong kecil keju.

2. Folat

Folat penting untuk pertumbuhan anak, tetapi masih sering terjadi asupan rendah pada beberapa anak.

Asupan folat rendah terutama terjadi pada anak yang sering melewatkan sarapan karena sereal merupakan sumber yang baik dari folat. Sumber-sumber lain termasuk roti, sayuran berdaun hijau, dan kacang-kacangan.

3. Zat Besi

Mineral ini membantu untuk menjaga sel-sel darah merah yang sehat. Kurangnya asupan zat besi dapat menyebabkan anemia defisiensi besi, tetapi ini jauh kurang umum pada anak usia sekolah dasar. Sumber zat besi dapat diperoleh dari daging merah, hati, sereal, dan, kacang-kacangan.

Untuk membantu menyerap zat besi lebih efektif dari sumber-sumber makana non daging, dapat dikombinasikan dengan makanan yang kaya vitamin C, seperti buah jeruk dan jus buah.

4. Makanan yang mengandung lemak dan gula

Kelompok ini mencakup bahan makanan, seperti mentega, minyak goreng, gula, biskuit, kue, keripik, permen, es krim, coklat, dan minuman manis. Makanan ini tidak boleh dimakan terlalu sering.

Makanan ini juga hanya boleh dikonsumsi dalam jumlah kecil. Karena makana tersebut sarat dengan kalori, lemak dan gula dan kurang mengandung banyak vitamin dan minera

Membatasi makanan dan minuman yang manis pada anak juga menurunkan risiko gigi berlubang. Batasi jumlah gula dan permen yang dimakan oleh anak. Beberapa minuman bebas gula juga bisa menyebabkan gigi berlubang karena keasamannya. Susu atau air adalah minuman terbaik di antara waktu makan.

Berikut adalah pedoman pemberian makan anak yang sedang dalam proses tumbuh kembang, antara lain:

1. Anak sebaiknya makan 3 kali sehari secara teratur dengan makanan tambahan saat pagi dan sore hari atau sebelum tidur.
2. Mendorong berbagai makanan dari kelompok makanan utama.
3. Mendorong anak untuk memiliki makanan ringan yang bergizi daripada banyak makanan dan minuman yang berlemak dan mengandung gula.
4. Mendorong anak untuk membuat pilihan makanan yang tepat di sekolah, atau menyediakan bekal makan siang yang sehat sebagai alternatif.
5. Mendorong anak untuk lebih aktif secara fisik.

Oleh : Adelia Ratnadita - detikHealth

Monday, January 16, 2012

Pak, Bu, Tolong Jangan Katakan Sembilan Hal Ini pada Anak Anda (4)

Memiliki dan membesarkan sang buah hati punya seni tersendiri. Apalagi, kata para pemerhati anak, tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tak jarang, kita terlalu yakin mampu membesarkan buah hati dengan cara sendiri. Ternyata, tidak semudah itu. Berawal dari komunikasi sehari-hari, perkembangan anak pun bisa saja terganggu. Nah, bapak dan ibu, ada kata-kata yang sebaiknya tidak Anda lontarkan untuk buah hati tercinta.
Apa itu?

''Tunggu Sampai Ayah Pulang!''

Kata-kata seperti ini tidak hanya merupakan ancaman yang lain, tetapi juga merupakan bentuk disiplin yang setengah hati. Ketika Anda tiba di rumah, boleh jadi anak telah lupa apa kesalahan yang mereka lakukan. Mendelegasikan tugas pada orang lain juga melunturkan 'kewenangan' Anda. Anak akan berpikir,''Mengapa saya harus patuh pada ibu jika dia tidak melakukan apa pun juga?'' Parahnya lagi, Anda akan membuat citra pasangan lebih buruk.

''Cepat, cepat''

Siapakah orang yang sibuk berat, kurang tidur, capek gara-gara macet, dan kena tekanan kerja yang tidak pernah melontarkan kata-kata seperti itu?
Jika Anda mulai mengeluh atau menghela napas setiap hari, hati-hati. Ada kecenderungan anak akan menangkap pesan bahwa mereka bersalah karena membuat orang tuanya lambat. Kesalahan itu membuat mereka merasa bersalah dan ternyata tidak juga membuat anak-anak bergerak lebih cepat.



''Hebat'' atau ''Anak Pintar''

Boleh jadi Anda bingung mengapa kalimat pujian seperti itu juga tidak mendidik. Tenang dulu, pujian memang alat efektif orang tua untuk mendongkrak percaya diri anak. Masalahnya, bila pujian ini terkesan berlebihan. Kata-kata ''Wah, hebat banget'' untuk hal-hal kecil yang anak lakukan seperti menghabiskan susunya menjadi tak berarti.

Lebih baik bila pujian itu diberikan untuk usaha keras yang anak-anak lakukan. Pujian karena menghabiskan susu yang bisa setiap saat mereka lakukan atau menggambar sesuatu karena si anak memang hobi menggambar boleh dibilang kurang berkesan pada anak. Alangkah baik bila pujian itu diberikan pada anak yang susah payah menyelesaikan tugas sekolah. Atau menghabiskan makanan hingga tandas, satu hal yang jarang si buyung biasa lakukan.

Redaktur: Endah Hapsari
Sumber: parenting.com

Pak, Bu, Tolong Jangan Katakan Sembilan Hal Ini pada Anak Anda (3)

Memiliki dan membesarkan sang buah hati punya seni tersendiri. Apalagi, kata para pemerhati anak, tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tak jarang, kita terlalu yakin mampu membesarkan buah hati dengan cara sendiri. Ternyata, tidak semudah itu. Berawal dari komunikasi sehari-hari, perkembangan anak pun bisa saja terganggu. Nah, bapak dan ibu, ada kata-kata yang sebaiknya tidak Anda lontarkan untuk buah hati tercinta.
Apa itu?

''Lho, Begitu Saja?''

Seperti membandingkan, ejekan yang diterima anak punya dampak efektif untuk menyakiti hati anak. Sangat efektif malah, melebihi yang pernah dibayangkan orang tua. Satu hal yang utama, anak mungkin saja tidak merasa lebih baik dengan diejek. Belajar adalah proses mencoba dan melakukan salah.
Kendati Anda mengejek setiap hari lantaran si anak terus melakukan kesalahaan, komentar Anda tidak akan produktif atau memberikan hasil lebih baik.
Alangkah baiknya bila komentar Anda,''Sepertinya Ibu lebih suka kalau kamu melakukan dengan cara seperti ini, sayang. Terima kasih...''

''Berhenti atau...''

Mengancam. Inilah bentuk rasa frustrasi orang tua. Tentu saja, ini pun tidak efektif. Apalagi, bila ancaman ini terkesan 'murah' alias sering kali diucapkan. Ancaman seperti itu lama-lama kehilangan kekuatannya. ''Hasil riset menunjukkan bahwa anak dua tahun yang kerap mengulangi kesalahan serupa di hari yang sama mencapai delapan persen, tak peduli disiplin seperti apa yang Anda terapkan,'' kata Murray Straus, sosiolog dari University of New Hampshire.
Redaktur: Endah Hapsari
Sumber: parenting.com

Pak, Bu, Tolong Jangan Katakan Sembilan Hal Ini pada Anak Anda (2)

Memiliki dan membesarkan sang buah hati punya seni tersendiri. Apalagi, kata para pemerhati anak, tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tak jarang, kita terlalu yakin mampu membesarkan buah hati dengan cara sendiri. Ternyata, tidak semudah itu. Ternyata, dari komunikasi sehari-hari, perkembangan anak pun bisa saja terganggu. Nah, bapak dan ibu, ada kata-kata yang sebaiknya tidak Anda lontarkan untuk buah hati tercinta.
Apa itu?

''Jangan Nangis''

Atau, kata-kata serupa seperti, ''Jangan cengeng'' atau ''Nangis melulu''. Padahal, untuk anak-anak yang belum dapat mengekspresikan emosi lewat kata-kata, mereka hanya dapat menyalurkannya dengan cara menangis. Adalah wajar, bila anak-anak merasa sedih atau ketakutan. ''Sebenarnya, wajar saja bila ortu ingin melindungi anak mereka dari perasaan-perasaan itu. Tapi, dengan mengatakan ''jangan'' tidak berarti anak-anak akan lebih baik. ''Ini juga akan memberikan kesan bahwa emosi mereka tidak benar, bahwa tidak baik untuk merasa takut atau sedih,'' ujar Debbie Glasser, direktur Family Support Services.
Lebih baik, katakan pada anak bahwa Anda memahami perasaan sedih yang dia alami. ''Ibu paham kamu takut dengan ombak. Ibu janji tidak akan melepaskan tanganmu lagi, Nak...''



''Kenapa kamu tidak bisa seperti saudaramu?''

''Lihat tuh, Doni rapi banget mengancing bajunya. Kok kamu tidak bisa?''
Para pakar menilai wajar orang tua membandingkan anak-anaknya. Ini akan menjadi referensi terhadap perkembangan anak-anak. Namun, tolong, jangan katakan ini di depan anak-anak. Ini karena tiap anak adalah individu yang berbeda. Mereka punya kepribadian tersendiri. Membandingkan anak dengan orang lain berarti Anda menginginkan anak Anda menjadi orang yang berbeda.
Redaktur: Endah Hapsari
Sumber: parenting.com

Pak, Bu, Tolong Jangan Katakan Sembilan Hal Ini pada Anak Anda (1)

Memiliki dan membesarkan sang buah hati punya seni tersendiri. Apalagi, kata para pemerhati anak, tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tak jarang, kita terlalu yakin mampu membesarkan buah hati dengan cara sendiri. Ternyata, tidak semudah itu. Berawal dari komunikasi sehari-hari, perkembangan anak pun bisa saja terganggu. Nah, bapak dan ibu, ada kata-kata yang sebaiknya tidak Anda lontarkan untuk buah hati tercinta.
Apa itu?

''Pergi sana! Bapak Mau Sendiri!''

Ketika Anda kerap melontarkan kata-kata ini pada anak, Suzette Haden Elgin, pendiri Ozark Center, mengatakan anak-anak akan berpikir tidak ada gunanya berbicara dengan orang tuanya karena mereka selalu diusir. ''Jika Anda terbiasa mengatakan hal-hal itu pada anak-anak sejak mereka kecil, biasanya mereka akan mengatakan hal serupa ketika dewasa.''

''Kamu Itu...''

Pelabelan pada anak adalah cara pintas untuk mengubah anak-anak. Jika seorang ibu mengatakan, ''Anak saya memang pemalu'', maka anak akan menelan begitu saja label itu tanpa bertanya apa pun. Apalagi, bila kita memberikan label buruk pada anak-anak, itulah yang akan melekat dalam benak mereka. Seumur hidup.

Redaktur: Endah Hapsari
Sumber: parenting.com

Friday, January 13, 2012

Bermain untuk Anak Prasekolah Penting untuk Kecerdasan

Anak-anak prasekolah di pusat penitipan anak tidak memiliki waktu bermain di luar yang cukup. Padahal aktivitas fisik bagi anak-anak di usia tersebut sangat bermanfaat untuk perkembangan kognitif dan kesehatan.

"Tiga perempat dari anak-anak Amerika usia 3-5 tahun di pusat penitipan anak kurang aktif secara fisik. Anak berusia 3-5 tahun harus lebih aktif secara fisik. Juga masih banyak anak yang tidak berada di pusat penitipan anak yang kurang aktif secara fisik," kata para peneliti.

"Kegiatan harian fisik sangat penting untuk anak-anak usia prasekolah baik untuk mencegah obesitas dan untuk perkembangan, yaitu perkembangan fisik dan perkembangan kognitif," kata Dr. Kristen Copeland dari Cincinnati Children's Hospital Medical Center, Ohio seperti dilansir dari CNNHealthNews, Kamis (5/1/2012).

Tim peneliti ingin mengetahui mengapa anak-anak kurang aktif. Studi tersebut telah melibatkan 34 fasilitas penitipan anak di Cincinnati. Para peneliti menemukan bahwa, pusat-pusat penitipan anak tersebut sering menekankan pembelajaran di kelas dengan mengorbankan waktu bermain di luar ruangan. Para ahli dariAmerican Academy of Pediatrics mengatakan bahwa, hal tersebut juga terjadi di banyak negara.

"Tetapi para guru mengatakan bahwa, orang tua anak, baik yang pendapatan tinggi dan berpendapatan rendah, tampaknya lebih peduli mengenai pembelajaran anak di kelas. Para orang tua anak kurang menganggap penting keterampilan dasar motorik anak mereka," kata peneliti.

"Ketika anak-anak berjalan, melompat, dan belajar naik sepeda roda tiga, mereka tidak hanya berolahraga untuk tubuh mereka. Tetapi mereka juga melibatkan kerja otak, itulah sebabnya mengapa bermain juga sangat penting untuk perkembangan kognitif anak," kata para ahli.

Peneliti menemukan kekhawatiran yang dialami oleh staf dan orang tua mengenai keamanan taman bermain. Kekhawatiran tersebut menyebabkan beberapa orangtua bahkan meminta anak mereka lebih banyak tinggal di dalam rumah. Faktor lain yang berkontribusi terhadap kurang bermainnya anak-anak adalah beberapa peralatan bermain kurang menantang atau menarik bagi anak-anak.

Keterbatasan anggaran juga menyebabkan beberapa pusat dari pembelian peralatan bermain tidak diperbarui atau menyediakan ruang yang memadai bagi anak-anak untuk bermain. Para ahli merekomendasikan bahwa, anak-anak prasekolah seharusnya mendapatkan 90-120 menit untuk aktivitas motorik sehari-hari, dan diambil di luar ruangan 2 kali sehari. Tetapi anak-anak hanya menghabiskan 2-3 persen dari waktu mereka selama hari 8 jam di pusat penitipan anak.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 17 persen anak-anak dan remaja antara usia 2-19 tahun mengalami obesitas, sehingga intervensi dini dengan lebih banyak aktivitas fisik adalah penting. Selain kegiatan pembelajaran anak di dalam kelas, mengeksplorasi bermain di luar juga sangat penting untuk perkembangan kognitif anak.

oleh :Adelia Ratnadita - detikHealth

Wednesday, January 11, 2012

Baikkah Anak Diberi Telur Tiap Hari?

, Telur adalah makanan berprotein tinggi yang mudah dan murah didapat. Untuk memenuhi kebutuhan protein anak, kebanyakan orangtua di Indonesia lebih mampu memberikan telur yang harganya terjangkau ketimbang daging, ayam atau ikan.

Karena kondisi keuangan yang terbatas, akhirnya orangtua memberikan makanan telur setiap hari ke anaknya. Tak perlu khawatir, karena makan telur setiap hari ternyata bagus untuk anak.

"Memberikan telur setiap hari untuk anak itu enggak apa-apa, bagus itu, yang penting adalah memberikan variasi," ujar Dr Samuel Oetoro, MS, SpGK, ahli gizi dari RSCM saat dihubungi detikHealth, Rabu (11/1/2012).

Dr Samuel menuturkan dalam putih telur mengandung protein hewani yang baik. Jadi kalau bisa setiap hari ada telur yang bisa dipadukan dengan protein hewani lain seperti ayam dan ikan, misalnya hari ini telur dengan ayam, besok dengan ikan.

Namun sebaiknya jangan sering-sering mengonsumsi telur yang digoreng, tapi bisa divariasikan dengan membuat telur rebus atau dicampurkan dengan bahan makanan lain misalnya dalam sayur sop, dicampur dengan bahan lain lalu dipanggang atau bisa memasukkan putih telur ketika membuat cemilan agar-agar untuk anak.

"Protein lain yang penting untuk dikonsumsi adalah protein nabati seperti dari tahu, tempe dan juga lengkapi dengan lemak sehat seperti dari kacang-kacangan dan juga alpukat," ujar dokter yang lahir di Jakarta, 20 Juni 1958.

Kandungan gizi dari sebutir telur terbilang cukup komplit karena mengandung protein hewani yang baik, vitamin A, asam amino esensial, vitamin D, vitamin B12 serta zat besi, dan juga kandungan kolesterol di bagian kuningnya.

Protein Penting Lain untuk Anak

Dr Samuel mengungkapkan prinsipnya adalah memberikan gizi yang seimbang dan harus lengkap untuk anak yaitu mengandung karbohidrat sekitar 50-60 persen dari jumlah kalori, protein sebesar 10-20 persen dan juga lemak sebesar 20-30 persen.

Jenis makanan karbohidrat yang dipilih sebaiknya yang kompleks sehingga penyerapannya bisa perlahan seperti nasi merah atau roti gandum. Sedangkan konsumsi karbohidrat sederhana seperti gula pasir sebaiknya dihindari atau dibatasi karena langsung diserap tubuh dan jika terus menerus anak bisa jadi diabetes saat remaja.

"Perbanyak juga karbohidrat dari buah dan sayuran serta yang berserat seperti dari oatmeal, untuk buah dan sayur memang harus dilatih agar anak mau makan," ungkap dokter yang juga berpraktik di MRCCC Siloam, Jakarta.

Sedangkan untuk cemilan, berikan makanan ringan yang sehat, misalnya membuat roti gandum yang ditambah sayuran di dalamnya, membuat cake atau kue dari oatmeal atau bisa juga memberikan bubur kacang hijau.

"Bubur kacang hijau itu bagus untuk anak karena mengandung protein, ada karbohidratnya juga serta mengandung serat. Bisa juga memberikan potongan buah yang dimakan langsung atau dicampur ke dalam agar-agar," ujarnya.

Oleh : Vera Farah Bararah - detikHealth

Monday, January 2, 2012

Empat Kebijakan Kemdikbud soal PAUD

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menyampaikan empat kebijakan mengenai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Menurutnya, kebijakan tersebut penting untuk menjamin akses dan mutu PAUD yang tumbuh diatas partisipasi masyarakat.

Ia mengatakan, hal pertama yang menjadi kebijakannya adalah penataan kelembagaan. Hal ini, katanya, penting dilakukan karena pemerintah hanya akan memberikan bantuan pada institusi PAUD yang resmi, dan jelas keberadaan, serta pelaksanaannya. Jika bantuan diberikan tanpa ada kejelasan status, kementerian khawatir hal itu akan memicu terjadinya penyimpangan.

"Kita harus membantu mekanisme penataan lembaga PAUD sesederhana mungkin. Lakukan penataan agar lembaganya menjadi resmi," kata Nuh seusai menghadiri Puncak Gebyar PAUD, Senin (12/12/2011), di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Kebijakan kedua, lanjutnya, terkait tutor pendamping, dan guru TK yang berpartisipasi dalam proses belajar mengajar PAUD. Ke depannya akan diatur dalam Undang-Undang (UU) Guru dan Dosen.

"Apakah para tutor itu harus S1 atau D4? Maka harus disiapkan standarnya. Bukan sekadar dari kualifikasi pendidikan, tapi juga kompetensinya. Atau bisa juga cukup tamatan setingkat SMA tapi diberi pelatihan," ujarnya.

Ketiga, jelas Nuh, kebijakan yang terkait dengan konten, isi dan bahan ajar. Kurikulum PAUD jelas tidak sama dengan kurikulum yang ada pada pendidikan dasar. Ia memaparkan, esensi PAUD merupakan sambungan neuron-neuron synapse yang terdapat dalam sel otak. Jadi, menurutnya, sangat penting jika kegiatan dalam PAUD diisi dengan kegiatan yang merangsang reaksi fisik dan pengenalan lingkungan.

Nuh menegaskan, kurikulum PAUD harus ditata ulang. Sebab, PAUD bukan untuk memperkuat basis kognitif, tetapi lebih kepada menyiapkan sel-sel neuron dengan berbagai pergerakan fisik.

"Misalnya, kita ajarkan tentang Ketuhanan, dikenalkan juga dengan interaksi sosial, dan lain sebagainya. Bangun suasana belajar yang menyenangkan, tapi semua harus sesuai porsi dan keadaan, jika tidak nanti bisa stress," ungkapnya.

Kebijakan PAUD yang ke empat adalah ketersediaan sarana dan prasarana.

"Tidak harus membangun gedung, karena kelas-kelas PAUD hanya sekitar 10-20 anak di setiap kelasnya. Bisa menggunakan fasilitas umum seperti balai RT/RW," kata Nuh.

Sumber:
kompas.com